Diwawancarai Vice, personel sekaligus penggagas band, Jesse Hughes menceritakan betapa suasana malam itu sangat menegangkan. Ia bahkan sempat berhadap-hadapan dengan seorang penembak, satu dari tiga orang dengan senapan dan bahan peledak di tubuhnya. Beruntung ia bisa selamat.
Kata Hughes, seperti dilansir Reuters, segera setelah dirinya mendengar berondongan senjata, ia langsung berlari ke belakang panggung. Ia berniat mencari kekasihnya yang saat itu menunggu di ruang ganti. Namun, ia tak menemukan sang kekasih di sana. Hughes pun berlari ke jalan masuk menuju ruangan besar di gedung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Personel lain band itu tak ketinggalan menceritakan suasana mencekam di atas panggung. Mereka masing-masing berebut mencari pintu keluar. "Saya seperti terjengkang dari kursi saya. Dengan sangat cepat, serbuk mesiu mengenai hidung saya," kata drummer Julian Dorio, menggambarkan.
Sementara kru pengatur suara untuk band asal California itu, Shawn London, mengatakan dirinya sedang berada di belakang panggung saat penembak masuk dan langsung menembakkan senjata. "Seketika, orang-orang langsung berjatuhan. Terluka, tewas," ia menuturkan, tak bisa menyembunyikan syok.
Seorang penembak membidiknya, namun beruntung London sudah langsung beranjak. Ia masih mendengar peluru memecahkan pintu kaca saat dirinya berlari keluar ruangan.
Bukan hanya gedung Bataclan yang menjadi target serangan malam berdarah itu. Sekelompok pria bersenjata, yang akhirnya mengklaim sebagai ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) juga menyerang di beberapa lokasi lain. Malam itu, lebih dari 120 orang di Paris tewas dan ratusan lain luka.
Aksi brutal pada malam itu langsung dikutuk oleh banyak pesohor, termasuk musisi dunia. Hingga kini, masih ada beberapa musisi yang menunda atau membatalkan konser di Paris. (rsa/vga)