Salah satu sahabat Eddy, Dian Piesesha tak kuasa menahan tangis ketika datang ke rumah duka. Jenazah Eddy saat ini masih disemayamkan di Rumah Duka RS Fatmawati, sebelum Sabtu esok dibawa pulang dan dikebumikan di Jagakarsa.
Dian mengaku sedih karena belum sempat bertemu sahabat yang sudah dianggapnya seperti abang sendiri itu. "Saya enggak sempat ketemu Abang sebelum meninggal. Padahal tadi malam saya sudah mau ke sini. Tp apa daya kaki saya lagi kumat dan sakit," kata Dian kepada media.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu, Marco Christaldy Silitonga putra sulung Eddy menerangkan bahwa kondisi ayahnya drop usai membangunkan putri bungsunya, Nadra dan Nafra.
"Rabu pagi, sekitar pukul 05.00 Bapak bangunin adik saya, kemudian lidahnya sudah seperti orang cadel terus lemas, saat ingin berdiri seperti mau jatuh. Tapi untung ditahan adik saya," kata Marco waktu itu. Saat itulah Eddy langsung dilarikan ke rumah sakit.
Eddy masuk ruang perawatan intensif. Kondisinya pun kritis selama beberapa jam. Tapi dokter tanggap menanganinya.
Eddy pun sempat membaik, namun kondisinya memang sudah gagal jantung stadium empat, menurut dokter Chamim dari RS Fatmawati yang menanganinya. Meninggal dini hari tadi, Eddy rencananya dimakamkan Sabtu (27/8) mendatang di TPU Kampung Kandang, Jagakarsa. Sebelum dimakamkan ada beberapa acara yang dilakukan.
"Acara mungkin besok atau pas hari terakhir sebelum pemakaman. Acara itu nanti pakai adat Batak. Kelanjutannya seperi apa kami belum tahu pasti karena masih akan dibahas oleh keluarga," kata Marco menerangkan. (rsa/rsa)