Mereka ditangkap karena memamerkan buku berbau komunisme dalam pameran yang digelar di Jakarta Convention Center, 28 September sampai 2 Oktober 2016. Empat orang tersebut kini sudah kembali ke Malaysia.
Menurut Kulistyarini, buku-buku yang dipamerkan dalam acara itu sebenarnya sudah diatur. Peraturannya dijelaskan kepada para peserta pameran dalam pertemuan teknis yang dilangsungkan sebelum acara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kulistyarini menuturkan, menurut Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), selama ini belum pernah ada klausal yang secara khusus mengatur pelarangan gambar palu arit dalam acara pameran-pameran buku internasional.
Namun Indonesia sendiri masih punya aturan yang melarang penyebaran ajaran komunisme, Marxisme, dan Leninisme di beberapa pasal.
Sebelumnya, kepolisian menangkap empat warga negara Malaysia yang menjadi peserta IIBF di Jakarta Convention Center, Jakarta, Sabtu (1/10) lalu. Buku berjudul Manifesto Komunis, Karl Marx dan Friedrich Engles bersampul palu arit, dengan warna merah-putih menjadi dasar penangkapan tersebut.
Empat warga Malaysia itu adalah Zul Fikri Zamir (31), Sakri (51), Mohamad Rozla (46), dan Khairul Nizam (45). Polda Metro mencatat Zul Fikri sebagai perwakilan penerbit Thukul Cetak. Di dunia sastra, Zul Fikri dikenal antara lain karena menulis Sekolah Bukan Penjara, Universiti Bukan Kilang.
Sementara itu, Sakri dicatat sebagai penyewa lapak. Rozla dan Khairul disebut bekerja sebagai penjaga booth. Pelaporan didasari laporan masyarakat sebelumnya, soal adanya buku bergambar palu arit di pameran.
Berdasarkan pemeriksaan sementara, kata Awi, keempat warga Malaysia tersebut tidak mengetahui adanya larangan penyebaran gambar palu arit di Indonesia. "Mereka tidak tahu kalau palu arit di Indonesia itu sensitif."
Malaysia bukan hanya kali ini berpameran di IIBF yang digagas IKAPI. Tahun ini Negeri Jiran itu menjadi tamu kehormatan di pameran yang terselenggara berkat kerja sama dengan sejumlah lembaga pemerintah seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemprov DKI Jakarta.
Mengutip situs IIBF, negara itu membawa 18 penerbit ke JCC, termasuk Thukul Cetak. (rsa)