Sekilas, frasa "potongan senja" tampak tak masuk akal. Namun itulah yang tertulis dalam cerita pendek (cerpen) Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma, yang pernah dimuat di Harian Kompas pada Minggu, 9 Februari 1991.
Sejak pertama kali diterbitkan, hingga kemudian dibukukan, pada 2002, dengan judul sama, Sepotong Senja untuk Pacarku telah menarik perhatian penyuka sastra. Kini, 24 tahun kemudian, bukunya lantas dicetak ulang dan diluncurkan kembali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kali ini, ada sesi pembacaan sepenggal isi buku Trilogi Alina oleh Abimana Aryasatya yang memerankan Sukab, Butet Kartaredjasa sebagai Tukang Pos, serta Dian Sastrowardoyo sebagai Alina.
"Waktu saya muda, sering lihat Chaerul Umam dan itu bagus, saya heran saat ini tidak ada lagi. Maka saya coba mengenalkan lagi lah. Ternyata penampilannya sangat bagus," Seno memuji.
Pertunjukan dibuka dengan aksi Abimana yang membacakan secuplik kisah Sepotong Senja untuk Pacarku secara syahdu dan penuh romansa. Dikisahkan, pria bernama Sukab jatuh cinta setengah mati kepada Aliana.
Suatu kali, Sukab menemukan momen matahari terbenam yang sangat indah. Lalu, ia nekat "memotong" panorama alam nan indah kala senja itu dan mengirimkan potongannya kepada sang pujaan hati.
Demi mengantarkan keindahan cinta berupa senja kepada Alina yang tinggal di ujung dunia, Sukab menggunakan jasa pengiriman surat. Ternyata butuh waktu hingga sepuluh tahun bagi si tukang pos untuk mengantarkan surat ke tujuan, karena ia hanyut dalam keindahan senja dalam amplop. Kisah ini terangkum dalam Tukang Pos dalam Amplop.
Jawaban Alina menjadi klimaks dari perjalanan panjang senja yang dicuri Sukab hanya untuk menunjukkan kisah kepada wanita. Di babak ini, Dian dengan lantang menunjukkan perasaan dan tanggapan terhadap cinta Sukab.
Meski telah rilis sebelumnya pada 2002, ternyata butuh 14 tahun bagi kisah yang sering jadi inspirasi banyak surat cinta ini untuk hadir kembali.
"Kalau ditanya mengapa sekian lama baru terbit [lagi], penerbit tampaknya lebih tahu," kata Seno sembari tersenyum.
"Saya berkarya tidak mikir macam-macam, hanya mengikuti imajinasi saja. Saya mencoba berhumor dan ingin melihat tanggapannya bagaimana. Saya berharap barangkali orang masih suka tentang kisah Trilogi Alina ini," kata Seno. "Kalau ke depan akan seperti apa, ya saya buat yang lain."
Selain Trilogi Alina, isi buku Sepotong Senja untuk Pacarku juga ditambahkan dengan karya Seno lain yang membentuk kumpulan 16 variasi dan terbagi dalam tiga bagian.
Bagian pertama merupakan Trilogi Alina, kemudian bagian ke-dua adalah Peselancar Agung yang terdiri dari sepuluh kisah, serta bagian ke-tiga adalah rangkaian kisah Atas Nama Cinta.
(vga/vga)