Ulasan Film: 'Solo: A Star Wars Story'

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Selasa, 22/05/2018 15:58 WIB
Ulasan Film: 'Solo: A Star Wars Story' 'Solo: A Star Wars Story' mulai tayang Rabu (23/5). (Dok. Star Wars via Youtube)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak pertama muncul dalam Star Wars: Episode IV - A New Hope (1977), Han Solo yang diperankan Harrison Ford sudah identik dengan karakter yang tengil, sok tahu, pembohong, dan nekat. Tidak pernah ada penjelasan soal apa yang membuat Han Solo seperti itu.

Film Solo: A Star Wars Story yang rilis 41 tahun kemudian seakan menjawab pertanyaan itu.

Film itu bercerita tentang Han Solo muda, yang diperankan Alden Ehrenreich, sejak ia hidup di dunia kriminal. Dikisahkan pula pertemuannya dengan pesawat Millennium Falcon, penyelundup Lando Calrissian (Donald Glover) dan kopilot Chewbacca (Joonas Suotamo).



Dari awal sampai akhir film, sutradara Ron Howard menyajikan pembentukan karakter Han Solo lewat berbagai aksi yang ia lalui. Pada bagian awal, alur masih terasa lama lantaran film masih memperkenalkan karakter asli Han Solo yang masih 'hijau.'

Namun semakin lama, alur film terasa makin cepat dan menarik.

Apalagi saat Han terlibat dalam tindak kriminal yang menegangkan. Penonton seakan terhanyut. Sebagai seorang yang nekat, Han memang rela melakukan berbagai hal demi uang, agar bisa membeli hal yang ia inginkan. Membajak kereta pengiriman barang, misalnya.


Howard seakan sengaja menyajikan aksi kriminal demi aksi kriminal yang dilakukan Han, karena itu seakan memberi penjelasan bagaimana karakter sang tokoh utama terbentuk, kepada penonton. Sampai akhirnya, Han yang 'hijau' menjadi Han yang tengil, sok tahu dan nekat.

Tak hanya dipikat lewat serangkaian aksi, penonton juga 'dihipnotis' oleh adegan-adegan komedi yang ditulis Jonathan dan Lawrence Kasdan. Salah satunya saat Han melompat dari pesawat ke kereta. Ia berteriak kencang seakan melompat dengan jarak yang sangat jauh, padahal yang ia lompati hanya berjarak sekitar dua meter. 'Ke-lebay-an' itu disengaja.

Pun begitu dengan adegan ketika Han berhadapan dengan lawannya. Ia berkoar bisa mengerahkan puluhan tentara dari Millenium Falcon ketika memberikan kode jentikan jemari. Alih-alih keluar tentara, Millenium Falcon itu malah terbang meninggalkan Han.

[Gambas:Youtube]

Penyisipan adegan komedi itu menambah kuat karakter Han yang sudah ada sejak bertahun-tahun lalu. Saat Han diperankan Ford, ia juga sering menampilkan adegan kocak.

Bukan karakter Han saja, secara keseluruhan Solo: A Star Wars Story terasa sangat terikat dengan film seri Star Wars. Salah satunya ketika Galactic Empire cukup sering diperbincangkan. Galactic Empire merupakan kepemerintahan yang dipimpin oleh seorang Sith.

Istilah Galactic Empire pertama kali muncul dalam Star Wars: A New Hope (1977). Dalam lini masa semesta Star Wars, sebelumnya Galactic Empire bernama Galactic Republic yang muncul pertama kali dalam Star Wars: Revenge of the Sith (2005).



Selain itu, masih ada detail-detail film yang sangat berkaitan dengan seri Star Wars sebelumnya. Pastikan menonton Star Wars dari Episode I sampai VII sebelum menonton Solo: A Star Wars Story, termasuk film lepas Star Wars: The Clone Wars agar tak ahistori.

Sayang, paduan laga dan komedi yang pas di Solo: A Star Wars Story tak terlalu sempurna karena ada dua adegan yang dipotong dengan kasar, sehingga menimbulkan pertanyaan.

Namun secara keseluruhan, film ini berhasil menjelaskan asal-usul Han Solo tanpa mengenyampingkan cerita Star Wars yang sudah ditayangkan LucasFilm sejak 41 tahun lalu.

Penilaian 8 dari 10 layak diberikan untuk film yang tayang Rabu (23/5) di Indonesia ini.

[Gambas:Video CNN] (rsa)