Idang, bersama dengan kelima anggota grup musiknya naik ke atas panggung Java Jazz Coffee tepat pada pukul 16.00 sore. Namun sayang, rasa bahagia Idang karena mendapatkan kesempatan manggung di perhelatan JJF ke-12 ini diwarnai oleh rasa duka.
Kepergian sang maestro Ireng Maulana yang meninggal kemarin (5/3), telah meninggalkan rasa duka yang dalam bagi Idang. Tak hanya itu, kakak kandung Idang meninggal dunia 35 menit sebelum Idang naik ke atas panggung.
Lihat juga:Kolaborasi Memikat di Java Jazz Hari Ke-Dua |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ireng, tonton pertunjukan saya!" kata Idang.
Kesederhanaan Idang sebagai musisi ia tampilkan dengan kemeja lusuh hitamnya itu, tak seperti musisi jazz lainnya yang terkadang memakai setelan jas rapih.
Jika dilihat dari penampilannya, Idang tampak seperti pria paruh baya yang sudah tidak bisa banyak beraktivitas. Namun, ketika ia sudah 'mengemudikan' pianonya di atas panggung, seluruh anggapan remeh terhadap dirinya hilang seketika.
Penonton pun tampak asyik menikmati panggung Java Jazz Coffee untuk menyaksikannya. Sang pianis beratraksi menghentakkan kakinya, menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa ia sangat menikmati permainan musik jazz-nya di atas panggung.
Lagu-lagu Idang dapat diibaratkan sebagai sebuah sungai, alirannya tak pernah sama, kadang cepat, kadang lambat. Durasi lagu yang dimainkan cukup panjang, sekitar 20 sampai 30 menit, namun tak membosankan.
Sang penggebuk gendang terus memainkan jarinya dan memukul gendang yang dibaluti kulit sapi, begitu pula dengan pemain trumpet, yang menjadi daya tarik bagi pengunjung JJF 2016 karena mengeluarkan suara-suara unik.
Nuansa timur yang terasa kental di lagu pertama hilang seketika. Di lagu kedua, alunan bass dan hentakan drum santai yang membuat para pengunjung seperti ada di teater musikal Broadway, New York.
Tidak hanya Idang, seluruh personel grup musiknya pun mengeluarkan ekspresi muka yang tak biasa, seperti sudah menyatu dengan instrumennya masing-masing. Terdengar teriakan-teriakan penonton yang terus menyemangati penampilan Idang pada sore itu.
"Ayo, Idang! Teruskan!" ujar salah seorang penggemar beratnya.
Walau usia Idang sudah mencapai 57 tahun, sekitar puluhan pengunjung yang meramaikan penampilannya didominasi oleh anak muda, mereka terlihat menikmati lantunan musik jazz khas Idang yang menghipnotis itu.Sesekali Idang melambaikan tangannya ke penonton, pun memberikan rasa hormat karena telah menonton dirinya.
Lagu ketiga akhirnya berkumandang, kali ini para pengunjung benar-benar 'dipaksa' untuk menari, berjingkrakan, serta berdendang. Idang mengajak penonton bertepuk tangan, memberikan tempo untuk sang pemetik bass yang asyik berdansa dengan contra bass-nya itu.
Lihat juga:Ireng Maulana Pernah Punya Album Pop |
Idang Tak Bisa Diam, Selalu Tersenyum
Terlepas dari rasa duka setelah ditinggal oleh dua orang penting dalam hidupnya, Idang terlihat atraktif di atas panggung. Dia jalan ke sana dan kemari, menghampiri dan memperkenalkan seluruh anggota grup musiknya.
Tak lupa senyuman ia lontarkan, seakan ingin menutupi rasa sedih yang mendalam. (yul)