Renungan Seniman Korea pada Lingkungan Sunda Kelapa

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Kamis, 30/03/2017 10:18 WIB
Renungan Seniman Korea pada Lingkungan Sunda Kelapa Proyek ini fokus menyoroti permasalahan lingkungan di Sunda Kelapa. (Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kurator asal Korea Selatan Kim Byung Un membuat proyek berupa proses artistik eksperimental dengan menjelajah sudut Kota Jakarta selama sepuluh hari. Kim mengajak seniman dari tanah kelahirannya, Boo Ji Hyun dan bekerjasama dengan seniman asli Indonesia Aliansyah Caniago.

Proyek bertajuk Renungan Seniman Terhadap Lingkungan: Dokumentasi Sepuluh Hari ini fokus menyoroti kondisi lingkungan di Sunda Kelapa, terutama air dan penduduknya.

Renungan Seniman Korea pada Lingkungan Sunda KelapaProyek ini hanya diselesaikan selama sepuluh hari. (Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Mereka memilih Kampung Tongkol dan Kampung Krapu, Sunda Kelapa karena prihatin dengan kondisi lingkungan yang merupakan sejarah awal Jakarta.


"Saya memutuskan membuat proyek ini, bukan pameran biasa. Kami riset dalam waktu singkat, sepuluh hari dan seniman memilih barang buangan disana dan dibuat menjadi karya instalasi," kata Kim kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di pamerannya di SPACE, Jakarta, Rabu (29/3) kemarin.


Boo Ji Hyun memilih mengumpulkan botol plastik karena banyak menemukan sampah yang tak bisa diurai itu. Boo kemudian membuat karya instalasi dengan menambahkan lampu berwarna biru.

Sebanyak 98 botol diisi dengan air laut yang tercemar dari Sunda Kelapa dan kemudian disusun di dinding membentuk cahaya kebiruan yang berasal dari lampu.

"Ini menandakan banyak sampah plastik di sana dan air juga tercemar. Sementara warna biru sebagai harapan agar air kembali jernih," tutur Boo yang baru pertama kali ke Indonesia khusus untuk proyek ini.


Boo yang lahir di Pulau Jeju memiliki kepedulian terhadap laut dan lingkungan. Dia pernah membuat karya serupa dengan menggunakan lampu memancing nelayan yang terbuang. Lampu, menurut Boo, menghubungkan alam dengan manusia.

Sementara itu, Caniago membuat potret orang-orang tua di Sunda Kelapa. Potret wajah itu dipajang bersama batu yang berasal dari rumah mereka di Sunda Kelapa.

Sebanyak enam orang yang terpilih itu juga menceritakan kehidupannya yang didokumentasikan dalam sebuah video.


"Mereka bercerita tentang sejarah Kampung Tongkol dan cerita hantu dan cerita-cerita menarik lainnya," ujar Kim.

Caniago juga membuat sebuah meja yang berasal dari barang-barang buangan. Meja itu sengaja dibuat tidak kokoh karena mencerminkan rumah penduduk di Sunda Kelapa yang tidak aman dan tidak layak.

Dari karya itu, Caniago menemukan bahwa masalah utama di Sunda Kelapa karena masyarakat tidak berinteraksi dengan lingkungan. Caniago juga menilai penduduk yang merupakan pendatang juga tidak memiliki ikatan kebudayaan dengan lingkungan tempat tinggal saat ini.


"Seri lukisan dan rekaman testimoni ini akan menjadi pengingat sejarah kehidupan mereka," kata Caniago.

Nantinya, potret dan rekaman video itu akan diberikan kepada orang-orang tersebut. Kim berharap agar proyek seni ini dapat membentuk kesadaran sosial masyarakat.