Tak Lagi 'Jualan' Seksi, Kualitas Film Horor Mulai Diperbaiki

Endro Priherdityo , CNN Indonesia | Sabtu, 09/09/2017 13:21 WIB
Tak Lagi 'Jualan' Seksi, Kualitas Film Horor Mulai Diperbaiki Kini tak ada wanita seksi yang 'dijual' di film-film horor Indonesia. (Dok. Rapi Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Film horor Indonesia saat ini tampak mengalami perubahan. Tak ada lagi wanita seksi yang sempat menjadi bahan utama film horor seperti beberapa tahun lalu. Justru, film horor lawas mulai bangkit kembali dengan kualitas yang boleh diadu.

Bukan tanpa alasan para produser film mulai mengangkat kembali film horor dari berdekade-dekade silam dengan teknologi perfilman terbaru.

Sunil Samtani, produser Rapi Films, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu menyebut beberapa alasan ia kembali mengangkat film horor lawas. Di antaranya, konsep yang kuat dan tren sineas yang mulai peduli akan kualitas.

"Ada beberapa proyek [film lawas] yang kalau di-remake pasti bagus. Misalnya Jelangkung (2001), karena itu kuat sekali. Namun juga tidak semua film bisa di-remake karena seberapa kuat konsepnya?" kata Sunil.


Rapi Films tergolong rumah produksi yang telah menghasilkan banyak film horor di masa lalu, sebut saja film Sundel Bolong (1981) yang ikonis dengan Suzzanna memesan 200 tusuk sate, dan Pengabdi Setan (1980) yang kini digarap lagi oleh Joko Anwar.

Di era modern, Sunil sempat bereksperimen dengan sejumlah film horor untuk menyesuaikan tren zaman, seperti Kereta Hantu Manggarai (2008), Rumah Hantu Ampera (2009), hingga Kuntilanak Kesurupan (2011).

Salah satu film horor lawas produksi Rapi Films, 'Nyi Blorong' (1982).Salah satu film horor lawas produksi Rapi Films, 'Nyi Blorong' (1982). (Dok. Rapi Films)
Namun, dari sekian banyak koleksi film horor yang telah dibuat perusahaan yang didirikan oleh sang ayah, Gope T Samtani itu, Sunil mengakui bahwa film lawas memiliki sejumlah keunggulan meski film horor era modern pun banyak juga yang berkualitas baik.

"Kalau dilihat, film lawas itu lebih menakutkan, lebih terasa akrab, CGI pun belum ada sehingga yang mereka buat itu lebih nyata," kata Sunil. "Saat ini CGI banyak sekali."

"Namun film saat ini seperti The Conjuring, CGI yang digunakan banyak namun tetap laris. Berarti menurut saya, tergantung konsep cerita dan pendekatan ke penonton. Kalau bagus, ya jalan saja," lanjutnya.

Kekuatan konsep pula yang disebut Sunil jadi alasan mengangkat kembali Pengabdi Setan dan mempercayakan kepada Joko Anwar untuk mengangkat kembali teror arwah seorang ibu kepada keluarganya itu.

[Gambas:Youtube]

Pengabdi Setan, diklaim Sunil, sempat mendapatkan banyak apresiasi dari berbagai pihak dan disebut sebagai film horor terseram di Indonesia.

Meski berdalih akan kekuatan konsep, menurut pengamat film Adrian Pasaribu, dibuat atau diangkatnya kembali film horor lawas di era modern adalah karena faktor ekonomi.

Sunil Samtani, produser Rapi Films mengakui bahwa konsep yang kuat dari film horor lawas jadi faktor diangkat kembali di era modern.Sunil Samtani, produser Rapi Films mengakui bahwa konsep yang kuat dari film horor lawas jadi faktor diangkat kembali di era modern. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
"Kenapa film horor lawas mulai dibuat remake atau diangkat kembali? Mungkin jawabannya lebih simpel: ekonomi," kata Adrian saat berkorespondensi dengan CNNIndonesia.com, dalam kesempatan terpisah.

"Dalam remake film horor lawas, ada satu faktor lagi yang mungkin bisa menguntungkan si pembuat: basis penonton," kata Adrian.

Menurut Adrian, film berseri baik dalam bentuk remake, reboot, sekuel, maupun prekuel, akan bergantung pada basis penonton yang terbentuk dari film aslinya.

Pembuatan seri lain yang masih berhubungan dengan film asli setidaknya sudah punya penonton, yakni penggemar seri terdahulunya. Jumlah penonton bisa bertambah jika sutradara mampu menggaet 'pasar' baru.


Di sisi lain, Adrian meyakini film horor tergolong genre gambar bergerak yang tidak terlalu membutuhkan biaya besar seperti drama atau genre lainnya.

Asumsi ini terlihat dari biaya produksi film horor Hollywood, seperti The Conjuring dari Warner Bros. pada 2013. Film garapan James Wan itu dibuat dengan bujet US$20 juta namun mendapat penghasilan hingga US$318 juta atau untung lebih dari 15 kali lipat.

[Gambas:Youtube]

Hal ini berbeda dengan karya Warner Bros. lainnya di tahun yang sama, Man of Steel. Film ini membutuhkan bujet US$225 juta namun hanya mendapatkan penghasilan sebesar US$668 juta atau dua kali lipat dari biaya produksi.

"Kasarnya, sudah ada perkiraan jaminan penonton," kata Adrian. "Nah, coba perhitungkan dua unsur itu: biaya produksi murah plus jaminan penonton. Klop sudah."

Namun dua hal itu ternyata belum cukup memenangi hati para produser untuk membuat film horor di era modern. Sunil mengakui, masuknya genre horor Hollywood seperti The Conjuring yang memiliki konsep kuat adalah tantangan bagi sineas di Indonesia.


"Karena setiap tahun penonton dapat film Hollywood macam The Conjuring, Insidious yang smart horror secara kualitas, lama-lama penonton akan membandingkannya dengan produksi Indonesia," kata Sunil.

"Berhadapan dengan Hollywood, kalau tidak meningkat, akan tertinggal. Lihat Jailangkung (2017), mereka berani menghabiskan bujet. Memang sudah harusnya seperti itu, dan masyarakat pun sudah pintar mana yang kualitas dan tidak," lanjut Sunil.

"Menurut saya, produser sudah harus memikirkan kualitas. Dan banyak rumah produksi yang menuju ke sana bukan hanya mikirin soal produksi, mereka meningkatkan kualitas dan ini yang mesti dijaga." kata Sunil.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Horor Lawas Gentayangan Lagi