Tapi pemberian bintang Rock and Roll Hall of Fame Jumat (7/4) mendatang membuktikan bahwa musik Shakur masih dikenang jauh setelah ia tiada. Acara pelantikan itu selebrasinya.
Ia masih terpilih meski wujudnya tak lagi ada di dunia ini. Ia bahkan menjadi rapper ke-enam yang terpilih masuk Hall of Fame sepanjang 30 tahun sejarahnya. Tidak banyak rapper yang masuk dinding kebanggaan itu. Dibanding yang masih hidup, Shakur justru dipilih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Shakur baru berusia 25 tahun saat ia harus mengakhiri hidupnya.
Kalau saat masih hidup ia punya empat album, setelah meninggal Shakur justru ‘merilis’ tujuh karya. Mungkin itu tidak sebanding dengan penjualan artis hip hop abad 21 seperti Drake, Kanye West atau The Weeknd. Tapi tetap saja, ia punya pengaruh besar.
“Bagi siapa pun yang serius soal belajar hip hop, ada beberapa orang yang musiknya harus diperhatikan, dan Tupac adalah salah satu dari orang itu,” kata Todd Boyd, profesor Studi Sinema dan Media di University of Southern California, seperti dikutip dari Reuters.
Menurutnya, siapa pun tak bisa mengklaim mereka punya cukup pengetahuan soal hip hop, jika tak mendengar atau tak tahu Shakur. Mendengarkan lagunya menghasilkan perasaan khusus.
“Dia punya pengaruh emosional yang kuat yang menurut saya bicara soal fakta bahwa, ini adalah seseorang yang, dalam pikiran saya, mungkin akan lebih baik jadi aktor ketimbang rapper,” ujar Boyd melanjutkan.