Ulasan Film: 'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak'

Puput Tripeni Juniman , CNN Indonesia | Rabu, 15/11/2017 09:05 WIB
Ulasan Film: 'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak' 'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak' diceritakan seperti empat bait sajak yang digambarkan dalam sebuah film. Ritmis dan miris, tapi menghibur. (Dok. Cinesurya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ibarat empat bait sajak yang kemudian digambarkan dalam sebuah film, begitulah cara Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak bercerita. Ritmis dan miris, tapi juga menegangkan dan menghibur.

Lewat empat babak yang ritmis, sutradara Mouly Surya membagi kisah Marlina. Si wanita pembunuh yang diperankan Marsha Timothy. Dia janda yang tinggal seorang diri di puncak perbukitan sabana di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Babak-babak itu perlahan mengungkap jati diri Marlina, sosok yang diam-diam menyimpan misteri.

Di balik emosinya yang terpendam karena kedatangan sekawanan perampok yang merampas hewan ternak dan juga harga dirinya, Marlina dengan gagah berani memenggal kepala gembong penyamun.


Babak itu terus berlanjut dan berakhir hingga Marlina mencari keadilan dan penebusan dosa. Ketegangan akan apa yang bakal dilakukan Marlina atau apa yang bakal menimpanya menghiasi setiap babak.

Meski transisi tiap babak tak begitu mulus, hal itu tertutupi lantaran cerita yang kuat sehingga membuat penonton tetap mengikuti jalan cerita.

Kisah Marlina juga menyuguhkan potret cerita yang miris di pelosok Indonesia. Himpitan kemiskinan membuat Marlina tak bisa membiayai pemakaman suaminya. Sang suami terpaksa jadi mumi yang berbungkus kain di sudut rumahnya. Ia menjadi saksi kebiadaban para perompak.


Belum lagi soal akses dan moda transportasi yang sulit di Sumba tergambar lewat pengambilan gambar dengan angle lebar. Marlina mesti menunggu bus truk demi menjangkau aparat kepolisian.

Ketika bus tak bisa diandalkan, Marlina berkawan dengan kuda yang ditungganginya sampai ke kantor polisi. Tiba di sana, aparat pun tak bisa diharapkan menuntaskan kasus Marlina. Sebuah kritik sosial yang cerdas.

Di sisi lain, Marlina merupakan tontonan yang menghibur. Lewat dialek, dialog, pengambilan gambar, dan musik pengiring yang memanjakan mata dan telinga.

Dialek khas yang berhasil dimainkan para lakon itu berpadu dengan dialog yang banyak mengandung komedi gelap. Sebuah lelucon hidup yang patut ditertawai.


Ditambah eksotisme tanah Sumba dengan pengambilan wide angle yang ekstrem, diiringi musik yang manis. Membuat penoton betah berlama-lama menyaksikan Marlina selama 1 jam 30 menit.

Para pemain dalam Marlina Si Pembunuh Empat Babak benar-benar tampak seperti orang Sumba. Kredit untuk Marsha dan juga Dea Panendra yang berperan sebagai Novi, kawan Marlina.

Sedikit catatan soal Novi yang tengah hamil lebih dari 9 bulan, beberapa kali sempat terlibat perkelahian yang membuatnya terjatuh, namun kondisinya tak masalah. Hal itu mungkin karena sang sutradara ingin menggambarkan wanita Sumba yang berfisik sangat kuat.


Terlepas dari itu, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, yang telah melanglangbuana di berbagai festival internasional, layak disaksikan di rumah sendiri. Sebuah film dengan genre dan cerita yang segar dalam dunia perfilman Indonesia.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak bisa disaksikan di bioskop mulai Kamis, 16 November 2017.

[Gambas:Youtube] (res)