Estetika Goresan Srihadi di Lembar Kertas

Silvia Galikano | CNN Indonesia
Jumat, 12 Feb 2016 16:34 WIB
Srihadi membuat dan mengarsipkan dengan baik karya-karya pada media kertas, berupa sketsa, gambar dan lukisan cat air. Bedaya Ketawang (2015) karya Srihadi Soedarsono. ((CNN Indonesia/Silvia Galikano)
Jakarta, CNN Indonesia -- Publik lebih banyak mengenal Srihadi Soedarsono sebagai pelukis selama rentang 70 tahun karier kesenimanannya. Sebetulnya dia juga membuat dan mengarsipkan dengan baik karya-karya pada media kertas, berupa sketsa, gambar, dan lukisan cat air.

Karya-karya bermedia kertas tersebut kini dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, bertajuk 70 Tahun Rentang Kembara Roso, pada 11-24 Februari 2016. Pembukaan pameran, pada 11 Februari, dibarengi dengan peluncuran buku Srihadi Soedarsono: 70 Years Journey of Roso.

Kurator Rikrik Kusmara mengungkapkan, pameran ini menampilkan 441 karya yang terbungkus dalam 347 bingkai yang dibuat sejak Srihadi berusia 14 hingga 84 tahun saat ini.

Mengkhususkan pada karya-karya dalam media kertas seolah menampilkan sisi lain yang tidak banyak  diketahui publik, seperti sketsa dan gambar Hotel Garuda Yogya (1946), sketsa Rapat Umum Bung Tomo Membalas Larangan Berbitjara (1947), gambar Granada, Spain (1977), sketsa Bedaya Keraton (1995), hingga gambar Pagan, Myanmar (2007).

Karya-karya sketsa, gambar dan lukisan cat air dengan karakter spontan ibarat catatan-catatan pengalaman “merasakan dan memaknai” berbagai peristiwa. Momen yang ingin segera digambarkan, selain memiliki nilai kontekstual.

Arsip yang disimpan sejak 1946, menunjukkan Srihadi muda yang berusia 14 tahun telah memiliki kemampuan membuat gambar dengan teknik yang sangat baik. Kemampuan menggambar ini ia kembangkan secara autodidak di masa kecil dan remaja.

Berbagai alat gambar dicoba, seperti pensil, arang, pastel, tinta, dan cat air, hingga dia terlatih memahami karakter material.

Pada saat bersamaan, Srihadi mengasah intuisi, yang di kemudian hari dipahaminya merupakan faktor “roso.” Roso adalah dimensi kompleks “cara penilaian” yang tumbuh dari nilai-nilai spiritual Jawa, nilai-nilai Islam, serta nilai-nilai universal kemanusiaan yang dipertemukan dengan otoritas subjektif dalam penilaian estetik.

Karenanya, mengkhususkan pameran pada karya-karya media kertas merupakan bentuk retrospektif untuk mengkaji kembali dimensi roso yang menjadi titik sentral Srihadi berkarya.

Srihadi (tengah, duduk, baju hitam) saat pembukaan pameran. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)

Pameran ini dibagi ke dalam berapa pengelompokan besar, yakni Sketsa; Perundingan Komisi Tiga Negara Kaliurang, 1948; Periode Bandung Bali 1952-1959; Periode Amerika Serikat Ohio State University, 1960-1962; Periode Perjalanan Mengamati Peradaban Dunia 1970-2006; Karya Program Singapore Tyler Prints Institute (STPI) 2005; dan Periode Perjalanan Asia 2006-2007.

Pembagian periode itu juga memudahkan pengunjung melihat Srihadi berkembang seiring makin sederhana tarikan garisnya.

Goresan-goresan sketsa di masa awal, baik dengan pensil maupun pena, punya karakter spesifik, yakni pembubuhan warna secara cepat, yang sebetulnya tanda-tanda khusus untuk dielaborasi lebih lanjut pada karya lukis pada kanvas.

Dalam seri Perundingan KTN Kaliurang, 1948, Srihadi yang saat itu sebagai Wartawan Pelukis Balai Penerangan Tentara Divisi IV, ditugaskan mendokumentasikan perundingan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia yang melibatkan Komisi Tiga Negara (KTN). Negara-negara tersebut adalah Belgia sebagai pilihan pihak Belanda, Australia sebagai pilihan Indonesia, dan Amerika Serikat sebagai pilihan ke-duanya.

Baca juga Srihadi, dari Pewarta Gambar hingga Ambasador Seni

Srihadi diberi waktu menggambar wajah masing-masing delegasi hanya pada jam istirahat, dan masing-masing cuma lima menit. Dengan alasan autentisitas dan kesadaran sejarah, seusai menggambar, Srihadi selalu meminta para delegasi untuk menandatangani karya-karyanya.

Karya-karya tersebut disimpan di Balai Penerangan di Solo. “Namun kemudian Balai Penerangan dibom Belanda. Untungnya Srihadi menyimpan sebagian karya sketsanya,” kata Rikrik.

Periode Bandung Bali 1952-1959 adalah saat beberapa kali Srihadi berkunjung ke Bali. Dia menyebut masa tersebut sebagai masa kontemplasi dan memikirkan kembali apa yang dia cari dari seni lukis.

Dalam “pencarian” tersebut, Srihadi menemukan jawaban esensial tentang alam (mikrokosmos dan makrokosmos) berupa penghadiran “garis” (dalam gambar) yang membentuk makna horizon.

"Hotel Garuda Yogya" (1946) karya Srihadi. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)

Logika “roso” ditemukan Srihadi saat kuliah magister di The Ohio State University (OSU), AS. Selama menjalani studi di sini, dia memiliki kebebasan bereksperimen dan melakukan eksplorasi. Dia juga merasa memiliki visi artistik yang lebih kuat, cermat, dan kritis tentang warna.

Sejak 1970-an Srihadi kerap melakukan perjalanan ke berbagai negara. Imajinasinya tentang “dunia Barat” saat masa kecil dan hasrat untuk terus menambah ilmu telah bertransformasi menjadi hasrat melihat dan menghayati dunia yang luas dan ragam peradaban.

Ia merekam dalam karya-karya yang umumnya menggunakan pendekatan cat air. Karya-karyanya secara estetis memperlihatkan pencarian unsur reduksi dan kesederhanaan.

Dia menorehkan kesan peradaban yang kompleks dengan garis-garis detail pada bentuk arsitektur bangunan kota di Eropa. Kesederhanaan ditunjukkan lewat kepekaannya dalam menempatkan warna cat air.

Baca juga Roso dan Kembara Garis Maestro Lukis Srihadi

Karya-karya pada periode ini banyak menampilkan tema lanskap dan cityscape dalam prinsip horizon, konsep yang telah bertransformasi dibanding awal saat di Bali, pada era 1950-an.

Borobudur, yang hampir selalu muncul dalam setiap periode berkarya, menunjukkan transformasi itu dari zaman ke zaman. Ada enam tema Borobudur yang ditampilkan dalam pameran ini, dari garis-garis yang menonjolkan detail dalam karya sketsa pada 1946, hingga Borobudur yang menonjolkan garis horizon sebagai simbol spiritualitas.

Melihat lengkapnya setiap periode besar terwakili dalam pameran ini, tak berlebihan jika Srihadi menyebut 70 Tahun Rentang Kembara Roso adalah pameran terbesar yang pernah dia lakukan.

(sil/vga)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER