Selama ini, masih banyak orang, bahkan penggemarnya sendiri, yang salah kaprah perihal sifat dan kehidupan sang biduan semasa masih hidup.
Hal ini langsung diakui oleh sang sutradara film dokumenter, Asif Kapadia. Menurutnya, kesuksesan film yang dirilis pada 3 Juli 2015 itu telah menampik citra buruk Amy sebagai musisi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tato di sekujur tubuh Amy, kebiasaan Amy mengonsumsi obat-obatan terlarang serta alkohol, yang akhirnya merenggut nyawa Amy pada 2011 lalu, tentu saja membuat citra pelantun Back to Black itu kelam di mata publik.
"Saya pikir sekarang ini orang-orang memiliki pengetahuan yang cukup terkait Amy, dan juga rasa hormat kepada dirinya. Orang-orang menyukai suara Amy, namun banyak dari mereka yang tidak menghormati Amy sebagai insan manusia," jelas Kapadia sambil mengeluh.
"Namun, saat ini, banyak orang yang mencintai Amy sebagai seorang manusia, hal itu sangat luar biasa."
Amy berhasil menjadi film dokumenter terbesar ke-dua di Inggris, dengan meraup penghasilan sebesar 3,44 juta poundsterling. Namun Mitch, ayah kandung Amy, memprotes Kapadia karena tidak menunjukkan sisi "ceria" Amy dalam film dokumenter itu.
Maka dari itu, untuk menunjukkan sisi cerah dari kehidupan Amy, Mitch pun sedang menggarap film versinya sendiri tentang si anak kandungnya.
Selain itu, pada 28 Februari mendatang, film dokumenter Amy akan bertarung dengan film dokumenter lainnya di ajang penghargaan Academy Awards ke-88. (fad/vga)