Jejak Perkembangan Seni Grafiti di Indonesia

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 27/10/2016 19:18 WIB
Jejak Perkembangan Seni Grafiti di Indonesia Berawal dari jalanan, kini seni grafiti memasuki ruang privat, seperti galeri, museum, hotel dan lembaga pendidikan. (Foto: Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Karya seni grafiti identik dengan tembok di jalan raya, di rumah-rumah tua tak berpenghuni atau lahan kosong. Di dalamnya tidak hanya menawarkan gambar yang indah secara estetik, tapi juga kadang pesan yang menggelitik, karena memuat kritik.

Tak ayal, pihak dinas kebersihan setempat pun seperti siaga berpatroli untuk mengembalikan dinding atau tembok-tembok jalanan seperti awal. Dicat polos dan bersih, hanya debu yang kemudian mengotorinya. Bisa disaksikan, meski sudah dicat ulang, gambar-gambar itu kerap muncul kembali.

Bila sudah demikian hanya tinggal aksi 'kucing-kucingan' antara aparat dengan pelaku seni yang masih 'bebal'.


"Hal seperti itu sudah wajar dialami seni grafiti, karena bagaimanapun ia harus illegal, kalau legal bukan grafiti namanya," ujar Adi Dharma, seniman grafiti yang dikenal dengan nama Stereoflow kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di Jakarta, baru-baru ini.

Stereoflow menjadi satu dari sepuluh seniman yang terlibat dalam pekan seni grafiti bertajuk Off the Wall Jakarta 2016 yang diusung Institut Perancis di Indonesia (IFI). Selain ia, ada Darbotz, Farhan Siki, Soni lrawan, dan Tutu dari Indonesia, serta Colorz, Fenx, Kongo, Mist dan Tilt dari Perancis. Agenda seni tersebut berlangsung dari 2 hingga 7 November mendatang.

Adi, yang menekuni seni grafiti sejak 1997, mengatakan awal mula tertarik dengan seni jalanan itu saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Ia mengawali karyanya dengan warna-warna cerah.

"Karakter itu tergantung senimannya, saya lebih ke ingin menyampaikan keceriaan, karena selama dua tahun tinggal di Jakarta banyak melihat orang yang stres dengan pekerjaan, jadi supaya orang tak lagi terbebani, saya main warna cerah," ujarnya beralasan.

Hingga kini, Adi sudah tercatat melakukan sejumlah pameran di beberapa tempat. Selain di Indonesia, ia menjajaki Amerika Serikat, Hong Kong, Thailand, Australia dan Kanada.

Dia pun kerap bereksperimen dengan berbagai macam media termasuk wheatpaste, stencil, kuas, dan tentunya cat semprot. Karyanya sendiri mencakup mural, lukisan, patung, dan instalasi. Tahun lalu, Adi melakukan pameran tunggal pertamanya di Yogyakarta.

Jejak grafiti di Indonesia

Kehadiran Adi dan seniman grafiti lainnya dalam pekan seni Off the Wall Jakarta 2016 akan menjadi pijakan baru bagi perkembangan seni grafiti di Indonesia. Dari awalnya seni grafiti lebih banyak di jalanan, kini akan menyeruak masuk ke ruang privat seperti galeri, museum, hotel dan lembaga pendidikan. 

Riksa Afiaty, kurator pekan Off the Wall Jakarta 2016 mengatakan seni grafiti di Indonesia dapat dikatakan berkembang pesat pada 2004. Riksa merujuk pada keberadaan situs tembokbomber.com yang meluncurkan misi untuk mengumpulkan dan mendata para pelaku dan karya graffiti dan street art yang tersebar di wilayah Indonesia.

Ia beranggapan grafiti dan street art merupakan dua hal yang berbeda. Grafiti berusaha untuk menutupi seluruh permukaan sebisa mungkin dan pergi ke semua sudut kota. Sedangkan, street art umumnya lebih peduli dengan penempatan yang strategis dan cenderung memiliki pesan yang ingin disampaikan.

Penelusuran grafiti dan street art yang dilakukan tembok bomber tersebut kemudian diawali di Jakarta, Bandung, Yogyakarta hingga kemudian disusul oleh beberapa kota lainnya yang juga mulai gencar mempraktikan seni tersebut.

"Tembok Bomber berawal dari forum desain bernama godote forum yang sering membahas tentang street art, dari situ timbul karena ketertarikan yang sama untuk membuat mailing list yang intens membahas street art," ujarnya menjelaskan.

Dari milis tersebut, tercapai kesepakatan untuk membuat blog yang berisikan berita seni, yang akan memuat tentang gambar-gambar street art di ranah lokal. Terkait alasan utama pembuatan blog itu, Riksa menyebutkan karena umur graffiti dan street art yang umumnya pendek, karena itu perlu didokumentasikan.

Sebelum adanya Tembok Bomber, Riksa turut mengungkapkan bahwa ada sebuah blog yang pernah melakukan pendokumentasian di sekitar Jakarta, yakni pyloxworld.tk yang berdiri hanya selama 2003 sampai 2004 saja.

Itu didirikan dan dikembangkan oleh Graver, pelaku grafiti dari Filipina. Hingga datang pria berkebangsaan Amerika Serikat yakni Luscent yang membantu mendokumentasikan dengan memotret sejumlah karya.

Siluet seniman graffiti (bomber) menunjukan keahliannya berkarya dalam Acara pameran seni jalanan Street Dealin, akhir tahun lalu di Jakarta. Siluet seniman graffiti (bomber) menunjukan keahliannya berkarya dalam acara pameran seni jalanan Street Dealin, akhir tahun lalu di Jakarta. (Foto: Adhi Wicaksono)
Adopsi dari luar

Kultur grafiti dan street art sendiri, kata Riksa, merupakan hasil adopsi budaya Barat pada era '90-an. Itu ditandai dengan masuknya internet dan akses untuk mendapatkan majalah impor sebagai referensi juga membentuk pola pikir pelaku untuk melakukannya di tembok.

"Mereka dengan sendirinya melihat dan menirukan, hingga mengembangkan untuk membuat satu identitas dan pesannya terlihat oleh publik. Jalanan, menjadi satu-satunya media yang masuk akal untuk mereka gunakan," ungkapnya.

Di Jakarta, grafiti berkembang di sebuah komplek perumahan di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan. Alasan yang membuat grafiti muncul di daerah itu ialah karena banyaknya siswa asing dari Jakarta Internasional School, yang kemudian memulai praktik seni itu di beberapa tanah kosong di komplek daerah tersebut.

Dari perjalanan itu, Riksa menyimpulkan bahwa grafiti dengan 'American Style' disinyalir merupakan hasil adaptasi dari internet, beredarnya majalah impor dan referensi yang dibawa oleh orang asing yang kemudian menetap di Jakarta.

Selain itu, perkembangan seni grafiti di Indonesia tak bisa lepas dari pengaruh musik hip hop, di mana breakdance adalah ekspresi fisiknya.

Dalam video musik rapper Iwa K, berjudul Bebas (1994), misalnya, terlihat unsur grafiti yang dipakai sebagai visual. Seni grafiti di video tersebut ikut memeriahkan kerumunan orang bermain basket, skateboard dan musik hiphop.

Tak hanya itu, grafiti disinyalir juga dekat dengan musik punk. Hal itu ditunjukkan lewat Boards Riders Crew (1997), sebuah kelompok grafiti di Jakarta yang memiliki hobi bermain skateboard dan mendengarkan musik punk.

Riksa pun turut mengungkapkan bahwa sebelum pelaku grafiti dan street art memulai aksinya di jalan, beberapa kelompok independen berbasis seni rupa telah lebih dulu menggunakan jalan sebagai mediumnya. Mereka adalah Taring Padi (1998) dan Apotik Komik (1997).

Lembaga Kebudayaan Taring Padi adalah kolektif seni yang menitikberatkan isu-isu kerakyatan dan menyebarkannya dengan turun ke jalan dan memproduksi poster yang ditempelkan di beberapa kota secara massif.

"Taring Padi cenderung menggunakan nilai pesan yang menggugah dan memproduksi pesan kampanye bermuatan pesan moral ke ruang publik," ujarnya menjelaskan.

Sedangkan, Apotik Komik adalah kelompok yang berangkat dari komik sebagai media ekspresinya dan menggunakan teknik mural yang ditempatkan di ruang publik secara legal.

"Inisiatif ini mendorong kegiatan seni di ruang publik dan bertujuan untuk membuat proyek-proyek seni publik interaktif yang bekerjasama dengan masyarakat.

Apotik Komik Public Gallery (2001) dan City Mural Project (2002) adalah proyek kesenian yang cukup menarik perhatian untuk dikaji sebagai studi yang menempatkan seni di ruang publik.

Seni grafiti yang memanfaatkan ruang publik membuatnya mudah dinikmati masyarakat. Seni grafiti yang memanfaatkan ruang publik membuatnya mudah dinikmati masyarakat. (Foto: Adhi Wicaksono)

Pengarsipan Karya


Di luar pengaruh dan perkembangannya seni grafiti tak bisa dipungkiri sebagai karya seni yang tak berumur panjang. Oleh karenanya, kata Riksa, peran pengarsipan dalam dunia grafiti dan street art menjadi menarik dan penting.

"Tidak ada karya jalanan yang bertahan selamanya, memang begitulah alaminya. Akibat kewajaran hal tersebut, sebuah lembaga pengarsipan itu mencoba bekerja dan menelaah sejarah visual melalui catatan fotografi. Proses 'mencatat' ini merupakan inti dari lembaga pengarsipan graffiti dan street art," tegas Riksa.

Beberapa inisiatior yang sudah melakukan peran tersebut menurutnya adalah Indonesian Street Art Database (2012), Urban Cult (2011) dan Visual Jalanan (2012).

"Peran internet dan perkembangan teknologi memudahkan penyebaran dan modus kerja pengarsipan. Dengan memanfaatkan medium teknologi yang jauh lebih mudah dan murah serta strategi komunikasi yang lebih luwes," ujarnya.

Keberadaan teknologi dianggapnya memudahkan penyebaran informasi diantara para pelaku dengan pemerhati graffiti dan street art, juga menghubungkan seniman dengan masyarakat luas dengan cara yang tidak mungkin dilakukan sebelumnya.

"Salah satu usaha untuk memperluas wacana grafiti dan seni rupa adalah dengan dibuatnya pameran dan forum diskusi," katanya.

Dia pun mencontohkan, bahwa Jakarta pernah sukses menghadirkan festival dan kompetisi yang menampilkan karya-karya para seniman dengan mengusung tema urban art, yaitu JakArt@ 2001 yang salah satu kegiatannya adalah membuat mural dan graffiti di beberapa ruang publik.

Kemudian sejak 2009, kata Riksa, Jakarta Biennale secara konsisten bekerja dengan grafiti, mural dan street art untuk menarasikan ide-ide, cerita, dan nilai-nilai dari sebuah situs di ruang publik dan masyarakatnya sebagai cerminan kota Jakarta.

Hingga adanya pameran Wall Street Art 2010 yang dikuratori oleh Alia Swastika dan mengundang tujuh seniman graffiti dari Jakarta untuk berkolaborasi dengan seniman Perancis di Galeri Salihara.

Satu tahun setelahnya, pada 2011 pameran Off The Wall Singapore yang dikuratori kurator Perancis Claire Thibaud-Piton, mengundang 9 seniman Perancis dan 9 seniman Singapura untuk berkolaborasi. Hal ini menandai masuknya seni graffiti dan street art ke ruang yang lebih privat, yaitu galeri. Setelah digelar di Singapura, gelaran serupa akan digelar di Jakarta.

"Tak ayal, seniman-seniman ini di kemudian hari menempatkan ulang dan meredefinisi makna seni ini ke ruang yang lebih privat," ungkap Riksa.

Sepuluh seniman Indonesia dan Perancis dijadwalkan akan berkolaborasi dalam pekan seni grafiti Off the Wall Jakarta 2016. Mereka akan membuat karya seni di sejumlah ruang privat seperti Museum Nasional, D'Gallerie, Yello Hotel, Sekolah Internasional Prancis dan lFl Thamrin, pada 2-7 November mendatang. (rah)