Ulasan Film

Mencari Dory, Menemukan Arti Keluarga

Munaya Nasiri, CNN Indonesia | Jumat, 17/06/2016 07:05 WIB
Mencari Dory, Menemukan Arti Keluarga Dory mencari orang tuanya dalam Finding Dory. (Pixar Animation Studios)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Keep swimming, keep swimming."

Dengan jargon yang mengandung semangat positif itu Dory (Ellen DeGeneres) membantu Marlin (Albert Brooks) menemukan putranya Nemo dalam Finding Nemo (2003). Mereka berkelana sampai ke perairan Australia.

Tapi bagaimana dengan Dory sendiri?


Sudah lama ikan ikonik berwarna biru itu tidak kenal orang tuanya. Apalagi ia punya kondisi memori yang cepat lupa. Kini dalam Finding Dory (2016), giliran Marlin dan Nemo (sekarang disuarakan Hayden Rolence) yang membantu Dory menemukan orang tuanya.

Perairan demi perairan lagi-lagi mereka jelajahi. Kali ini mereka menuju The Jewel of Morro Bay, California. Di sana Marlin dan Nemo mencoba membuat Dory mengingat hal sekecil apa pun tentang orang tuanya.

Namun Dory mendadak terpisah dari Marlin dan Nemo. Ia yang mudah terdistraksi, tertangkap tangan manusia dan berakhir di Monterey Marine Life Institute, sebuah tempat karantina bagi ikan-ikan yang sakit.

Di sana ia bertemu gurita berkaki tujuh Hank (Ed O'Neill), paus betina yang rabun dekat Destiny (Kaitlin Olson), dan paus Beluga yang kehilangan kemampuan biosonar bernama Bailey (Ty Burrell). Mereka kini membantu Dory bukan hanya untuk menemukan keluarganya, tetapi juga Marlin dan Nemo.

Seperti dalam film sebelumnya, lika-liku harus mereka lalui terlebih dahulu. Tapi justru itulah yang membuat masing-masing belajar.

Andrew Stanton sebagai sutradara lagi-lagi menghadirkan pengalaman dari sudut pandang makhluk laut. Konten kekeluargaan masih terasa kental, bahkan lebih mengharukan. Dory yang selama ini dikenal ceria dan cuek, bisa menularkan arti keluarga.

Di balik sikap riang Dory, ia punya kepedulian tinggi pada sahabat-sahabatnya, bahkan seluruh makhluk laut. Padahal, dirinya sendiri nyaris tak pernah mengenal orang tua.

Tapi di sisi lain, keceriaan Dory sangat menghidupkan film. Celotehannya yang cerewet mampu menutupi kesedihan yang sebenarnya ia rasakan. Ingatannya yang pendek pun masih sering membuat tertawa.

Stanton tidak salah menjadikan Dory karakter utama dalam sekuel yang rilis 13 tahun setelah film pertamanya itu. Dari segi visual pun, Finding Dory terasa sangat enak ditonton. Animasi 3D-nya terasa nyata.

Kisah Dory sudah dapat disaksikan di jaringan bioskop Indonesia mulai hari ini, Kamis (16/6).

Khusus di Indonesia, film itu akan hadir dalam dua bahasa. Versi Indonesia disulihsuarakan oleh dubber profesional. Tapi penonton juga bisa mendengar suara Syahrini sebagai Destiny dan Raffi Ahmad yang menjadi Bailey.

Di satu sisi, bahasa Indonesia bisa membuat anak-anak Indonesia lebih cepat memahami ceritanya. Namun di sisi lain, bagi penonton yang lebih dewasa itu justru melemahkan kekuatan asli cerita karena terdengar aneh.

Silakan memilih sebelum masuk bioskop, menonton Finding Dory atau Mencari Dory. (rsa/vga)