Nasib Leo--sapaan akrab Leonardo DiCaprio--akan Oscar disamakan dengan nasib penulis asal Jepang Haruki Murakami dengan Nobel Sastra. Penghargaan asal Swedia itu bisa dibilang sebagai yang tertinggi di bidang sastra dunia. Dua kali penulis Norwegian Wood itu masuk daftar pendek dan dijagokan, berkat kemahirannya merasuki dunia surrealisme lewat kata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sama seperti Leo yang memenangi banyak penghargaan lain--bahkan Golden Globes--sebelum Oscar, Murakami pun bergelimang prestasi. Penghargaan-penghargaan internasional ia raih.
"Sejujurnya, ini [pertanyaan soal apakah dan kapan ia akan memenangi Nobel Sastra] agak mengganggu. Ini [Nobel Sastra] bukan pacuan kuda," jawabnya tegas. Itu pun tidak pernah ditanyakan lagi padanya. Sikap tak peduli pada penghargaan itulah yang, mengutip Japan Times, membuatnya justru dikagumi penggemar--yang punya sebutan The Harukists.
Lahir pada 12 Januari 1949, Murakami bisa dibilang jauh dari generasi sekarang. Ia bukan pencari eksistensi, meski novelnya juga berarti bagi millennials. Ia tipe orang tua Jepang yang tidak peduli apa pun selain melakukan yang ia suka. Seperti tokoh narator dalam novel pertamanya, Hear the Wind Sing. Lagipula, menurut dua penulis Jepang lain yang pernah memenangi Nobel, karya Murakami tidak akan pernah 'disukai' panitia.
Kenzaburo Oe pemenang tahun 1994 dan Yasunari Kawabata pemenang tahun 1968 sepakat, fiksi Murakami kurang aktif bicara soal masyarakat sebagai kesatuan. Novelnya menunjukkan "keinginan pasif untuk dipengaruhi oleh budaya populer." Sebagaimana dalam tumbuh kembangnya Murakami banyak dipengaruhi oleh buku dan budaya Amerika.
Tapi itu tak berarti karyanya jelek. Bagi dunia sastra Jepang, tak ada yang lebih berarti dari Murakami. Ia berhasil memopulerkan sastra Jepang ke berbagai bahasa. Bukunya bahkan jadi acuan di mana-mana. Jadi, tak menang Nobel baginya bukan apa-apa.