Perjalanan Lagu Anak Indonesia dari Dekade '50-an Hingga Kini

Resty Armenia, CNN Indonesia | Minggu, 24/06/2018 09:35 WIB
Perjalanan Lagu Anak Indonesia dari Dekade '50-an Hingga Kini Tasya yang dikenal sebagai penyanyi cilik pada era 1990-an. (Screenshot via Youtube/@TasyaVEVO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak yang mengeluhkan semakin menipisnya jumlah lagu yang khusus dibuat untuk anak-anak di Indonesia saat ini. Jika dibandingkan dengan beberapa dekade lalu, generasi cilik saat ini memang kurang banyak dihibur dengan tembang-tembang berlirik 'polos' namun tetap ceria.

Lantunan seperti Abang Tukang Bakso, Nyamuk-nyamuk Nakal, Libur Telah Tiba, atau Diobok-obok sudah jarang didengar.

Lagu anak-anak sebenarnya sudah beredar di Indonesia sejak 1950-an, tepatnya saat salah satu pahlawan lagu anak Indonesia, Saridjah Niung atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Soed aktif menciptakan lagu anak.



Di era '60-an, lagu anak makin bersemi, terlebih ketika Abdullah Totong (A.T. Mahmud) ditunjuk menjadi koordinator acara Ayo Menyanyi yang digagas TVRI.

Jumlah lagu anak semakin bertambah seiring berkembangnya waktu hingga awal 2000-an, dengan keberadaan para artis cilik yang beberapa di antaranya masih aktif hingga kini, seperti Joshua Suherman, Tasya Kamila dan Chikita Meidy.

Namun, semakin ke sini, lagu anak-anak makin tiris. Yang membuat semakin miris, anak-anak sekarang lebih sering menyanyikan lagu-lagu orang dewasa atau lagu barat, karena mereka tidak punya alternatif tembang yang bisa mereka lantunkan yang sesuai dengan usia mereka.

[Gambas:Video CNN]

Perjalanan lagu anak-anak Indonesia dari masa ke masa bisa disimak dalam rangkuman CNNIndonesia.com berikut:

1950-an

Pada dekade '50-an, beberapa tahun setelah kemerdekaan, Saridjah Niung atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Soed, sudah mulai banyak menciptakan lagu anak-anak. Ia diperkirakan telah menciptakan lebih dari 200 lagu, meski hanya setengahnya saja yang bisa terselamatkan dan bertahan sampai sekarang.

Bersamaan dengan era pascakemerdekaan, setiap lagu Ibu Soed selalu memuat semangat patriotisme tinggi, misalnya Berkibarlah Benderaku, Bendera Merah Putih, Tanah Airku, dan lain sebagainya.

Namun, ada pula yang bertema kehidupan orang Indonesia di masa itu atau hal sederhana lainnya, seperti Nenek Moyangku, Anak Kuat, Tik Tik Bunyi Hujan, Naik-Naik ke Puncak Gunung, Kupu-Kupu yang Lucu, dan masih banyak lagi.

Lagu-lagu ciptaan Ibu Soed masih dikenang dan dinyanyikan anak-anak yang tumbuh pada beberapa dekade berikutnya.


1960-an

Di era '60-an, muncul A.T. Mahmud yang lagu-lagu karangannya mulai dikenal di kalangan anak-anak, guru sekolah hingga orang tua. Tembang-tembang klasik itu termasuk Pelangi dan Ambilkan Bulan yang masih kerap disenandungkan dan diajarkan ke anak-anak hingga kini.

A.T. Mahmud makin berjasa membuat lagu anak-anak di dekade '60-an bersemi saat ia didapuk sebagai koordinator acara Ayo Menyanyi yang digagas TVRI dan mengudara pertama kali pada 3 Juni 1968.

Ayo Menyanyi menampilkan lagu anak-anak tingkat SD anyar, sehingga masyarakat yang berbakat di bidang musik bisa mengirimkan karyanya ke acara ini.

Lagu hasil Ayo Menyanyi yang masih dikenal hingga sekarang antara lain Terima Kasihku oleh Sri Widodo dari Yogyakarta, Bunga Nusa Indah oleh Djoko Sutrisno, dan Anugerah oleh Indra Budi.

Selain Ayo Menyanyi, TVRI juga sempat membuat lomba cipta lagu anak bertajuk Lagu Pilihanku. Kedua acara ini berjalan hingga 20 tahun, namun kemudian diakhiri pada 1988.


1970-an

Jika di dua dekade sebelumnya, para pencipta lagu yang lebih banyak mendapat sorotan, di era 1970-an, para penyanyi cilik mulai menunjukkan sinarnya. Mulai dari Chicha Koeswoyo, Adi Bing Slamet, Dina Mariana, Diana Papilaya, Yoan Tanamal, dan rekan-rekan mereka.

Penjualan album Chicha, misalnya, bisa bersaing dengan rekaman bertema cinta para penyanyi dewasa masa itu. Lagu Helly yang dirilis Chicha lewat album debutnya pada 1975 pun meledak di pasaran.

[Gambas:Youtube]

Rekan duet Chicha, Adi Bing Slamet juga bisa meraih sukses sebagai penyanyi cilik. Salah satu karya hitnya adalah Mak Inem Tukang Latah yang menjadi lagu tema film Anak Emas.

[Gambas:Youtube]

Di 1970-an, muncul pula acara anak-anak Taman Indria yang dipandu oleh dua tokoh pendidikan sekaligus pencipta lagu anak-anak, Pak Kasur dan Ibu Kasur. Dalam acara ini, anak-anak memamerkan bakatnya di studio TVRI.

Profesor musik dan komposer handal Tjut Nyak Deviana Daudsjah pun menyebut dekade 60-an dan 70-an sebagai masa keemasan untuk lagu anak-anak.

Ia bercerita, selain disuguhi banyak lagu anak-anak yang dilantunkan para penyanyi cilik, pada saat itu anak-anak selalu bernyanyi lagu yang mayoritas diciptakan Ibu Soed dan A.T. Mahmud.

"Di pertengahan era '60-an dan '70-an, kita masih banyak mendengar lagu anak-anak di TVRI," ujarnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon beberapa saat lalu.


1980-an

Chica Koeswoyo dan Adi Bing Slamet masih bersinar di era ini seiring keduanya beranjak remaja. Meski demikian, lagu anak-anak masih tumbuh subur dengan kemunculan para biduan cilik lain, termasuk yang berasal dari geng Koeswoyo dan Bing Slamet, Sari Yok Koeswoyo dan Iyut Bing Slamet.

Selain mereka, ada Puput Novel yang beken dengan lagu hit Senam Pagi, Berkebun, Begini Begitu, dan masih banyak lagi. Muncul pula penyanyi lain, seperti Jihan, Lucy Hantoro, dan lain-lain.

Sepanjang dekade 70-an dan 80-an, lirik-lirik lagu anak-anak masih didominasi tema keluarga, tamasya, binatang yang sering dijumpai, penjual makanan yang sering lewat di depan rumah, dan hal sederhana lainnya.

Musik yang mengiringi pun kebanyakan rancak dan bersemangat, sehingga pas didengarkan oleh anak-anak.

1990-an

Dengan mulai masuknya teknologi, lagu anak-anak mulai berkembang menjadi lebih kreatif dan berwarna, baik dari segi tema maupun video musik.

Meski tema makin kaya dan musik lebih kompleks, para pencipta lagu di masa ini masih membuat karya yang liriknya tetap sederhana, mudah diingat, dan memuat nasihat.

Sebut saja Cit Cit Cuit milik Joshua, di mana di akhir lagu yang liriknya diulang-ulang itu terdapat kalimat, "Ayolah kawan (kita bersama)/ Jagalah satwa (ayo)/ Macan kijang gajah juga dijaga// Jangan ditembak (kasihilah)/ Jangan diburu (sayangilah)// Lindungilah semua satwa ciptaan Tuhan."

Terlebih lagi, kondisi sosial Indonesia di masa pembangunan itu juga menjadi inspirasi untuk membuat lagu anak, misalnya lagu Krismon (Krisis Moneter) milik Cindy Cenora dan Menabung yang dinyanyikan oleh Saskia dan Geofanny bersama Titiek Puspa.

[Gambas:Youtube]

Selain yang disebutkan di atas, penyanyi cilik lain yang populer di era ini antara lain Sherina, Tasya Kamila, Tina Toon, Chikita Meidy, Maissy Pramaisshela, Dea Ananda, Leony, dan masih banyak lagi.

Sementara, para pencipta lagu di era ini termasuk Titiek Puspa, Nugroho Setiadi (Kak Nunuk), Papa T Bob, dan lain-lain.

Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif, Poppy Savitri, berpandangan bahwa banyak penyanyi cilik zaman '90-an bisa menjadi ikon karena mereka bernyanyi dan bergaya secara natural sesuai usianya.

Berbeda dengan Poppy, profesor musik dan komposer handal Tjut Nyak Deviana Daudsjah menyebut banyaknya lagu anak-anak di era ini sebagai euforia sesaat dan ambisi para orangtua.

"Sekarang kita jangan melihat anak kecilnya ya. Sebenarnya [era] itu lebih cocok dikatakan era ambisi orangtua terhadap anak-anaknya. Kita lihat anak kecil, mana bisa me-manage sampai ke panggung, pasti di balik itu ada orangtuanya," ujar Deviana kepada CNNIndonesia.com via sambungan telepon.


2000-an hingga kini

Sejak belasan tahun belakangan, Indonesia termasuk defisit lagu anak-anak lokal. Anak kecil zaman sekarang lebih banyak menyanyikan lagu-lagu orang dewasa atau lagu barat.

Lagu anak-anak zaman dulu kadang masih dinyanyikan di beberapa kesempatan, namun tidak sering. Untuk tembang anak-anak yang baru, jumlahnya tak sebanyak dan sepopuler beberapa dekade lalu.

Pencipta lagu anak yang banyak menelurkan hit di era '90-an, Kak Nunuk menyebut dalam konteks industri, memang ada penurunan signifikan pada kuantitas tembang yang dibuat khusus untuk anak-anak saat ini.

"Dalam konteks lagu anak, enggak ada beda, karena lagu anak ditentukan lirik. Tapi minat anak terhadap lagu anak itu kecil. Lagu anak ada, tapi minatnya berkurang," ujar Kak Nunuk kepada CNNIndonesia.com di rumahnya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta beberapa waktu lalu.

Meski demikian, keberadaan lagu anak kini berangsur membaik dengan kemunculan penyanyi cilik baru, seperti Romaria, Adyla Rafa Naura Ayu dan Saga Omar Nagata.

[Gambas:Youtube]

(res)