"Tadinya kami mau syuting pakai iPhone," ujar Joko Anwar, sang sutradara, saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta, Senin (16/11). Beruntung, ada seorang kawan yang menanyakan alasan penggunaan iPhone itu.
Joko menjawab dengan jujur, ia tak punya duit. "Dia bilang, 'Ya ampun kasihan banget. Ya sudah gue pinjemin.' Alhasil kamera pun gratis," ujar Joko melanjutkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dibanding nomine lainnya, Joko mengaku filmnya kali ini mungkin menjadi yang paling "murah." Ia banyak dibantu orang lain saat membuatnya. Secara blak-blakan, Joko mengaku sumber dana pembuatan filmnya adalah hadiah kemenangannya di Busan International Film Festival, pada Oktober 2014.
Namun uang sejumlah itu saja tak cukup membuat sebuah film berkualitas. Soal peralatan, Joko serba meminjam. "Kamera dipinjemin, lampu juga pinjam," kata Joko.
"Pascaproduksi dibantu juga, gratis. Audio juga sama. Kemudian dibantu juga oleh Rooftop Sounds," Joko lanjut menyebutkan.
Rooftop Sounds adalah perusahaan yang ikut menaungi band Sore. Bembi, salah satu personel band itu, ikut andil mengisi lagu dan suara untuk film yang dibintangi Tara Basro dan Chicco Jerikho itu.
Tak cukup sampai di situ, Joko pun mendapat bantuan dari pemilik indekos yang menjadi lokasi pembuatan film A Copy of My Mind. Saat Joko kesulitan mencari busana untuk Ario Bayu yang mendadak direkrut, ibu indekos berbaik hati berkeliling mengetuk 100 pintu kamar indekos miliknya guna mencari jaket untuk Ario. Untung ada jaket kulit hitam yang cocok.
Ternyata Joko bukan cuma "tak modal" dari segi peralatan. Sutradara Modus Anomali itu juga berdalih "investasi" kepada para pemainnya karena tak punya dana membayar mereka. Untuk promosi pun, Joko tak bisa besar-besaran seperti film lain.
"Saya bilang ke para pemain mereka 'investasi,' baru akan saya bayar bila filmnya sudah menghasilkan uang," kata Joko. "Dan masuk FFI ini saya senang banget, media meliput berarti ada yang bantu promosiin," lanjutnya cengengesan.
A Copy of My Mind adalah film perdana dari rencana trilogi. Film ini menceritakan kisah romansa sekaligus drama antara Sari (Tara) dan Alek (Chicco). Sari yang berprofesi sebagai karyawan Salon harus menghadapi kenyataan berurusan dengan penjahat kelas kakap.
Film itu mendapat tujuh nominasi FFI 2015: Film Terbaik, Penata Musik Terbaik, Penata Suara Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, dan Sutradara Terbaik.
Namun, Joko justru tidak terlalu percaya diri. "Film yang lain bagus-bagus, sutradaranya juga, saya paling bawah lah di antara mereka," katanya merendah. (rsa/vga)