Wawancara Khusus

'Ayah' Pidi Baiq Menjawab Semua soal 'Dilan 1990'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 10/02/2018 14:41 WIB
Pidi Baiq sering diduga sebagai Dilan yang asli. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dilan 1990 membuktikan kesuksesannya sebagai film terlaris 2018 sejauh ini. Sejak ditayangkan dua pekan terakhir, film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Pidi Baiq itu telah mengantongi lebih dari 4,3 juta penonton.

Angka tersebut pun kemungkinan masih bisa bertambah, seiring filmnya yang masih ditayangkan di bioskop-bioskop tanah air.

Pidi Baiq yang juga berperan sebagai sutradara film ini bersama Fajar Bustomi, memaparkan pandangannya terkait sosok Dilan kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di Rumah The Panas Dalam, Bandung, Rabu (7/2) lalu. Berikut wawancaranya.


Film Dilan sudah mengantongi angka penonton yang terbilang besar dengan mencapai lebih dari empat juta penonton. Bahkan karakter Dilan ramai menjadi perbincangan masyarakat, khusus di media sosial. Sebagai penulis kisahnya bagaimana Anda melihat fenomena ini?

Saya tidak tahu harus bagaimana, yang jelas tanggung jawab saya sudah selesai. Saya cuma menulis, kemudian menjadi sutradara bersama Fajar Bustomi, maka sudah. Bahwa kemudian penontonnya banyak, saya harus bilang terima kasih pada semua kawan-kawan saya itu, sebab kalau mereka tidak nonton, film Dilan 1990 tidak akan ada penontonnya.


Tapi, yang paling penting membuat saya senang adalah, banyak yang bilang mereka puas dengan filmnya. Karena buat saya percuma juga penonton banyak kalau filmnya mengecewakan. Zalim rasanya, kalau mereka sudah beli tiket, terus mereka kecewa dengan filmnya. Itu akan membuat saya sedih.

Sejak awal saya bersama Fajar betul-betul ingin bikin film sebaik mungkin, sampai-sampai saya sama Fajar harus berdebat, sampai muncul konflik-konflik kecil di saat syuting, tapi saya tetap sayang sama Fajar. Dan Fajar ke saya sepertinya lebih sayang lagi, lebih dari saya ke dia.

Karakter Dilan sekarang seolah sudah dimiliki publik?

Saya tidak bisa bilang apa-apa, selain merasa senang. Itu adalah rasa syukur dalam bentuknya yang lain. Atau sebetulnya saya benar-benar bingung harus gimana kalau benar Dilan dianggap sudah menjadi milik umum, saya tidak di-setting untuk siap menyikapi situasi seperti itu. Tapi mudah-mudahan bermanfaat. Kita semua ini akan mati kan, apa yang kita lakukan sebelum itu? Salah satunya harus bermanfaat tapi bukan yang dimanfaatin.

Hasil ini menjadi pembuktian kepada yang sempat meragukan filmnya?

Soal itu, saya mau bilang, saya senang sama mereka-mereka yang pernah underestimated ke Iqbaal, yang protes-protes ke saya enggak setuju Iqbal yang jadi Dilan. Saya senang, karena tanpa itu nanti saya tidak akan ada kontrol.

Bagus. Itu bagus. Malahan, itu saya jadikan senjata ke si Iqbaal untuk bilang, 'Nih Bal, mereka protes kamu yang meranin Dilan. Tapi jangan ambil hati, kamu harus buktiin kamu bisa. Bukan untuk membuat kecil hatimu, juga jangan marah, mereka hanya menuntut kamu main bagus.' Ternyata Iqbaal benar-benar mainnya total. Itu menyenangkan. Iqbaal cukup sesuai seperti yang saya inginkan. Kalau saya cewek, mungkin saya akan cinta juga ke dia.

Saat penggarapan film apa saja yang ditanamkan ke Iqbaal untuk mendalami karakter Dilan?

Saya hanya kasih tahu: Iqbaal, yang nulis novelnya saya, jadi kamu hanya harus nurut ke saya, bukan ke orang yang sok tahu padahal sebetulnya enggak tahu apa-apa. Enggak usah nurut. Meskipun dia punya kuasa tapi seleranya rendah, enggak usah digubris. Kamu harus ingat, novel Dilan bikinan saya. Saya yang tahu Dilan.

Terus saya kasih tahu bagaimana Dilan bicara, bagaimana Dilan berjalan dan lain-lain. Kerennya Iqbaal, dia nurut. Bahkan dia sampai mau menjadi anggota salah satu geng motor yang ada di Bandung untuk bisa menghayati perannya. Dia diajak berkumpul dengan mereka.

Itu dia Iqbaal. Sungguh-sungguh. Dari awal saya milih Iqbaal saya mah enggak mau tahu Iqbaal siapa dulunya. Itu urusan Iqbaal dengan masa lalunya. Yang pasti Iqbaal bukan Dilan. Iqbaal adalah orang yang dipilih untuk meranin Dilan, yang harus taat pada skenario. Dan jangan lupa salat. Juga puasa di bulan Ramadan.

Banyak fan theory tentang Dilan, bagaimana tanggapan Anda melihat hal ini?

Saya enggak bisa melarang mereka. Tapi sejak awal menulis novel, saya sudah berjanji sama Dilan aslinya, sama Milea, sama pemeran lain, terutama sama orang yang tidak saya percaya, karena saya ragukan dia bisa keep silent, saya minta tanda tangan di atas materai. Jangan ngomong, karena ini supaya tidak mengganggu dengan siapa hidup mereka sekarang.

Lalu ada yang mengusik kehidupan pribadi mereka dengan atau terus menerus mencari tahu? Mungkin mereka enggak ada kerjaan. Kalau ada kerjaan ya buat apa. Hahaha.

Fan theory yang paling konyol tentang mereka?

Itu, sampai ada yang bikin surat seolah-olah itu adalah surat dari Mas Herdi beneran [suami Milea sekarang].

Saya kaget, saya langsung konfirmasi ke Lia, Kata Lia 'Enggak, enggak bikin'. Setelah itu, saya langsung ketawa. Ya, Tuhan, ini orang, enggak ada kerjaan apa?

Terus ada yang mengaku dirinya adalah Piyan yang jadi tokoh di buku Dilan. Terus ada yang mengaku dirinya adalah Wati yang ada di novel Dilan. Mana mungkin? Kan mereka sudah berjanji tidak akan mengungkapkan asli dirinya. Mereka orang-orang yang bisa saya percaya.

Ada juga yang mengaku dirinya Dilan, hahaha. Itu yang buat saya ketawa. Terus ada yang sampai mendatangi sekolah-sekolah di daerah Buah Batu untuk menyelidiki siapa Dilan sebenarnya, siapa Milea sebenarnya. Hahaha.

Terus ada yang bilang: 'Saya kenal Pidi, dia itu adalah begini dan begitu,' seolah-olah dia itu sangat tahu diri saya melebihi saya sendiri.

Wawancara dengan Pidi Baiq masih berlanjut di halaman selanjutnya...


(rsa)


1 dari 2