Aoyama Gosho, Si Genius di Balik Detektif Conan

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Kamis, 17/11/2016 09:40 WIB
Aoyama Gosho tidak pernah berpikir cerita Conan akan bertahan sampai 22 tahun. Sebelum karakter itu ada, untuk makan pun ia kesusahan. Aoyama Gosho, penulis dan penggambar Detektif Conan. (CNN/Rizky Sekar Afrisia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bukan hanya nasib percintaan Shinichi Kudo dan Ran Mouri yang membuat komik Detektif Conan menarik. Sang penulis, Aoyama Gosho menunjukkan kegeniusannya dengan membuat cerita kriminal dengan trik-trik penuh misteri. Mulai cerita kucing hilang sampai drama pembunuhan, lebih menarik di tangan penulis dan penggambar kelahiran 21 Juni 1963 itu.

Bakat Aoyama menggambar sudah terlihat sejak kecil. Saat usianya masih lima tahun, ia sudah suka menggambar. Ia bahkan bercita-cita menjadi kreator manga (komik Jepang) profesional yang menulis cerita tentang detektif swasta. Saat itu cerita Conan bahkan belum muncul di kepalanya. Tapi cita-cita itu terus dipegang oleh Aoyama kecil.

Ia masih duduk di kelas 1 SD saat gambarnya Yukiai War memenangi sebuah kompetisi. Gambar itu lantas dipajang di pusat perbelanjaan Tottori Daimaru, kampung halaman Aoyama.


Aoyama meneruskan minatnya pada menggambar manga. Ia masuk Nihon University College of Art di Tokyo. Namun jalannya menuju komikus terkenal seperti sekarang tidak mudah. Di awal-awal tahun, keuangannya tidak stabil. Ia bahkan bisa makan kari tanpa daging selama lima hari berturut-turut. Orang tuanya dari Tottori mengiriminya nasi untuk dimasak dan makan.

Kerjanya menggambar komik di majalah-majalah diawali dengan paruh waktu. Ia pernah ‘dipecat’ karena gayanya tidak dianggap sesuai seperti yang diinginkan editor. Baru di Shounen Sunday, majalah mingguan yang hingga kini masih menayangkan cerita Detektif Conan, ia diterima. Ia memenangi Newcomer Award dari majalah itu dengan cerita Wait a Minute.

Aoyama kemudian menciptakan Magic Kaito—yang karakter Kaito Kid-nya juga muncul di komik Conan. Saat dibukukan, komik itu terjual lebih dari 100 ribu kopi. Seri-seri selanjutnya terjual lebih banyak lagi. Ia kemudian menciptakan karakter komik lain, yakni Yaiba.

Perlahan, kehidupan sang pencinta sepak bola dan bisbol itu mulai stabil. Sang editor kemudian memintanya membuat seri misteri. Kebetulan saat itu Kindaichi tengah populer. Aoyama yang sedanh membaca buku tentang kucing detektif pun langsung terinspirasi.

“Ada kesamaan antara Conan dan cerita itu. Di cerita itu, pemiliknya seorang detektif swasta, tapi sebenarnya si kucing lebih pintar. Jadi dia terkenal sebagai detektif karena kucingnya. Conan adalah kucing itu,” katanya saat bertemu CNNIndonesia.com pekan lalu.

Aoyama butuh sekitar dua minggu untuk menelurkan karakter-karakter Conan yang dikenal sekarang, dan memikirkan jalan ceritanya. Ia pikir itu tidak akan bertahan lama, paling hanya tiga bulan. Ternyata Conan banyak digandrungi penggemar. Semua penasaran. Maka ia langsung memikirkan cerita apa lagi yang harus ia sampaikan dalam serial itu.

Kebetulan Aoyama memang menyukai cerita detektif. Favoritnya adalah Sherlock Holmes. Dari serial televisi maupun buku misteri lah ia mendapat inspirasi. Biasanya ia membutuhkan 12 jam sampai tiga hari untuk memikirkan setiap plot cerita. Lalu lima hari untuk menggambar.

“Kalau sudah menggambar, bisa tidur sehari hanya tiga jam,” ia bercerita.

Aoyama biasa menggambar di sebuah ruangan bersama enam asistennya. Ia bagian karakter-karakter utama, lalu asisten lain—yang merupakan teman-temannya sejak semasa kuliah—memberi detail latar atau hal lain. Tapi tugas Aoyama tidak sesederhana menggambar. Ia juga harus memikirkan cerita yang rumit dan menguji trik-trik yang akan digunakan.

“Biasanya saya memikirkan akhir ceritanya dulu, baru ditarik ke depan,” katanya.

Untuk trik, ia dan asisten-asisten serta para editornya biasa mempraktekkan di taman terbuka. “Sering kami dilihati orang-orang, ‘Sedang apa tuh orang-orang aneh?’ Tapi tidak ada yang terluka setiap kali kami mempraktekkan trik-trik itu,” kata Aoyama melanjutkan.

Sampai 22 tahun, ia terus memikirkan nasib Conan, namun enggan memberitahukannya pada siapa pun, terutama penggemar. Yang jelas, suatu saat cerita itu akan harus berakhir.

Tapi setidaknya Aoyama telah menjadi komikus terkenal dan profesional, seperti yang ia cita-citakan dahulu. Ia juga pernah memeroleh Shogakukan Manga Award, penghargaan manga bergengsi, untuk Yaiba dan Conan. Kampung halamannya kini banyak dikunjungi orang karena ada patung Conan di sana. Sejak 2007 ia juga punya museum Gosho Aoyama Manga Factory.

Meski begitu, si genius tetap beraksi seperti orang biasa. Saat bertemu CNNIndonesia.com, ia hanya didampingi para editor dan penerjemah. Tidak ada pengawal. Ia pun menjawab pertanyaan dengan santai. Di sela-sela wawancara ia biasa pamit sebentar untuk merokok. Dengan langkah jalannya yang unik, ia dengan ramah tersenyum pada penggemar yang histeris menyapanya. Pertanyaan demi pertanyaan penggemar ia ladeni, asal tidak memancing akhir cerita.

Kalau ada yang sedikit filosofis ia selalu menjawab, "Saya tidak tahu, tidak memikirkannya sejauh itu." Otaknya lebih memikirkan trik misteri ketimbang hal sepele. (rsa/rsa)