Bens Radio, 'Teriakan' Lintas Zaman Benyamin Sueb

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Minggu, 04/03/2018 15:27 WIB
Bens Radio, 'Teriakan' Lintas Zaman Benyamin Sueb Benyamin Sueb mendirikan Bens Radio bukan hanya untuk penyambung hidup kala perfilman Indonesia menurun era 90-an, tapi sebagai 'teriakan' melintas zaman. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Maunya itu.. merek hape durian blenyek.." kata suara perempuan. "Ebuset!" timpal suara lelaki.

Percakapan dengan gaya berbicara khas Betawi kental terasa dari siaran Bens Radio. Radio itu satu-satunya yang masih menggunakan aksen Betawi dan menyiarkan berbagai lagu pendirinya, Benyamin Sueb, dengan rutin.

Radio itu pula sebagai warisan sang seniman legendaris Betawi tersebut yang hidup di tengah arus modern dan kebarat-baratan di kampung halaman Betawi, Jakarta.


Bens Radio bukan hanya sekadar radio yang dibangun oleh Benyamin Sueb untuk menyambung hidup. Radio yang diresmikan pada 5 Maret 1990 itu menyimpan mimpi sang empunya yang telah meninggal 22 tahun silam.


"Babe kalau 'teriak-teriak', paling yang dengar sekecamatan. Enak kali ya kalau ada radio? Jangkauannya lebih jauh," kenang Benny Pandawa, anak bontot Benyamin dan Noni yang kini mengelola radio tersebut.

"Maksud dia 'teriak' itu siar tentang budaya," lanjutnya.

Benny merupakan penerus yang mengelola Bens Radio. Awalnya, radio ini dikelola oleh abangnya, anak pertama Benyamin dengan Noni, Bieb Habani. Duet Benyamin dan Bieb adalah fondasi berkembangnya radio etnik berbasis komunitas tersebut.

Dalam buku biografi Benyamin Sueb: Muka Kampung Rezeki Kota yang ditulis Ludhy Cahayana dan Muhlis Suhaeri, Benyamin Sueb berpikiran mendirikan radio ketika perfilman Indonesia mulai mengalami kelesuan di akhir dekade '80-an.

Kala itu, Benyamin sudah mulai ambil tawaran kerja lainnya selain film dan musik, mulai dari ikut tawaran membuat opera sabun alias sinetron, hingga menjadi pembawa acara. Namun dengan radio, ia punya kepuasan lain selain materil.


Kepuasan batin yang didapat Benyamin adalah ketika ia memiliki wadahnya sendiri menyuarakan karya dia, budaya dan kesenian Betawi, dan membantu sejumlah kerabat juga pemuda lokal mendapatkan pekerjaan.

Bens Radio, 'Teriakan' Lintas Zaman Benyamin SuebBenny Pandawa (kiri) dan Billy Sabilla, saat ziarah ke makam Benyamin Sueb, Januari 2018. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Benyamin memang mengonsep Bens Radio dengan penuh cinta. Ia menginginkan radionya itu bukan hanya sekadar radio, tapi jadi wadah interaksi dia dan penggemar, sesama masyarakat Betawi, serta pelestarian budaya dengan pertunjukkan dan mengenalkan kepada pendengar.

"Mudah-mudahan menularkan semangat berkarya [Benyamin] dan melestarikan budaya," kata Benny.

Puluhan tahun mengudara dilewati Bens Radio dengan berbagai cerita.


Otak kreatif dan keceriaan Benyamin membuat Bens Radio unik nan ikonis. Tangan dingin Bieb membuat radio itu menjadi jaringan radio etnik terluas dengan belasan anak radio lokal di berbagai daerah dengan kekuatan budayanya masing-masing.

Bahkan pada 2001 dan 2002, lembaga AC Nielsen menyatakan Bens Radio menjadi radio dengan jumlah pendengar terbanyak di kawasan Jabodetabek.

Namun lebih jauh dari sekadar radio berprestasi, Bens Radio menjadi museum mini bagi mereka yang ingin mengenang Benyamin Sueb. Kantor radio yang terletak di Ciputat dan Jagakarsa menyimpan barang-barang dan karya Bang Ben.

Misalnya, kantor Bens Radio di Ciputat menjadi tempat penyimpanan foto-foto lawas, lagu-lagu yang sudah didigitalisasi, serta beberapa rel film Benyamin dulu kala. Kantor itu sendiri memiliki dua bangunan dengan sentuhan gaya Betawi. Tembok dua bangunan itu didominasi cat kuning dan sedikit hijau.

Pada beberapa sudut terdapat spanduk dengan sketsa wajah Benyamin berdampingan dengan tulisan 'Bens Radio'. Halamannya cukup luas, menurut Benny, itu sengaja karena kerap digunakan untuk kegiatan kebudayaan.

Sedangkan di kantor Bens Radio di Jagakarsa disebutkan Benny menjadi tempat penyimpanan baju-baju serta atribut panggung yang pernah digunakan sang ayah.

Bens Radio kerap mengadakan acara mengenang Benyamin Sueb, seperti pada 2015 lalu. Bens Radio kerap mengadakan acara mengenang Benyamin Sueb, seperti pada 2015 lalu. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Di Balik Bens Radio

Tak sedikit yang mengira bila nama Bens Radio diambil dari panggilan singkat Benyamin. Namun nama itu sebenarnya berasal dari singkatan Bergaya Nyanyian Irama Sejati.

"Bens Radio mengudarakan banyolan khas gue. Misalnya, ketika merekrut penyiar yang sama sekali baru, gue katakan bahwa radio ini ya bermuara pada gue," kata Benyamin, seperti yang ditulis dalam buku Benyamin Sueb: Muka Kampung Rezeki Kota.

Di sisi lain, dalam profil di situs radio yang memiliki tagline 'Betawi Punye Gaye Selera Siape Aje' ini disebutkan radio itu tercipta atas cita-cita pendirinya untuk tetap melestarikan budaya tradisi nenek moyang.



Namun bukan tanpa hambatan untuk meneruskan warisan Benyamin yang satu ini.  Benny mengungkapkan bahwa Bens Radio juga mengalami jatuh bangun, terlebih dengan perkembangan teknologi yang kini membuat banyak orang lebih memilih media sosial.

"Bens Radio mengudarakan banyolan khas gue. Misalnya, ketika merekrut penyiar yang sama sekali baru, gue katakan bahwa radio ini ya bermuara pada gue,"Benyamin Sueb

"Awalnya banyak yang meragukan, terlebih sejak ditinggal Babe, tapi ternyata 28 tahun ini masih ada dan bertahan. Masalah pasti ada, tapi radio ini lebih dari bisnis, melainkan pemersatu keluarga," katanya.

"Media sekarang kan memang semakin banyak, dengan semuanya beralih ke online, kami juga akhirnya mengikuti. Menyediakan live streaming misalnya," lanjut Benny.

Namun satu yang tetap dipegang teguh untuk menunjukkan bahwa Bens Radio memang radio Betawi.

Mereka berjanji menghadirkan nuansa Betawi dalam setiap kegiatannya, termasuk menggunakan bahasa Indonesia dan Betawi dalam komunikasi sehari-hari, termasuk menyapa pendengar setianya.

"Bens Radio.. Betawi punye gaye selera siape aje.. Ini mau ganti acare, jangan kemane-mane..." (end)




BACA JUGA