Dari empat seri lukisan yang dibuat dalam rentang 1893-1910 tersebut, adalah yang ada di Museum Nasional Norwegia yang paling mencuri perhatian. Bukan hanya karena lukisan itu merupakan versi pertama, tapi juga karena adanya cipratan putih misterius yang terdapat di bagian bahu kanan sosok di dalam lukisan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari situs web mirror, mereka menemukan bahwa cipratan putih dalam lukisan adalah lelehan tetesan lilin, yang kemungninan jatuh dari lilin di studio Edvard.
Mesin ini sebelumnya juga digunakan untuk menganalisa lukisan Van Eyck, Rubens dan Van Gogh.
Hasil pemindaian menunjukkan bahwa lukisan itu tidak mengandung pigmen atau kalsium. Tim kemudian membawa sampel mikro dari cipratan putih dan mengirimkannya untuk dianalisa di Hamburg.
Frederik Vanmeert, salah seorang mahasiswa PhD, mengatakan, "Saya mengenali pola difraksi lilin setelah menganalisa lukisan beberapa kali."
Di masa silam, sejumlah seniman menggunakan lilin lebah atau bahan yang sama pada lukisan yang rapuh untuk mencegah lukisan rusak, atau menempelkannya pada kanvas baru di belakang lukisan lama. Akan tetapi, kasus berbeda terjadi pada 'The Scream.'
"Kotoran burung bisa saja jatuh di tugu, patung dan mobil, akan tetapi tidak ditemukan di lukisan ini," ujar Dr Van der Snickt. "Menjadi hal yang tak terduga ketika ilmu pengetahuan ilmiah akan ada berhubungan dengan dunia seni," ujarnya.
Mengungkap misteri cipratan putih di lukisan 'The Scream' membuktikan bahwa disiplin ilmu tertentu sama pentingnya dengan yang lain. Seperti forensik, penggunaan teknologi canggih dalam mengungkap karya seni ikonik dunia, berpotensi memberi pencerahan. (rah/rsa)