"Terimakasih sama Tuhan kalau saya ini heteroseksual. Tapi saya sangat simpati pada mereka [homoseksual]. Saya bukan mendukung mereka tapi sangat simpati,” tuturnya pada CNNIndonesia.com saat ditemui di Grand Indonesia baru-baru ini.
Melonjaknya perbincangan soal LGBT di berbagai kalangan, seringkali menyudutkan kelompok minoritas itu. Roy merasa mereka seperti sedang dihukum hanya karena orientasi seksualnya berbeda. Padahal, itu tidak seharusnya terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena film itu mendidik masyarakat. Harusnya tidak boleh ada diskriminasi sikap pada mereka. Namun, tidak perlu didukung dan tidak perlu dihina. Jadi netral saja,” ujarnya. Representasi itu penting untuk menunjukkan bahwa eksistensi mereka ada.
"Kalau itu sebuah kesenian ya enggak apa-apa. Tapi kalau itu menjadi tren, saya juga keberatan," kata Roy memberi catatan.
Selama ini, masih sedikit film Indonesia yang berani mengangkat isu LGBT. Arisan! yang digarap Nia Dinata pernah secara ringan mengangkat fenomena itu. Lola Amaria mengangkatnya secara berani dalam film Sanubari Jakarta. Donny Damara memainkan transgender dengan apik dalam Lovely Man.
Dilema, film omnibus Wulan Guritno juga pernah menampilkan sekilas dua orang lesbian. (rsa/vga)