Baru 3 Bulan, 'AADC 2' Sudah Ada di Layanan Streaming

Munaya Nasiri, CNN Indonesia | Selasa, 26/07/2016 18:23 WIB
Baru 3 Bulan, 'AADC 2' Sudah Ada di Layanan Streaming AADC 2 sudah bisa ditonton streaming. (Dok. Miles Film)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pencinta film yang ketinggalan lanjutan kisah asmara Rangga dan Cinta di layar lebar masih punya kesempatan menontonnya, meski tidak lagi di bioskop. Ada Apa dengan Cinta? 2 akan tayang eksklusif di layanan video on-demand HOOQ.

"Mulai hari ini, film AADC 2 bisa disaksikan di HOOQ," ujar Guntur S. Siboro Country Head HOOQ di Jakarta, Selasa (26/7). Sampai setahun mendatang, AADC 2 hanya bisa disaksikan di situ.

Film yang dibintangi Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo itu baru tayang di bioskop 28 April lalu. Tapi dalam satu setengah bulan, penontonnya sudah mencapai 3,6 juta. Sampai Juli ini, AADC 2 adalah film Indonesia terlaris sepanjang 2016.


Tapi yang mengejutkan, tak perlu waktu lama untuk menyaksikan AADC 2 melalui platform media lain. Waktu tiga bulan untuk muncul di HOOQ terbilang cepat, karena biasanya film Indonesia harus menunggu empat bulan untuk bisa ditonton secara legal di layar kaca.

Tapi menurut Dian, waktu itu sudah terbilang cukup. Ia berpendapat, dirilisnya AADC 2 di layanan streaming tiga bulan setelah tayang di bioskop tidak akan membuat orang malas melangkahkan kaki ke layar lebar. "Makanya kita tunggu tiga bulan. Mbak Mira pasti juga sudah mempertimbangkan dengan matang," tutur ibu dua anak itu.

Itu bahkan bisa jadi cara bagus mengurangi pembajakan. "Lebih baik orang menonton lewat ini dibanding mereka harus menonton secara ilegal, kan? Kalau nonton ilegal dia enggak jelas, resolusinya juga jelek. Jauh lebih baik menyuguhkan film dengan cara ini," tutur Dian.

Selama ini, Guntur menerangkan, film-film Hollywood baru muncul di saluran televisi berbayar minimal 18 bulan setelah tayang. Itu terlalu lama. "Sehingga yang ilegal sudah muncul duluan," ujarnya. Dengan jarak penayangan yang lebih pendek, pembajakan pun bisa dikurangi.

Melalui layanan itu, penonton masih perlu membayar untuk berlangganan. Per bulan tak sampai Rp50 ribu. Pelanggan sudah bisa menikmati film lokal, internasional, juga serial televisi.

Agar layanan itu tidak 'mengganggu' pendapatan film di bioskop, Guntur pun sudah menerapkan strategi pemasaran yang menghormati layar lebar. "Kami tidak pernah mengumumkan bahwa AADC 2 [misalnya] akan tayang di sini. Kalau diumumkan, orang akan malas ke bioskop," ujarnya.

Guntur maupun Dian tidak menyebutkan bagaimana pembagian keuntungan antara rumah produksi dengan aplikasi yang baru diluncurkan April lalu itu. "Yang jelas negosiasi dan pembayaran itu tidak berdasarkan klik," Guntur menerangkan.

Katalog film Indonesia menjadi andalan Hooq (CNN Indonesia/Susetyo Dwi Prihadi)

Menurut Mira Lesmana sebagai produser AADC 2, cara itu bisa menjadi alat filmnya menjangkau kalangan yang lebih luas. Mungkin ada yang melewatkan film itu April lalu, atau tinggal di daerah pinggiran yang tidak punya bioskop.

"Sulit meraih penonton dengan jangkauan luas," kata Mira, yang diwawancara melalui telekonferensi. "Masyarakat Indonesia juga bisa menghargai insan perfilman dengan fasilitas ini."

Sementara bagi Nicholas, tayangnya AADC 2 secara streaming bisa dijadikan kesempatan bagi penonton untuk lebih fokus memerhatikan detail film. "Bisa lebih fokus dengerin lagunya, atau lihat detail pakaian, atau puisi-puisinya," katanya.

Pelanggan bahkan bisa menonton AADC 2 secara offline. Tapi, dokumennya hanya bisa diunduh terbatas untuk mencegah adanya pembajakan. "Bisa diunduh, tapi cuma bisa dimainkan di player HOOQ. Enggak ada file-nya. Jadi kita punya digital right management yang ketat," kata Guntur lagi. (rsa/vga)