Mengutip Reuters, The Sellout merupakan buku satire tentang rasialisme di Amerika Serikat. Buku itu bercerita lewat tokoh utama yang disebut Bonbon. Ia berusaha meletakkan kembali kotanya, California, ke dalam peta. Sebelumnya, diceritakan kota itu telah dihapus dari peta secara resmi melalui perbudakan dan pemisahan diskrinatif di sekolah menengah.
Novel setebal 289 halaman itu diawali dengan Bonbon berada di pengadilan. Ia kemudian flash back ke sebuah momen yang membuatnya berada di titik yang sekarang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upaya Beatty menulis The Sellout dipahami betul oleh dewan juri Man Booker Prize. Menurut salah satu juri, Amanda Foreman, kemenangan Beatty dan The Sellout diperoleh dengan suara bulat. Itu didapat setelah empat jam rapat penuh diskusi. Juri dibuat terpana oleh itu.
“Novel ini langsung menancap ke jantung masyarakat kontemporer Amerika, dengan kecerdasan biadab yang belum pernah saya lihat setelah Swift atau Twain,” ujarnya memuji. Ia melanjutkan, “Novel ini berhasil menguak seluruh nuansa sosial, semua hal yang sakral, tetapi juga membuat kita tertawa sekaligus meringis. Ini baru novel, untuk zaman kita.”
The Sellout merupakan novel ke-empat Beatty. Seringkali ia fokus pada masalah rasialisme. Penulis 54 tahun itu pernah menyunting antologi humor bertema Afrika-Amerika. Dengan The Sellout memenangi Man Booker Prize, ia berhak mendapat hadiah uang 50.000 poundsterling.
Bagi penerbit yang menaungi The Sellout, Oneworld ini merupakan kemenangan di Man Booker Prize yang ke-dua. Sebelumnya ia pernah mengantarkan novel berjudul A Brief History of Seven Killings yang ditulis oleh Marlon James, pengarang Jamaika, sebagai pemenang.
Selama ini, Man Booker Prize pernah jatuh ke tangan penulis ternama seperti Salman Rushdie, Hilary Mantel, dan Margaret Atwood. Salah satu penulis Indonesia, Eka Kurniawan pernah masuk dalam daftar panjang untuk Man Booker International.
Juri Man Booker Prize telah bekerja keras sejak Januari. Mereka membaca 155 novel, mengerucutkannya menjadi 13 nama, sampai akhirnya memuncak jadi hanya enam orang. (rsa)