Laporan dari London

Musik Kota Kembang Bergaung Hingga Tower Bridge

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Senin, 30/05/2016 15:37 WIB
Musik Kota Kembang Bergaung Hingga Tower Bridge Penampilan band asal Bandung, Speaker First, di acara Indonesian Weekend di Potters Field Park, London, pada Sabtu (28/5). (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)
London, CNN Indonesia -- Terdapat banyak kesamaan antara kota London dan Bandung. Selain soal cuaca, juga tentang musik. Bisa dibilang, kedua kota ini melahirkan banyak musisi yang terkenal.

Beruntungnya di Indonesia, tidak hanya budaya pop yang ada, namun juga budaya tradisional. Keduanya mampu bersanding dan saling mendukung satu sama lain.

Hal ini terlihat dalam panggung di ajang pameran kesenian dan kebudayaan Indonesian Weekend yang berlangsung di Potters Field Park, London, pada Sabtu (28/5) dan Minggu (29/5).


Secara bergantian, band Speaker First dan kelompok instrumen daerah, Uwi dan Iman Jimbot, mengisi acara selama dua hari berturut-turut.

Kedua kelompok musik ini sama-sama mengaku bangga setelah diajak tampil di London, meski acaranya masih terbilang sederhana.

Bagi mereka yang telah bermusik sejak lama, kota itu ialah kiblat musik dunia.

Jika Speaker First tampil gaya dengan jaket kulit dan celana skinny, maka Uwi dan Iman Jimbot tampil sederhana dengan kostum ala pendekar Si Buta dari Gua Hantu.

Sebagai musisi tradisional, Uwi dan Iman Jimbot mendapat apresiasi yang tidak kalah meriah dari Speaker First.

Sebelum bisa diajak duduk bersama untuk wawancara, mereka harus menuntaskan dulu obrolan dengan sejumlah pengunjung yang tertarik dengan penampilannya.

"Dari kemarin apresiasinya bagus. Kebanyakan yang tertarik itu mahasiswa musik, mungkin karena alat musik kami sangat antik ya," kata Uwi, yang merupakan anak didik mendiang Harry Roesli, saat diwawancara oleh CNNIndonesia.com.

"Mereka banyak bertanya soal hal yang teknis seperti ketukan nada. Ah, saya mah mana ngerti atuh urusan begituan, yang penting mah main terus enak didengar saja," ujar Iman sambil tertawa.

Tak hanya membawakan lagu daerah seperti Es Lilin, Uwi dan Iman Jimbot juga membawakan lagu-lagu populer musisi dunia.

Itu dilakukan agar penonton bisa tahu kalau alat musik uzur seperti kecapi, kendang, suling dan kebab juga bisa diajak muda.

"Musik itu selalu berkembang, kami pun harus mengikutinya. Kalau Inggris musisi tradisionalnya itu adalah The Beatles, maka Indonesia punya kami," kata Uwi.

"Sebisa mungkin kami ingin menunjukkan, kalau menjadi musisi tradisional itu tidak akan berujung hanya di pameran atau museum," lanjutnya sambil tertawa.

Dengan semangat yang sama, Speaker First tampil menawan di atas panggung. Sebagian besar pengunjung di Potters Field Park dan Tower Bridge langsung berhenti melangkah begitu melihat penampilan Beni Barnady (gitar), Boni Barnaby (gitar) dan Mahattir Alkatiry (vokal).

Bukan bermaksud untuk mengecilkan musik daerah, namun mereka tampil dengan semangat pembuktian kalau ternyata budaya lokal juga berkembang dengan pesat di Indonesia.

"Salah satu persiapannya, kami membawakan banyak lagu kami yang berbahasa Inggris. Hal ini dimaksudkan agar tidak ada jurang antara bahasa yang begitu jauh," kata Boni saat diwawancara oleh CNNIndonesia.com.

"Selebihnya lagu yang dibawakan berbahasa Indonesia. Tapi apresiasinya tetap seru tuh," lanjutnya sambil tersenyum.

Seusai tampil, Beni, Boni dan Attir dikerumuni banyak pengunjung, yang selain meminta berfoto bersama juga memuji penampilannya.

"Mereka banyak yang kaget kalau di Indonesia ada band segarang kami. Hahaha," ujar Attir sambil tertawa.

"Bisa tampil di kota musik London sepertinya memang impian seluruh musisi di Indonesia ya," lanjutnya.

Berbicara mengenai kota musik, Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, pernah memiliki rencana untuk menjadikan kota Kembang sebagai salah satu kota musik.

Beberapa yang harum namanya sampai ke dunia ialah Mocca, Tesla Manaf, The SIGIT, Burgerkill hingga Karinding Attack. Tak ketinggalan komunitas musik underground bernama Ujungberung Rebels yang sempat menjadi perbincangan.

Baik Uwi, Iman Jimbot dan Speaker First sudah mengetahui sejak lama rencana ini. Walau tetap mendukung, tapi mereka sepakat meminta pemerintah kotanya untuk memperhatikan fasilitas penunjangnya.

"Kami sih mendukung saja, tapi memangnya sudah tersedia fasilitasnya? Kalau soal lokasi konser, studio musik, atau apa pun yang berhubungan dengan musik sudah jelas adanya, maka Bandung baru bisa disebut kota musik," kata Iman Jimbot. (ard/vga)




ARTIKEL TERKAIT