Cerita di Balik Kemenangan Paduan Suara Indonesia di Spanyol

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Rabu, 16/11/2016 16:57 WIB
Cerita di Balik Kemenangan Paduan Suara Indonesia di Spanyol Batavia Modrigal Singer dibawah pimpinan konduktor Avip Priatna menggelar konferensi pers pasca kemenangannya di Tolosa, Spanyol. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok paduan suara Batavia Modrigal Singers (BMS) mengharumkan nama Indonesia di Spanyol. Grup pimpinan konduktor Avip Priatna itu menyabet gelar juara umum di kompetisi paduan suara internasional Tolosa Choral Contest ke-48 di Tolosa, Spanyol.

BMS juga meraih Juara Pertama kategori Polyphony serta Juara Pertama kategori Basque Songs & Popular Music/Folklore. Tapi tentu saja, buah manis yang dipetik itu tidak tanpa jerih payah. Kelompok yang kini dadanya dipenuhi rasa bangga itu, menempuh perjuangan panjang.

Monika Ade Ayu, salah satu anggota, misalnya. Selain anggota BMS, wanita yang akrab disapa Monik itu juga pekerja di perusahaan teknologi. Ia harus pintar-pintar mengatur waktu di tengah kedisiplinan latihan rutin yang jadwalnya ketat, dan waktunya untuk bekerja.


"Persiapan kami 10 bulan dengan sejumlah rangkaian acara konser sampai ke kompetisi di Tolosa. Latihan keras efektif lima hari, itu tidak hanya akhir pekan. Kami latihan dari pukul 19.30 WIB dan berlangsung tiga sampai empat jam," Monik menceritakan pengalamannya.

Ia menambahkan, “Bayangkan kami bangun, pergi ngantor, pulang kerja harus latihan sampai jam 11 [malam]. Sampai rumah jam 12 [tengah malam] dan besok harus kerja lagi.”

Tapi Monik memahami, ia memang butuh latihan ketat dan panjang. Itu konsekuensi sebagai penyanyi yang bukan dari kalangan profesional. Butuh jam kerja tinggi untuk menggembleng diri sehingga terbiasa manggung. Untuk menyeimbangkan, tinggal butuh manajemen waktu.

"Selain waktu juga berkorban banyak, kayak acara keluarga," ujar pemilik suara sopran itu.

Perjuangan BMS tak berhenti hanya sampai latihan saja. Mereka juga harus mengatur waktu saat kompetisi tiba. Sebab di Spanyol, kelompok semi profesional yang anggotanya berasal dari berbagai latar belakang itu bukan sekadar berkompetisi. Selama pekan itu, mereka juga ‘mengamen’ di beberapa kota di sekitarnya seperti Beasain, San Sebastian dan Pamplona.

"Kami bertanding hanya satu hari, sisanya konser. Seharusnya enam kali, tapi karena menggantikan Filipina di satu kota jadi tujuh. Lokasinya jauh dari tengah kota, butuh dua jam tanpa macet untuk sampai, jadi bangun, makan, latihan, tampil," ujar Rainier Ravireno.

Namun anggota BMS yang akrab disapa Pepi itu menambahkan, kondisi itu ada positifnya. Karena sering tampil, BMS jadi lebih siap untuk pentas, dalam kondisi apa pun.

“Dan saat konser, lagu-lagu kompetisi juga yang dibawakan. Jadi waktu bertemu langsung dengan warga sana, mereka sangat mengapresiasi," katanya melanjutkan. Bukan hanya menerima standing ovation, warga juga ikut berdiri saat BMS menyanyikan lagu dengan bahasa mereka.

Memilih lagu memang menjadi salah satu pertimbangan penting Avip dan BMS. Bagi Avip, itu termasuk strategi. Mereka harus pintar-pintar memilih lagu di luar lagu wajib, yang cukup memukau juri saat kompetisi tetapi juga tidak terlalu sulit serta membuat peserta stres.

Batavia Madrigal Singers (BMS) saat memamerkan kemampuan yang membawa mereka jadi juara di Spanyol.Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Batavia Madrigal Singers (BMS) saat memamerkan kemampuan yang membawa mereka jadi juara di Spanyol.
"Jadi kami ada tim untuk memilih lagu sesuai kemampuan. Dari segi materi musik, bagaimana 44 orang yang nyanyi semua standarnya bisa sama. Karena mereka tidak semua merata, ada yang dulunya sudah les, ada yang tidak," kata Avip. Anggota mereka bahkan ada yang seorang guru, IT programmer, mahasiswa, manajer, sampai yang ibu rumah tangga.

Untunglah strategi pemilihan lagu dan latihan keras BMS berujung indah. Tidak seperti 10 tahun lalu saat BMS mencoba dan gagal, dalam ajang yang digelar 28 Oktober sampai 1 November kali ini mereka menyabet juara. Dan sekali lagi perjuangan belum berakhir.

Kelompok bentukan Avip bersama rekan-rekan satu komunitas paduan suara mahasiswa di Universitas Parahyangan Bandung itu masih harus berkompetisi di European Grand prix in Choral Singing (EGP). Mereka akan berusaha merebut gelar pemenang di antara pemenang.

Kompetisi itu diikuti para pemenang dari kompetisi setara Tolosa Choral Contest di dunia.

Setelah berkompetisi dengan 20 paduan suara dari 14 negara lain di Tolosa, BMS tahun depan bertanding dengan juara umum dari International Guido d’Arezzo Polyphonic Contest (Arezzo, Italia) Béla Bartók International Choir Competition (Debrecen, Hungaria), International Choral Competition Gallus (Maribor, Slovenia), Florilège Vocal de Tours (Tours, Perancis), dan International May Choir Competition ‘Prof G. Dimitrov’ (Varna, Bulgaria).

BMS pun harus kembali mengatur strategi untuk berkompetisi di ajang internasional sebagai kelompok dari Indonesia pertama yang berhasil menembusnya. "Kami masih memikirkan konsepnya, tentu tidak mau sama dengan lawan kami nanti. Kami pun sedang memperhatikan lawan kami itu bagaimana dan khasnya mereka apa," ujar Avip saat ditanya strategi BMS.

Sementara menyiapkan diri, BMS yang baru pulang kampung mengasah penampilan mereka dengan manggung di konser The Resonanz Music Studio (TRMS). Konser “HOLLYWOOD IN JAKARTA” itu dilakukan bersama The Resonanz Children’s Choir (TRCC) dan diiringi Jakarta Concert Orchestra (JCO). Konser itu digelar di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, Sabtu (10/12).