Namun tahun ini, dua pasang pahlawan super yang seharusnya satu visi soal menyelamatkan dunia, justru bertarung satu sama lain. Yang pertama, pasangan Batman dan Superman, pahlawan DC.
Dalam film yang akan tayang di dunia 25 Maret mendatang, kedua pahlawan super yang punya jubah ikonik itu harus saling menyerang. Pertarungan mereka disebut perang "Dewa" dan "manusia."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perang mereka mengejutkan, mengingat bagaimana keduanya satu tim--meski sering beradu mulut--dalam Avengers. Film-film mereka pun berjaya di box office. Apa jadinya jika mereka berperang?
Cerita pahlawan super yang saling berperang itu bukan tidak mungkin mencerminkan kondisi sosial yang sesungguhnya. Seperti ketika, mengutip Reuters, komik Superman pada 1938 sering dirasa sebagai jawaban bagi masyarakat Amerika yang membutuhkan pahlawan selama masa depresi itu.
"Teori" itu diamini pula oleh Jesse Eisenberg, yang dalam Batman v Superman memainkan Lex Luthor. Menurutnya, Batman v Superman, terutama karakternya, mungkin saja refleksi Amerika hari ini.
Luthor sendiri digambarkan Eisenberg sebagai sosok klasik yang ketakutan terhadap asing. Itu terlihat dari kengeriannya terhadap Superman yang merupakan makhluk dari planet asing. Ketakutan Luthor perlahan dirasukkan ke dalam ketakutan masyarakat.
"Saya pikir jika Anda melihat yang lebih buruk, diskursus politik yang terjadi di negara kita belakangan ini, Anda akan melihat lapisan itu," ujar Eisenberg membandingkan Luthor dengan Amerika. (rsa)