Stephany Josephine
Penulis adalah seorang Corporate Communications Manager yang bekerja di sebuah perusahaan tech swasta di Jakarta. Ia mengisi waktu senggangnya dengan berburu kedai kopi & makanan enak, baca buku, nonton konser & film, solo traveling, dan menuliskan semua pengalaman itu di blog pribadinya, www.thefreakyteppy.com, sebuah blog gaya hidup yang sudah ia rintis sejak 2007.

Dilan dan Rasa yang Ditinggalkannya

Stephany Josephine, CNN Indonesia | Sabtu, 10/02/2018 15:59 WIB
Dilan dan Rasa yang Ditinggalkannya Ilustrasi film Dilan 1990. (Dok- Falcon Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saya paling enggak suka dengar kata "baper" (bawa perasaan). Menurut saya kata ini overused alias terlalu sering digunakan dalam berbagai konteks. Saking seringnya terdengar di mana-mana, kata ini juga malah jadi earworm.

Salah satunya di tengah kehebohan demam film Dilan 1990 yang masih berlangsung sampai sekarang. Sering kali saya membaca kalimat semacam ini berseliweran ketika browsing:

"Filmnya bikin baper."


Namun sayangnya (atau untungnya?) kali ini saya harus setuju. Film Dilan 1990, film percintaan anak SMA bernama Dilan dan Milea, yang saya tonton tanpa ekspektasi dan pengetahuan apa-apa mengenai isi bukunya, ternyata sukses membuat saya dan teman-teman perempuan saya terbawa perasaan.

Kami dibuat terlempar lagi ke masa SMA, tapi kali ini sebagai Milea yang sedang dikejar-kejar Dilan dengan metode PDKT-nya yang unik, sederhana, tapi intriguing. Terbawa perasaan sampai jadi "gila," bahkan.

Ya, gila. Selagi nonton, bawaan kami ingin mesem-mesem, cubit-cubit teman di sebelah, atau pukul-pukul kursi bioskop. Apakah ini terdengar normal buat perempuan-perempuan yang sudah belasan tahun meninggalkan bangku SMA?

Seolah itu enggak cukup, sesi fangirling kami yang sudah tidak pada umurnya ini juga berpindah ke pembahasan di Twitter, pembicaraan di kantor, atau pembicaraan ketika ngumpul sehabis ngantor. Bahkan ada teman saya yang anaknya sudah remaja khusus menelpon saya setelah dia keluar bioskop hanya untuk membahas film ini adegan per adegan dan betapa dia sangat kesengsem sama karakter Dilan.

Saking sukanya saya dengan film yang manis dan nyaris tanpa konflik ini, saya lalu langsung baca buku pertamanya, menonton filmnya untuk kedua kali, dan mendedikasikan satu hari untuk menulis resensi filmnya yang ternyata menjaring lebih banyak lagi perempuan #TerDilan di kolom komen blog, Twitter, dan Instagram saya.

Semuanya gemes, semuanya baper!

Saya enggak tau apakah efek yang sama terjadi juga di kalangan para lelaki. Apakah mereka juga ikutan senyum-senyum nostalgia atau justru pengen noyor Dilan karena gombalannya.

Yang pasti sih adik laki-laki saya yang sudah 27 tahun saja ketawa-ketawa sambil tepuk tangan setiap kali Dilan melontarkan jurus gombalannya. Smooth banget, katanya. Jadi pengin berguru. Nah, itulah!

Kenapa Dilan dan filmnya begitu istimewa?

Beberapa hari lalu ada yang sempat menanyakan pendapat saya soal film ini, terutama kenapa saya sampai sedemikiannya terkena demam Dilan. Saya lalu bilang, saya suka sekali dengan rasa yang ditinggalkan film ini buat saya.

Dilan adalah angin segar. Setidaknya buat saya, Dilan hadir ketika saya sudah jenuh dengan film-film percintaan yang kebanyakan begitu-begitu saja.

Dilan hadir ketika saya yang mulai "menua" ini sudah tahu rasanya terbentur realita hidup, pahit manisnya percintaan dewasa, beratnya cicilan, banyaknya kerjaan di kantor, dan lain-lain, sehingga saya bisa break sejenak dari kenyataan.

Saya seolah tiba-tiba diingatkan kalau dulu saya bisa dibuat bahagia dengan cara yang sangat sederhana. Sesederhana senangnya Milea boncengan motor pertama kali atau dibekali kerupuk ketika makan bakso bareng Dilan. Sungguh random sekali bagian yang kerupuk ini, tapi mengena di hati. Gemes.

Dilan hadir dalam setting waktu yang tepat (Sebagai siswa SMA. Karena kalau dia digambarkan sudah dewasa mungkin saya akan cringe sepanjang film). Dilan dibawakan dengan sangat apik oleh Iqbaal Ramadhan yang dengan hebatnya menghidupkan karakter ini. Tengilnya dapat, manisnya dapat, tulusnya dapat. Terasa sekali dia memerankan karakter ini dari hati. Semua kelihatan dari mata dan gerak gerik tubuhnya.

Demikian pula Vanesha. Chemistry Iqbaal dan Vanesha Prescilla sebagai Milea juga luar biasa. Itu yang bikin saya dan teman-teman perempuan saya jadi kangen masa pacaran masa SMA, karena yaaa... dulu kami memang sepolos itu.

Dilan adalah utopia, karakter manusia unik yang akan jarang sekali kita temukan di dunia nyata. Mungkin juga enggak ada, tapi selama menonton filmnya saya enggak keberatan kalau harus "mimpi sesaat" kalau dia itu nyata. Namanya juga lagi break dari kenyataan.

Dilan itu out of the box. Nyeleneh, tapi bikin penasaran. Sehari-harinya dia puitis dan kalau berkata-kata baku sekali, apalagi sama Milea.

Sayangnya di film memang tidak dijelaskan kenapa dia begitu. Namun, kalau di buku diceritakan kalau Dilan suka membaca buku-buku sastra karya Sutan Takdir Alisjahbana, Idrus, dan Iwan Simatupang.

Tapi dengan gaya bahasanya yang puitis dan kenyelenehannya itu, Dilan tetap manis dengan caranya sendiri, dan nggak pretensius. Menonton filmnya mengingatkan saya akan manisnya film A Walk to Remember (2002) dan About Time (2013). Adegan Landon yang membawa Jamie ke garis perbatasan antara North Carolina dan Virginia karena Jamie punya daftar harapan yang salah satunya ingin berada dalam dua tempat di saat yang bersamaan, atau adegan hari-hari Tim dan Mary berangkat kerja bareng atau pulang kencan di London underground dilatari lagu "How Long Will I Love You?" itu buat saya sangat sederhana tapi manis luar biasa.

Hal yang sama saya juga rasakan di film Dilan 1990 ini. Saya senyum-senyum sendiri jika ingat Dilan ternyata cuma ingin mengantarkan Milea pulang naik angkot karena takut ada yang ganggu di jalan. Saya senyum-senyum liat adegan caper-nya Dilan ke Milea ketika cerdas cermat, adegan tengil yang paling mengena di hati saya. Saya jadi ikutan ingin ditelepon Dilan setiap malem, jadi ingin diucapin selamat tidur dari jauh sama dia, jadi ingin bisa enggak rindu, karena rindu itu berat, cuma Dilan yang kuat.

Saya malah jadi ingin disakitin orang, hanya demi melihat seberapa jauh Dilan akan berusaha "menghilangkan" orang yang menyakiti saya itu. Saya juga ingin kalau ulang tahun dikirimi TTS yang sudah diisi, atau kalau lagi sakit dikirim tukang pijat. Bahkan dilarang keluar rumah karena gerimis pun nggak papa, asal Dilan senang.

Sahih, setelah menonton film ini saya resmi gila. Gila karena enggak pernah sebahagia ini lihat kerupuk dan materai. Gila akut karena saya dan teman-teman perempuan saya bisa dibuat terseok-seok sama karakter fiktif ini.

Kalau dulu kakak-kakak saya di kantor punya Mas Boy dari Catatan Si Boy atau Lupus versi Ryan Hidayat, kalau waktu saya SMA dulu saya punya Rangga-nya Ada Apa dengan Cinta dan jadi terobsesi ingin kencan ke Kwitang atau masak bareng pacar dan membahas buku "Aku"-nya Sjuman Djaya, maka kali ini saya tahbiskan Dilan sebagai ikon baru untuk generasi sekarang yang tetap mengena untuk perempuan menjelang tante semacam saya.

Dilan, Rangga, Lupus, Boy, dan ikon cowok-cowok fiktif lainnya memang tidak bisa dibandingkan karena semua punya keistimewaan masing-masing. Namun, untuk sementara ini, Dilan mengisi posisi teratas buat saya dengan kelihaiannya mengambil hati perempuan dari segala usia.

Dia mengisi kerinduan saya terhadap karakter laki-laki manis tapi tetap jantan yang bertekad membakar sekolah kalau sampai Milea-nya ditampar sang kepala sekolah. Sebuah niat mulia yang untungnya hanya terucap di film dan untungnya cuma niat. Tapi niat saja sudah bikin saya gila seperti ini.

Ah, ternyata benar kata Dilan. Jangan rindu, berat.

Ternyata saya memang nggak kuat.

(vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS