Tidak jarang, banyak masalah yang belum terselesaikan. Salah satunya ialah soal penggusuran lahan hijau atas nama turisme yang semakin meresahkan di Bali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitulah yang secara singkat dikatakan Made Anggir, salah satu petani di kawasan Ubud yang diwawancara dalam film dokumenter pendek berjudul Sawah, karya dokumentaris asal Inggris, Marko Randelovic.
Sawah bukan film dokumenter pertama Randelovic. Sejak merantau ke Indonesia pada Juni, ia sudah membuat beberapa film dokumenter yang bisa disaksikan di situsnya, markorandelovic.com.
Namun, film Sawah bisa dibilang karyanya yang patut diperhatikan, walau sebenarnya yang diceritakan bisa lebih menarik jika dipaparkan lebih dalam.
Berkolaborasi dengan komunitas yang juga prihatin dengan penggusuran sawah dan ladang di Bali, SawahBali.org, pemuda berusia 25 tahun ini mencoba menyampaikan pesan; bahwa kelestarian lahan hijau tidak akan tergantikan dengan uang penggusuran Rp500 juta, demi membangun bangunan baru tempat turis bisa asyik mengunggah selfie-nya selama liburan di Bali.
Dalam waktu produksi dua minggu, ia dan tim kecilnya memelototi rutinitas Made Anggir, yang mungkin luput dari perhatian ratusan juta penduduk, termasuk pejabat pemerintahan, di Indonesia.
Gambar-gambar pemandangan sawah terasering berpadu dengan pernyataan-pernyataan menarik dari Made Anggir, tentang kegiatannya bersawah, penawaran uang penggusuran dari investor dan cerita legenda kesakralan tanah Bali.
"Sulit untuk mengungkap semua masalah yang terjadi atas isu lahan hijau di Bali, karena film ini memang hanya dibuat selama lima menit. Tapi saya memilih untuk mengungkapkan garis besarnya dengan durasi seminim mungkin, agar film ini tetap menarik untuk ditonton," kata Randelovic, saat diwawancara oleh CNNIndonesia.com pada Selasa (13/9).
Saat ini, film Sawah telah disaksikan sebanyak 124 ribu kali semenjak diunggah di akun Facebook Randelovic pada Agustus.
Sejumlah pemberitaan pun telah ditulis atas isu yang muncul dalam film ini. Perdebatan tentu saja muncul, tapi pemuda dengan latarbelakang pendidikan jurnalisme dan politik ini merasa tidak perlu ambil pusing.
"Salah satu tujuan saya ialah mengungkapkan isu ini ke ranah yang lebih luas. Perdebatan mungkin menjadi salah satu jembatannya. Bali adalah tempat yang indah. Ya, semoga ini menjadi salah satu cara saya untuk membantu menyelamatkannya," ujar Randelovic menutup pembicaraan.
Randelovic sudah pasti bukan orang pertama yang mengkhawatirkan eksploitasi lahan hijau di Tanah Air. Jerinx 'Superman Is Dead' sebelumnya juga sudah berteriak soal penolakan reklamasi di Tanjung Benoa.
Tapi setidaknya, film Sawah menjadi salah satu pengingat, agar penduduk Indonesia tidak lupa untuk memerhatikan tanah dan air yang menghidupinya.
(ard)