Music at Newsroom

Polka Wars, Bermusik dari Pondok Labu sampai New York

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Rabu, 18/04/2018 18:30 WIB
Polka Wars, Bermusik dari Pondok Labu sampai New York Polka Wars menjelma menjadi band yang diperhitungkan di ranah musik independen Indonesia. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polka Wars menjelma menjadi band yang diperhitungkan di ranah musik independen setelah merilis album perdana bertajuk Axis Mundi (2015). Sebelum itu, mereka sempat merilis 100 keping cakram padat (CD) lagu Mokele yang habis dalam 150 menit.



Siapa sangka Polka Wars yang mengusung genre indie rock berisikan empat personel yang sebelumnya memainkan musik metal. Mereka adalah Karaeng Adjie (vokal/gitar), Billy Saleh (gitar), Xandega Tahajuansya (bas) dan Giovanni Rahmadeva (drum).


Musik metal mereka jajaki sejak sekolah di SMA Al Izhar, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Hanya Dega dan Aeng yang tergabung dalam satu band, sedangkan Billy dan Deva berada dalam dua band berbeda.


"Kita semua angkatan 2009, kecuali Deva angkatan 2007. Dari masih main musik metal kami sudah sering bertemu. Tapi belum nge-band bareng," kata Billy saat mengunjungi kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Saat Deva hendak lulus pada tahun 2010, Dega mengajak untuk bergabung dalam band yang sudah dihuni Aeng dan Billy. Deva yang belum tahu band tersebut beraliran apa setuju untuk gabung.

Deva kaget ketika mengetahui Dega yang biasa berperan sebagai vokalis berperan sebagai pemain bas. Pun begitu dengan Aeng yang biasa berperan sebagai pemain bas menjadi vokalis dan gitaris.

"Kalau Billy, saya sudah tahu dia main gitar dari dulu. Ya bisa dibilang kami ini sisa dari anak-anak band di sekolah yang ilang-ilangan. Jujur saat itu Polka Wars belum ada konsep," kata Deva.

Mereka berempat meracik formasi baru dengan tidak mengusung musik metal. Dega meninggalkan teknik 'vokal sedot' yang biasa ia pakai saat tampil bersama bandnya dulu.

Aeng mengaku meninggalkan musik metal lantaran membutuhkan hasil yang berbeda dalam berkarya. Proses pendewasaan membuatnya mencari musik yang lebih tepat secara personel.

Deva memiliki alasan yang sama dengan Aeng. Sementara Billy meninggalkan musik metal lantaran sulit mencari personel.


Polka Wars mulai bermusik saat para personelnya bersekolah di SMA Al Izhar, Pondok Labu. Polka Wars mulai bermusik saat para personelnya bersekolah di SMA Al Izhar, Pondok Labu. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Walau tidak kesulitan, Dega merasa tertantang untuk membuat musik yang tak biasa ia buat. Memainkan musik dengan gaya baru dan menulis dengan gaya baru.

Kala itu Polka Wars banyak mendengar musik indie rock Amerika Serikat pada tahun 2008 sampai 2009. Beberapa diantaranya adalah Interpol dan The National. Band asal Jakarta ini juga mendengar The Beatles sebagai referensi.

"Setelah itu kami latihan dengan gaya sendiri, sampai akhirnya keluar single pertama bertajuk Caroline," kata Dega.

Polka Wars terus berkarya sampai memiliki cukup bahan untuk direkam. Materi yang direkam pada 2014 dan kemudian dirilis pada 2015 itu diberi judul Axis Mundi.

Tak lama setelah rekaman, Deva melihat ada kompetisi Converse Rubber Tracks dengan hadiah rekaman di New York. Tanpa pemberitahuan ke personel lain, Deva inisiatif mendafarkan Polka Wars untuk ikut kompetisi itu.

"Tiba-tiba kami dapat kabar kalau masuk lima besar bersama Stars and Rabbit, Monkey To Millionaire, Barefoot dan Seaside. Setalah itu pemilihan pemenang lewat Twitter dan Facebook, langsung kami minta tolong saudara dan teman-teman," kata Deva.

Billy menambahkan dengan canda, "Kami sempat sewa cyber army."


Polka Wars yang menjadi pemenang kompetisi itu dijadwalkan berangkat ke New York, Amerika Serikat pada Oktober 2014. Sayang visa Billy tak kunjung keluar hingga keberangkatan harus diundur menjadi Mei 2015.

Mereka menetap di New York selama dua pekan dengan jatah rekaman selama empat hari. Waktu itu mereka manfaatkan untuk merekam lagu Rangkum, Seek dan Obese Elves.

"Lagu Rangkum itu bahasa Indonesia dan baru kami selesaikan lirik beberapa saat sebelum rekaman. Masa kami band Indonesia tapi enggak merekam lagu bahasa Indonesia di negara lain," kata Aeng.

Proses rekaman berjalan lancar tanpa hambatan. Pun materi yang direkam sudah melalui proses mixing dan mastering oleh produser dari Rubber Tracks.

Tak hanya merekam, di sana mereka bertemu dengan Wahono yang merupakan lulusan Berkeley University jurusan musik. Saat di Indonesia, Wahono menjadi produser lagu Yucon.

Tiga lagu yang direkam di New York, plus Yucon, dirilis sebagai mini album bertajuk EPNY pada akhir 2017 lalu. Polka Wars memang ingin merilis materi yang direkam di New York pada satu bagian khusus.

"Kami senang sekali dan enggak menyangka bisa satu band sama teman SMA sampai sekarang. Semua berjalan lancar," kata Dega.

Deva menambahkan, "Ya kami enggak pernah merencanakan. Bersyukur bisa rekaman di New York dan bisa rilis."

Musik Polka Wars bisa didengar di CNNIndonesia.com Music at Newsroom yang tayang Rabu (25/4) pukul 14.00 hingga 15.00 WIB.

(res/res)