Analisis

Menanti 'Gombalan' Iqbaal Menaklukkan Minke 'Bumi Manusia'

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Jumat, 25/05/2018 18:13 WIB
Menanti 'Gombalan' Iqbaal Menaklukkan Minke 'Bumi Manusia' Iqbaal Ramadhan didapuk memerankan Minke dalam 'Bumi Manusia.' (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekali lagi Iqbaal Ramadhan menimbulkan keraguan publik. Warganet langsung ribut saat tahu aktor Dilan 1990 itu didapuk sutradara Hanung Bramantyo memerankan Minke.

Hanung tengah menggarap film yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer sastrawan terkemuka Indonesia, Bumi Manusia. Iqbaal menjadi pemeran utamanya, pemuda pribumi kritis dan pintar yang ingin mengubah nasib bangsanya lewat tulisan.

Peran itu dianggap tak cocok dengan Iqbaal, yang baru 'mentas' dari perannya sebagai remaja kepala geng motor yang pandai merayu, meski juga pintar menulis puisi.






Keraguan yang sama pernah terlontar saat Iqbaal dipinang memerankan Dilan dalam Dilan 1990, film yang juga diadaptasi dari novel. Ia dianggap terlalu polos dan baik untuk menjadi kepala geng motor yang juga hobi tawuran, seperti dalam novel karya Pidi Baiq.





Namun Pidi sebagai penulis novel maupun Fajar Bustomi sebagai sutradara jalan terus. Iqbaal sendiri tak tergerus oleh isu tentang dirinya. Ia tetap ikut perintah 'Ayah' Pidi untuk kongko bersama geng motor, bahkan belajar membaca puisi ke Reza Rahadian.

Dan kenyataannya, meski saat cuplikan perdana Dilan 1990 muncul Iqbaal masih saja dikritik, film itu mampu meraih lebih dari 6 juta penonton. Tak hanya itu, akting Iqbaal sebagai Dilan pun membekas di hati, terutama para perempuan, bahkan 'emak-emak.'


Iqbaal mampu menghapus keraguan warganet soal peralihannya dari penyanyi bocah saat tergabung di Coboy Junior menjadi aktor lewat karakter remaja yang terlihat ugal-ugalan namun sebenarnya punya sisi lembut pada wanita. Kini, tantangan Iqbaal lebih berat.

Ia harus bisa mengubah citra lagi. Dari remaja 'alay,' menjadi pemuda 20-an tahun yang sekaligus pemikir, pemerhati dan penggerak revolusi. Dari Dilan, menjadi Minke.

Dalam Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang ditulisnya saat masih menjadi tahanan politik di Pulau Buru, Minke merupakan pribumi pintar yang bisa bersekolah di HBS-sekolah para pemuda Belanda. Ia gelisah melihat nasib pribumi lainnya yang tertindas.


Kata-kata pemuda yang kemudian jatuh cinta pada noni keturunan Belanda, Annelies itu banyak dikutip saking indah dan penuh maknanya. Minke sendiri diinspirasi Pram-sapaan Pramoedya-dari sosok Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar berbahasa Melayu pertama di Indonesia yang belakangan dikenal juga sebagai Bapak Pers Nasional.

Hanung sebagai sutradara mengaku memilih Iqbaal karena menurutnya Bumi Manusia bercerita tentang gejolak kawula muda meski bukan soal asmara. "Minke itu umur 20 tahun, Annelies 17 tahun. Memang anak-anak muda, buku ini pun bicara tentang gejolak anak muda," katanya.

Hanung melanjutkan, nantinya Minke akan tumbuh seiring berkembangnya cerita dalam buku. Pram mengesetnya menjadi tetralogi. Minke yang dimainkan Iqbaal pun, mengutip Hanung, "akan tumbuh seiring sejarah perkembangan Indonesia sampai merdeka."

[Gambas:Video CNN]

Sayangnya, belum pasti apakah Falcon Pictures akan menggarap mengadaptasi seluruh tetralogi juga menjadi empat film, seperti Warner Bros. mengadaptasi tujuh buku Harry Potter. Sejauh ini di Indonesia, belum ada preseden demikian.

Laskar Pelangi hanya diadaptasi sampai Edensor, padahal total ada empat novel. Negeri Lima Menara baru sampai buku pertama-meski kabarnya adaptasi buku kedua tengah dibicarakan. Supernova karangan Dee pun demikian. Dilan 1990 baru hendak berlanjut ke Dilan 1991.

Biasanya adaptasi komplet film hanya pada buku yang berjilid dua, seperti Ayat-ayat Cinta.


Di luar negeri, casting director memang biasanya mencari karakter yang bisa 'awet' jika memang sudah tahu filmnya bakal terus berlanjut, sehingga ia bisa-seperti kata Hanung-bertumbuh bersama filmnya. Lihat saja Daniel Radcliffe sebagai Harry Potter.

Namun terlepas dari apakah karakternya bakal berkembang atau tidak, Iqbaal dan Hanung tetap punya tantangan berat. Pram bukan nama sembarangan. Mengadaptasi novelnya menjadi film bukan hal mudah. Novel itu sarat kata indah yang kadang lebih 'merdu' untuk didengar daripada dituangkan ke dalam visual, sebagus apa pun efek atau set lokasinya.

Minke juga punya penggemarnya sendiri. Di luar itu, Hanung baru saja mengalami titik rendah sebagai sutradara, saat filmnya Benyamin: Biang Kerok banyak dikritik.

Iqbaal saat menjadi Dilan.Iqbaal saat menjadi Dilan. (Screenshot via youtube (Falcon))
Kini, ia harus memastikan naskahnya sempurna, set-nya memuaskan dan para pemainnya mampu berakting sesuai bayangan para pembaca buku Pram yang lintas generasi. Hanung harus mampu membuat Iqbaal menanggalkan jaket denim Dilan dan mengenakan belangkon Minke.

Iqbaal sebagai anak 'zaman now' pun kudu benar-benar menghayati Minke dengan tak hanya membaca karya Pram, melainkan juga naskah referensi sejarah yang merujuk ke masa itu. Jika itu bisa dilakukan, seperti ia menaklukkan Dilan, Iqbaal akan punya banyak penggemar baru.

Para warganet yang nyinyir itu menanti Iqbaal menjawab keraguan mereka. (rsa)