Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menggunakan data Gramedia dengan pertimbangan jaringan toko buku ini adalah yang terbesar dan sedikit banyak dapat mewakili keseluruhan toko buku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Acara itu membuat kita tersadar, ternyata peminat buku di Indonesia besar, minat terhadap buku impor tinggi, dan bacaan berbahasa Inggris bukan lagi kendala. Selama ini, kita hanya memberi perhatian pada buku berbahasa Indonesia,” ujar Ketua IKAPI Rosidayati Rozalina saat ditemui CNNIndonesia.com di kantor IKAPI, Jakarta, pada Senin (16/5).
Ida, sapaan akrab Rosidayati, menyebut di ranah buku remaja, yang paling laku adalah buku religi. Sebagai contoh, dalam helatan Islamic Book Fair pada 26 Februari–6 Maret 2016, ada satu judul buku remaja yang, dari sembilan hari penyelenggaraan, laku sembilan ribu eksemplar.
“Karena buku remaja itu bercerita kehidupan remaja, ditulis remaja, dan menggunakan bahasa mereka. Yang seperti itu disukai remaja karena sesuai kebutuhan mereka,” ujarnya.
Karena itu, ujar Ida, cita-cita idealistis yang ingin mencerdaskan kehidupan bangsa melalui buku-buku bermutu akan dapat diterima remaja jika cocok dengan formula tersebut.
Pemilik penerbit dan percetakan PT Remaja Rosdakarya Bandung ini mengungkapkan sekarang sedang terjadi kelesuan pasar perbukuan global, termasuk Indonesia.
Belum dapat disimpulkan apa penyebab kelesuan tersebut. Era digital memang mengakibatkan banyak waktu dihabiskan di media digital, tapi bukan e-book, karena masih sangat sedikit angkanya.
Kondisi ini memunculkan ide kreatif toko buku dan penerbit untuk menyiasati sekaligus bertahan. Penerbit Mizan, misalnya, bekerja sama dengan BBWB hingga ampuh menghabiskan stok buku yang mengendap di gudang. Gramedia mengecilkan space rak buku di toko buku dan menggantinya dengan, misalnya, kafe serta menjadikan toko buku sebagai bagian dari gaya hidup.
Ketua IKAPI Rosidayati Rozalina. (Dok. Pribadi) |
Kabar baiknya, ujar Ida, kreativitas membuat penulis, penerbit, dan toko buku Indonesia bertahan di tengah kelesuan global. Jika dibandingkan Malaysia, yang sudahlah minim penulis, minim pula buku produksi lokal. Kemampuan rata-rata rakyat Malaysia berbahasa Inggris kali ini jadi petaka.
Masyarakat Malaysia lebih mengandalkan buku impor dan tak banyak membuat buku berbahasa Melayu. Berbeda dengan Indonesia yang banyak buku dihasilkan ilmuwan, selain produktivitasnya tinggi.
“Mereka lebih kagum pada kreativitas dan produktivitas Indonesia,” kata Ida. “Terkait buku agama, mereka lebih konservatif. Islam kita lebih moderat, sahabat Nabi masih bisa digambarkan, sedangkan mereka tidak. Banyak aturan yang membatasi mereka.”
Peluang ini memungkinkan Indonesia memasarkan buku di sana, seperti buku perguruan tinggi, buku agama, buku anak, buku kesehatan, dan buku-buku sastra.
(vga)
Ketua IKAPI Rosidayati Rozalina. (Dok. Pribadi)