Di antara selusin buku tersebut, ada penulis Indonesia, Eka Kurniawan dengan karyanya, Lelaki Harimau. Lainnya, ada penulis Raduan Nassa (Lebanon), Robert Seethaler (Austria), Elena Ferrante (Italia), Aki Ollikainen (Finlandia), José Eduardo Agualusa (Angola), Kenzaburō Ōe (Jepang), Marie NDiaye dan Maylis de Kerangal (Perancis), Han Kang (Korea Selatan), Orhan Pamuk (Turki), dan Yan Lianke (China).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sedang siap-siap mengantar anak ke sekolah, teman saya mengirim SMS, kabar yang mengejutkan, tapi saya tidak tahu harus bereaksi bagaimana,” kata Eka kepada CNN Indonesia.com saat ditemui di kawasan Jakarta Barat, pada Sabtu (12/3).
Saat diajak berandai-andai menjadi pemenang Man Booker International Prize, Eka mengelak. Dengan rendah hati, ia pun keberatan menjawab pertanyaan soal penggunaan hadiah selangit bila kelak menjadi pemenang.
Eka menyatakan, nominasi Man Booker International Prize di luar dugaan. Namun tak ingin terlalu memikirkannya. Eka merasa sudah cukup senang buku-bukunya diterjemahkan ke beberapa bahasa dunia dan diterbitkan di luar negeri.
Buku Lelaki Harimau sudah diterbitkan ke dalam bahasa Inggris, Italia, Korea, Jerman, dan Perancis. Tahun lalu, Eka juga dinobatkan oleh Jurnal Foreign Policy sebagai salah satu dari 100 pemikir paling berpengaruh di dunia.
"Lelaki Harimau adalah novel ber-genre sci-fi, memberi cerita detektif tetapi korban dan pembunuhnya sudah ketahuan sejak kalimat pertama," tutur Eka yang juga aktif sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta. "Apa yang kemudian dicari pembaca? Pasti motifnya, itu tantangan kreatif bagaimana mempertahankan pembaca, bermain tebak-tebakan."
(vga/vga)