Kenangan Orang Kwitang tentang Ismail Marzuki

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 26/05/2018 09:41 WIB
Kenangan Orang Kwitang tentang Ismail Marzuki Kenangan akan Ismail Marzuki masih terekam dalam ingatan Alwi Shahab di usianya yang senja. Bang Mail, begitu sang maestro akrab disapa, dikenal amat merakyat. (Wikimedia Commons (PD Indonesia Old))
Jakarta, CNN Indonesia -- Alwi Shahab tengah duduk di kursi roda, memandang halaman rumahnya yang asri di bilangan Condet, Jakarta Timur, di suatu siang yang agak mendung di bulan Mei 2018. Kebiasaan baru semenjak ia mulai pensiun beberapa bulan terakhir.

Usia Alwi yang menginjak 82 tahun dan diabetes yang membuat kakinya kadang terasa sakit. Sang wartawan senior sekaligus sejarawan itu pun terpaksa rehat dari pekerjaan yang telah ia geluti puluhan tahun.

Daya ingatnya tak secermelang dahulu, ketika ia masih berkutat dan rajin menulis segala hal bersejarah tentang kampung kelahirannya, Kwitang dan Jakarta.



Namun ada satu nama yang membuat daya ingat Alwi mendadak bugar, Ismail Marzuki. Tatapan matanya yang sendu mendadak berbinar, pupilnya melebar, nada suaranya bergairah. Nama komponis besar itu begitu melekat dalam kehidupannya.

"Saya dekat rumahnya dengan Ismail Marzuki," kata Alwi dengan suara serak saat CNNIndonesia.com menjenguknya. Alwi menyebut rumahnya di Kwitang hanya dipisahkan oleh gang dengan rumah Ismail Marzuki.

Padahal dalam berbagai tulisan Alwi tentang Ismail Marzuki, nyaris tak ditemukan pernyataan bahwa ia adalah tetangga sang maestro.

Namun pengakuan Alwi kala itu bak potongan puzzle yang menyusun jawaban mengapa Alwi begitu mengetahui soal seluk-beluk maestro kelahiran Kwitang, 11 Mei 1914 tersebut.


Tak terhitung lagi jumlah tulisan Alwi tentang Ismail Marzuki. Mulai dari kisah Ismail yang lahir dan masuk pesantren di Kwitang, pemikiran Ismail Marzuki, hingga kontroversi karyanya dan kehidupan terakhir istri sang maestro.

Alwi Shahab, wartawan senior sekaligus sejarawan dan tetangga Ismail Marzuki.Alwi Shahab, wartawan senior sekaligus sejarawan dan tetangga Ismail Marzuki. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

"Ismail itu orang yang tegas, seniman yang tulen, dia pencipta lagu-lagu yang dikenal di seluruh Indonesia. Ciptaannya begitu banyak, hingga dia sendiri kalau ditanya dia enggak ingat berapa," kenang Alwi.

"Tapi dia hebat sekali tuh, sampai Bung Karno menghormati dia," lanjutnya.

Alwi mengenang sebagian kehidupannya yang telah berlalu nyaris enam dekade silam. Di dekade '50-an, kala dirinya masih berusia muda, ia sering bertemu dan berbincang-bincang dengan Ismail Marzuki.

Ada banyak hal yang jadi topik pembicaraan antara Ismail dan Alwi. Alwi, yang kala itu sekitar berusia 20-an, tampak benar terinspirasi oleh sosok Ismail yang lebih tua 20 tahun darinya.

Tapi dia hebat sekali tuh, sampai Bung Karno menghormati dia.Alwi Shahab tentang Ismail Marzuki
Sang maestro yang kala itu lebih dikenal sebagai sosok anggota orkes Lief Java dan penyiar radio di era mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia ternyata juga memiliki pemikiran mendalam lainnya selain musik.

"Dia itu merakyat," kata Alwi menggambarkan sosok Ismail Marzuki dalam kehidupan berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya.

"Kami membicarakan perjuangan Indonesia. Rakyat waktu itu memang masih miskin keadaannya. Tapi semangatnya harus ditiru hingga Bung Karno menamakan dia seorang pejuang kemerdekaan yang patut kita banggakan," kata Alwi.

Dalam salah satu tulisan Alwi tentang Ismail bertajuk Ismail Marzuki, Santri yang Melegenda Lewat Lagu Perjuangan yang diterbitkan oleh Republika pada 25 September 2016, wartawan itu mengisahkan pertemuan pendidikan Barat dan agama Islam membentuk karakter Ismail Marzuki.

Ismail Marzuki ketika muda, berpose di pianonya.Ismail Marzuki ketika muda, berpose di pianonya. (Arsip Taman Ismail Marzuki)

"Di sebuah rumah yang sebagian dindingnya terbuat dari papan lahir seorang bayi mungil." tulis Alwi. "Di rumah petak (kini Jl Kembang IV/97, Kwitang) inilah Ismail dibesarkan."

"Menurut salah seorang kerabatnya di Kwitang, keadaan rumah Ismail yang kini ditempati seorang Cina kini sudah jauh berbeda. Dulu di depannya terdapat teras tempat Ismail bermain musik dan mencipta lagu. Rumah itu terletak sekitar 40 meter dari Masjid Kwitang."

Alwi menyebut di samping masjid tersebut terdapat sebuah madrasah bernama Unwanul Falah yang dipimpin oleh Habib Ali Alhabsji. Di pesantren itu lah Ismail bocah mengaji pada petang hari sepulang sekolah di Hollandsh Inlandshe School (HIS).


"Pengalamannya sebagai santri Habib Ali Kwitang banyak mempengaruhi pola pikirnya. Ia menjadi sosok Islam moderat dengan istiqomah menggali dan mengamalkan Islam serta sekaligus mendalami seni," tulis Alwi.

"Dari nilai-nilai keagamaan dan nasionalisme yang diperolehnya tak pernah membuatnya absen ikut berjuang untuk negeri tercinta ini," lanjut Alwi yang menyebut sejumlah lagu seperti Gugur Bunga, Indonesia Tanah Pusaka sebagai beberapa manifesto Ismail Marzuki tentang bangsanya.

Di tengah kenangan akan Ismail Marzuki yang muncul dalam benak Alwi Shahab, putrinya, Vera menguatkan kenangan akan sang maestro. Vera menuturkan Ismail yang dikenal sebagai Bang Mail juga terkesan di benak neneknya yang telah tiada sejak 18 tahun lalu.


"Pak Ismail kan meninggal tahun '58 kan, waktu itu Abah [Alwi Shahab] sudah hampir menikah. Nikahnya Abah pada 1961. Jadi memang dahulu nenek saya suka cerita soal Bang Mail," kata Vera menemani ayahnya.

"Saya inget dahulu nenek saya cerita, beliau kenal dengan Bang Mail, karena waktu itu dekat rumahnya. Terus [Ismail Marzuki] itu pinter main biola," lanjut Vera.

"Dia sederhana orangnya," timpal Alwi yang sesekali bersenandung menyanyikan lagu Ismail Marzuki, Halo, Halo Bandung, dalam tatapan menerawangnya kembali ke enam dekade silam.

Pandangan dan pengaruh Ismail Marzuki dalam membangun rasa nasionalisme berlanjut di Kobaran Cinta dari Lagu Mendayu Ismail Marzuki. (end)




ARTIKEL TERKAIT