Baru-baru ini, kecaman datang dari Adele. Sang pelantun Hello tidak mengizinkan calon pemimpin ke-45 AS itu untuk memakai karyanya dalam kampanye yang dilakukan.
Sebelumnya, Trump sempat memainkan lagu Adele Rolling In The Deep dan Skyfall dalam kampanye di Ohio belum lama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adele bukan satu-satunya musisi yang menjadi "korban" kenakalan Trump menggunakan lagu populer tanpa izin dalam kampanyenya. Grup musik legendaris AS, Aerosmith, juga menjadi "korban."
Vokalis sekaligus pentolan band rock itu, Steven Tyler, meminta Trump berhenti menggunakan lagu mereka dalam acara-acara kampanyenya sebagai bakal calon presiden dari Partai Republik. Dilansir dari Fox News, lagu Aerosmith yang dipakai Trump untuk berkampanye adalah Dream On.
Itu merupakan lagu dari album pertama Aerosmith yang dirilis pada 1973 silam.
Pengacara Tyler, Dina LaPolt telah mengirimkan surat kepada komite kampanye Trump mengenai hal tersebut. Disebutkan, Trump sama sekali tidak memiliki izin untuk menggunakan lagu-lagu Aerosmith.
Mengutip The Hollywood Reporter, ini sudah kali ke-dua Trump diberi peringatan untuk tidak menggunakan lagu Aerosmith. Sebelumnya, band pelantun I Don't Want to Miss a Thing itu sudah pernah meminta Trump tidak menggunakan lagunya setelah kegiatan 21 Agustus lalu.
Selain bermasalah dengan Adele dan Aerosmith, Trump juga sempat menggunakan lagu dari band R.E.M dan Neil Young tanpa izin. Hal tersebut membuat para musisi kesal dan akhirnya angkat suara.
"Masa bodoh dengan diri Anda yang haus akan kekuasaan dan perhatian," tulis Michael Stipe, vokalis R.E.M beberapa waktu lalu. Ia menambahkan dengan sindiran keras, "Jangan gunakan musik dan suara kami untuk parade kebodohan Anda." (rsa)