Produser Jawab Isu 'Settingan' di Balik Layar 'Karma'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 17/05/2018 11:18 WIB
Produser Jawab Isu 'Settingan' di Balik Layar 'Karma' Kepopuleran acara realitas 'Karma' ternyata memantik kesangsian sejumlah pihak. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah sekitar lima bulan terakhir ini tayangan acara realitas Karma menyita perhatian. Program ini menjadi salah satu acara televisi dengan rating tinggi.

Berdasarkan data Nielsen, periode Maret-April 2018, Karma berada di urutan kedelapan acara televisi paling banyak ditonton di Indonesia, yang 50 persen dikuasai oleh pertandingan sepak bola dan 30 persen oleh serial drama.

Kepopuleran Karma ternyata memantik kesangsian sejumlah pihak. Tak sedikit yang menilai bahwa acara tersebut hanya menyuguhkan sensasi berbau mistis dan takhayul, serta menjual masalah pribadi orang lain. Cerita para peserta yang ditampilkan pun dianggap dilebih-lebihkan atau bahkan tak benar-benar terjadi.


Meski demikian, hal itu langsung ditampik Produser Eksekutif Karma, Gunarso. Menurutnya, dia bersama tim tidak pernah mengarahkan peserta.

"Dia sendiri yang datang, dia sendiri yang sukarela dan ikhlas bercerita, kami memberi solusi yang menurut kami [benar]," ujarnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di Studio 2 ANTV di Institut Bisnis Nusantara, Jakarta Timur beberapa waktu lalu.


"Tidak mungkin kami setting, mereka harus bercerita panjang lebar itu setiap hari, berat banget. Apalagi dengan nangis dan sebagainya. Sebenarnya orang bisa merasakan. Intinya, kami menyajikan apa adanya, ceritanya yang sangat menarik untuk dilihat dan kami coba beri solusi yang kira-kira menurut kami baik."

Namun, di sisi lain, Gunarso tak memungkiri bahwa elemen-elemen menegangkan punya punya andil besar untuk membuat tayangan yang digarapnya menjadi lebih dramatis.

"Pastinya kami menambah elemen-elemen suspense, lewat backsound musik ya. Ada efek suara juga. Kalau apa yang terjadi di studio ya memang begitu adanya, tidak ada suara, sebenarnya cuma mengobrol. Jadi penyuntingan sebenarnya punya peran yang sangat memengaruhi," tuturnya.

Dia kemudian menggarisbawahi, "Efek suara bisa dibilang 30 persen punya andil."

Dipandu oleh Robby Purba bersama seorang yang diklaim punya kemampuan supernatural (indigo) Roy Kiyoshi, tayangan Karma merupakan acara realita dengan 31 orang partisipan. Roy nantinya akan memilih tiga peserta yang telah duduk berdasarkan tanggal lahir.


Jika tanggal lahirnya disebut oleh Roy, maka peserta itu akan maju ke depan dan menuturkan cerita atau permasalahan hidup. Masalah itu di antaranya seperti perselingkuhan, dendam, pengkhianatan, dan lainnya. Masalah-masalah ini kemudian dikaitkan dengan hal berbau supernatural.

Selama bercerita, partisipan akan mendapat pandangan serta masukan dari Roy yang memiliki kemampuan supernatural itu.

"Banyak orang-orang Indonesia yang percaya sama hal-hal supernatural, kami sih ingin bahwa semua itu kembali ke agamanya. Artinya, kalau sudah merasa kena santet terus dia pergi lagi ke dukun yang lain, dan itu jujur saja, akan menimbulkan masalah-masalah baru dan memang benar yang Roy sampaikan kan seperti itu," kata Gunarso.

Dia menambahkan, "Bahkan kalau ditarik secara agama juga, Robby kan mewakili Muslim ternyata benar juga bahwa semuanya harus kembali ke atas. Jadi intinya yang kami ingin, orang-orang seperti itu sebaiknya jangan melakukan hal-hal seperti itu lagi. Kami harap kami bisa menjadi program yang akhirnya memberi solusi yang positif."

[Gambas:Instagram]

Para peserta yang terlibat, menurut penuturan Gunarso, melalui proses pendaftaran dan, jika terpilih di seleksi awal, akan lebih dulu diwawancara oleh tim. Bagi yang lolos ke tahap selanjutnya, maka akan diseleksi kembali untuk penyesuaian cerita dan tanggal lahir.

"Sebenarnya semua cerita bisa masuk, cuma kami harus pilah-pilih dan sesuaikan supaya tidak semuanya [soal] KDRT atau kena santet, kan bosan ya. Ini lebih ke kreatif saja, dipencar, dipisah," paparnya lebih lanjut.

Gunarso menekankan bahwa para peserta yang ikut harus telah memiliki KTP. Syarat lainnya termasuk kuat berdiri lama dan sanggup datang ke studio.

"Kalau ibu hamil, LGBT dan pendukungnya, homo dan lesbian, tidak kami undang. Kemudian kami lihat juga yang ceritanya tidak menjelekkan orang lain secara berlebihan," katanya.

Berdasarkan pengamatan CNNIndonesia.com yang hadir langsung ke lokasi syuting Karma, beberapa saat sebelum proses syuting dimulai, para partisipan dipersilakan masuk dari belakang panggung.


Mereka akan diminta menempati kursi dengan nomor yang sesuai dengan tanggal lahir mereka masing-masing. Floor Director (FD) hanya meminta mereka untuk tetap duduk tegak selama syuting dan tidak sibuk melakukan kegiatan sendiri.

Salah satu partisipan yang dipilih Roy akan maju ke tengah panggung dan akan bercerita soal permasalahannya tanpa ada batas durasi. Tim produksi memberi kebebasan partisipan untuk curhat dan mendapat masukan dari Roy dan Robby. Mereka pun diperbolehkan menggunakan masker penutup wajah jika tak ingin identitasnya terumbar.

Karma diadaptasi oleh ANTV dari program televisi serupa di Thailand, Secret Number. Pihak ANTV memutuskan untuk membeli hak ciptanya setelah melihat dan menilai bahwa acara ini menarik untuk tayang di Indonesia.

Gunarso bercerita, setelah keputusan dibuat oleh ANTV, pihaknya langsung mengajukan beberapa kesepakatan dengan penggagas Secret Number di Thailand. Segera setelah meneken kontrak, timnya pun langsung mempelajari program tersebut secara mendalam.

"Kami ke Thailand untuk melihat dan memahami proses produksinya, karena mereka juga punya andil, supaya kualitasnya sama," katanya.

[Gambas:Instagram]

Dia mengungkapkan bahwa pihak Secret Number meminta agar program tersebut dipandu oleh seorang dengan kemampuan supernatural yang dapat memberikan pandangan, masukan dan lainnya. Itu yang kemudian membuat Roy Kiyoshi lantas didapuk sebagai pemandu acara, didampingi Robby Purba.

"Saat itu semuanya belum apa-apa. Orang tidak kenal Roy, saya juga tidak kenal. Ya sudah kami coba jalan saja, dan Roy saat itu mau pembawa acaranya Robby. Di Thailand juga begitu, pembawa acara menimpali, pandangan dia juga bisa dikemukakan, lebih bawel pemandu acaranya daripada si Indigo," tuturnya.

Proses tersebut, papar Gunarso, berjalan selama tiga bulan sebelum akhirnya tayang perdana pada akhir Desember 2017. Baginya dan tim, proses pengadaptasian acara bukan menjadi hal yang sulit. Terlebih, masalah-masalah yang diungkap dalam acara Thailand menurutnya tak jauh berbeda dengan di sini.

"Dapat saya katakan, kita sangat kaya dengan cerita-cerita yang aneh dan ajaib. Saya sendiri tidak kepikiran seperti itu. Jadi 'Wah ada cerita seperti ini, orang-orang pasti suka ya dengan cerita begini.' Dan ternyata benar, ratingnya bagus, orang-orang suka," katanya.


Gunarso mengungkapkan bahwa di awal penayangan rating yang didapat Karma berkisar pada angka 1,9 persen. Namun setelah berjalan sekitar lima bulan, berdasarkan data Nielsen Maret-April, rating Karma naik melesat ke angka 4 persen.

"Itu sempat turun dan naik lagi, lebih [bergantung] pada cerita, kalau saya melihatnya. Cerita yang paling diminati, yakni nomor satu horor. Kedua itu, yang disia-siakan, dijual sama orangtuanya untuk menjadi PSK. Hal-hal yang menderita, yang dia [peserta] hanya bisa berdiri di situ dan menangis saja."

Saat peserta sudah sesedih itu, imbuh Gunarso, duo Roy dan Robby akan membangkitkan semangat dan motivasi kepadanya sehingga ada hal yang bisa dipetik setelah mengikuti acara ini. (res)