Film '22 Menit' Diklaim Bukan Propaganda Polri

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 12:14 WIB
Film '22 Menit' Diklaim Bukan Propaganda Polri Film '22 Menit' banyak mendapat bantuan Polri, namun diklaim bukan propaganda lembaga itu. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sutradara Eugene Panji mengklaim film 22 Menit yang terinpirasi dari tragedi Bom Sarinah pada Januari 2016 lalu bukan propaganda Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Ia bahkan tak peduli dengan pendapat penonton yang menganggap film itu sebagai propaganda Polri.

"Sekarang bikin apa aja salah soalnya, jadi bikin ajalah," kata Panji di kawasan Kuningan, Jakarta Sekatan, Senin (16/7) kemarin. Namun ia tak memungkiri kekagumannya pada Polri.

Film 22 Menit berangkat dari pemikiran Panji yang merasa Polri hebat. Beberapa saat setelah Bom Thamrin, ia membuat tulisan yang menggaungkan frasa 'polisi Indonesia hebat.'



Seiring berjalannya waktu, ia menjadi nakhoda 22 Menit bersama Myrna Paramita. Film itu diilhami dari cerita nyata, namun tetap ada dramatisasi dan bumbu fiksi. Panji sempat menjelaskan, 22 Menit berisi 70 persen kejadian nyata dan 30 persen lainnya fiksi.

Film diberi tajuk 22 Menit, sesuai durasi yang dihabiskan Polri untuk meringkus teroris Bom Sarinah dalam kejadian nyata. Film itu mengambil unsur humanis dari lima sudut pandang atau karakter yang berbeda, termasuk polisi, pengunjung kafe, pengguna jalan dan pekerja.

Meski Panji mengaku filmnya bukan propaganda Polri, lembaga itu seakan begitu diagungkan dalam 22 Menit. Polisi dikisahkan seakan tak punya cacat. Apalagi slogan Polri 'Profesional Modern Terpercaya (Promoter)' diperlihatkan secara jelas dalam film.


"Di London dan Berlin, enggak kelar teroris. Kita [Indonesia], dalam konteks teroris, kelar semua," kata Panji menjawab pertanyaan media tentang kinerja Polri.

Film itu pun banyak dibantu Polri. Paling mudah, saat mereka diberi akses syuting di Car Free Day selama beberapa lama. Polri juga memberi bantuan berupa barakuda dan helikopter.

Namun menurut Panji, bantuan paling 'mahal' adalah riset tentang teroris. Riset itu dilakukan selama 1,5 tahun. Hasilnya diolah, lalu dituangkan dalam naskah film.


Dari riset itu Panji jadi mengetahui kinerja polisi secara sungguhan, termasuk bagaimana mereka memegang senjata, mengenakan rompi antipeluru, sampai menghadapi teroris.

Hasilnya, film yang dijadwalkan tayang 19 Juli mendatang. 22 Menit dibintangi Ario Bayu sebagai anggota pasukan anti terorisme bernama Ardi. Aktor lain yang turut berperan adalah Ade Firman Hakim, Ence Bagus, Ardina Rasti, Hana Malasan dan Taskya Namya. (rsa)