“Awalnya saya ditawari peran Midah, tapi kemudian setelah workshop, Anggi minta saya sebagai Sipon," ujarnya bercerita saat ditemui di sela-sela pemutaran perdana film tentang Wiji Thukul, Istirahatlah Kata-kata, di Epicentrum XXI, Jakarta, Senin (16/1).
Tawaran untuk berperan sebagai Sipon atau bernama asli Siti Dyah Sujirah itu sempat membuat Marissa gamang. "Karena, tidak sembarang orang bisa jadi Sipon," ujarnya dengan nada khawatir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk dapat memerankan Sipon, ia tidak hanya mengikuti workshop tapi juga melakukan riset mendalam.
"Risetnya tidak ke keluarga, karena tidak mau meniru, Ebe sebagai produser dan Anggi, membebaskan saya untuk representasi Sipon karena situasinya berbeda, antara yang dulu dan masa sekarang," ujarnya lebih jauh.
Di matanya, Sipon juga seorang aktivis, meski tak sepopuler Wiji Thukul. Sikap tegarnya menghadapi situasi sulit menjadi landasan untuk ia menampilkan Sipon apa adanya.
"Saya yakin, apa yang dirasakan Sipon kala itu bisa jadi lebih berat, karena kondisi Thukul yang lari terus, dan dikejar-kejar," katanya menambahkan.
Marissa melihat film yang dibintanginya sebagai medium yang menampilkan sisi lain dari sosok penyair yang hilang pada 1998 itu. "Sisi sunyi, dikejar-kejar, takut dan sendirian, serta merasa rindu akan keluarganya, sisi yang mungkin belum banyak diketahui publik," ujarnya.
Kagumi Wiji Thukul
Meski baru pertama kali menyentuh karya Wiji Thukul sejak terlibat dalam film, Marissa menyukai beberapa di antaranya.
"Salah satu yang saya sukai itu Puisi Peringatan, yang memuat Hanya ada satu kata: Lawan," ujarnya.
Puisi tersebut, kata dia, memuat pesan yang universal tentang sebuah kekuatan yang ingin membungkam. "Konteksnya itu sangat umum, sampai sekarang masih relevan."
Tantangannya, kata dia, jaman dulu antara pemerintah yang otoriter dengan rakyat. Sekarang, tantangannya sipil dan sipil. "Menurut saya, sipil dan sipil diadu, dan di belakangnya ada kekuatan lebih besar. Buat saya, ketika ada kekuatan seperti itu, berbahaya," ujarnya.
Marissa lalu mengatakan hadirnya film Istirahatlah Kata-kata menjadi pengingat, khususnya tentang sosok Wiji Thukul, dan karya-karyanya.
"Kalau film in menggugah orang ingin ungkap hilangnya Thukul, ya bagus, karena pada dasarnya tidak bermimpi besar film ini mengubah sesuatu. Namun, kalau ada efek domino yang ditimbulkannya, kenapa tidak," ujarnya lagi.
Film Istirahatlah Kata-kata yang diproduksi Muara Foundation, Kawan kawan Film, Partisipasi Indonesia, dan Limaenam Films ini tayang di bioskop mulai 19 Januari 2017.