Usmar Ismail, Pelopor Film sampai Kelab Malam Indonesia

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Selasa, 20/03/2018 16:52 WIB
Usmar Ismail, Pelopor Film sampai Kelab Malam Indonesia Usmar Ismail menjadi Google Doodle hari ini, 20 Maret. (Dok. Buku Peran Pemuda dalam Kebangkitan Film Indonesia via Wikimedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Google Doodle hari ini, Selasa (20/3) memajang sketsa Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail. Itu bertepatan dengan hari ulang tahun ke-97 Usmar, yang jatuh pada 20 Maret.

Dengan latar rol film, animasi Usmar tampil bersama tiga sosok perempuan yang tampak seperti tokoh di film Tiga Dara, salah satu film pria kelahiran Bukittinggi itu.

Hidup Usmar sebagai sutradara legendaris Indonesia, sudah bukan rahasia lagi. Pria yang wafat pada 2 Januari 1971 itu telah menghasilkan 28 karya film semasa hidupnya, termasuk Darah dan Doa, Lewat Djam Malam, Tiga Dara, dan masih banyak lainnya.



Darah dan Doa bahkan ditetapkan sebagai film nasional pertama. Ia dinilai sebagai film lokal yang mencirikan Indonesia dan diproduksi oleh perusahaan film milik orang Indonesia asli yang bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia), Usmar pendirinya.

Hari pertama syuting film itu, pada 30 Maret 1950, pun kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Usmar pun didapuk sebagai pelopor perfilman Indonesia.

Karier Usmar sebagai sutradara berawal dengan keterlibatannya di film garapan Andjar Asmara, Gadis Desa (1949). Pada tahun yang sama ia memulai debutnya lewat Harta Karun.


Usmar juga dikenal secara internasional. Itu saat ia menyutradarai film berjudul Pedjuang pada 1961, yang mendokumentasikan kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Film ini sempat ditayangkan dalam Festival Film Internasional Moskwa kedua, dan menjadi film karya anak negeri pertama yang diputar dalam festival film internasional.

Soal bekal film, Usmar memperoleh gelar B.A. (Bachelor of Arts) di bidang sinematografi dari Universitas California, Los Angeles pada 1952. Dia pun pernah tergabung dalam Pusat Kebudayaan dan mendirikan Sandiwara Penggemar 'Maya,' pada masa pendudukan Jepang.

Ia juga dikenal aktif sebagai pengurus lembaga yang berkaitan dengan teater film. Usmar diketahui pernah menjadi Ketua Badan Permusyawaratan Kebudayaan Yogyakarta (1946-1948), Ketua Serikat Artis Sandiwara Yogyakarta (1946-1948), Ketua Akademi Teater Nasional Indonesia, Jakarta (1955-1965), dan Ketua Badan Musyawarah Perfilman Nasional (BMPN).


Ia juga tercatat sebagai pendiri Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) bersama Djamaluddin Malik dan para pengusaha film lainnya, lalu menjadi ketuanya sejak 1954 sampai 1965. Di samping itu, Usmar pun dikenal sebagai sastrawan dan budayawan.

Tidak hanya itu, sang sutradara Tiga Dara sempat menjajal menjadi anggota TNI di Yogyakarta dengan pangkat mayor, kemudian terjun ke dunia wartawan sebagai redaktur di beberapa media massa. Ia pernah menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (1946-1947).

Bidang lain, Usmar juga aktif di politik dengan menjabat sebagai Ketua Umum Lembaga Seniman Muslimin Indonesia (Lesbumi) (1962-1969), Anggota Pengurus Besar Nahdatul Ulama (1964-1969) dan Anggota DPRGR/MPRS (1966-1969).

Google Doodle hari ini, 20 Maret, menampilkan Usmar Ismail.Google Doodle hari ini, 20 Maret, menampilkan Usmar Ismail. (Google)
Di luar bidang-bidang tersebut, Usmar juga dikenal menjadi orang Indonesia pertama yang mendirikan kelab malam, yakni Miraca Sky, di puncak gedung Sarinah pada akhir 1960-an. Usmar merintis bisnis itu sejak 1967, namun bangkrut pada 1970-an. (rsa)