26 Tahun Revolusi Bernama Rage Against The Machine

Bowie Haryanto, CNN Indonesia | Sabtu, 03/11/2018 21:17 WIB
26 Tahun Revolusi Bernama Rage Against The Machine Rage Against The Machine. (Wikimedia Commons/Penner)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada anggapan menyebut bahwa mereka yang tumbuh di era 1990an adalah orang-orang yang beruntung. Bagaimana tidak? Subkultur tumbuh subur di era itu. Gegap gempita subkultur itu ditandai oleh bermunculannya musisi-musisi hebat. Sampai-sampai, era 1990an disebut masa paling tepat untuk mendengarkan musik.

Semua genre musik dengan kualitas terbaik ada di era 1990an. Sebuah dekade yang penuh dengan diversitas dunia musik. Mulai dari hip hop, rock, alternatif, ska, elektronik, hingga boy band dan girl band terbaik pun muncul di era itu.

Terlalu panjang untuk membuat daftar album musik terbaik era 1990an. Sebut saja Nevermind milik Nirvana (1991), Black Album Metallica (1991), Dookie Green Day (1994), (What's the Story) Morning Glory? milik Oasis (1995), Tragic Kingdom No Doubt (1995), hingga The Slim Shady LP milik Eminem (1999). Kesemuanya muncul di era 1990an.



Salah satu genre musik yang muncul di era 1990an adalah rap rock, atau di Indonesia kita menyebutnya hip metal. Rage Against The Machine alias RATM disebut-sebut sebagai kelompok musik yang meracuni penjuru dunia dengan musik jenis tersebut.

Tepat hari ini, 26 tahun yang lalu, band asal Los Angeles, California, Amerika Serikat ini mengeluarkan album studio debut dengan titel Rage Against The Machine. Sebuah album yang mengubah sejarah musik rock dunia, atau sebut saja 'revolusi'.

Dikenal sebagai band politik paling keras, RATM mengeluarkan album debut di momen yang sangat 'politis'. Album Rage Against The Machine dirilis tepat pada hari Bill Clinton mengalahkan George Bush dalam pemilihan presiden Amerika Serikat pada 3 November 1992.

Sebelum membahas sepuluh lagu di album Rage Against The Machine, sampul album yang diproduseri Garth Richardson itu sudah mampu menyihir mata. RATM menggunakan foto biksu Vietnam Thich Quang Duc yang membakar diri di Saigon pada 1963 sebagai sampul album. Aksi membakar diri Thich Quang Duc dilakukan sebagai bentuk protes terhadap persekusi terhadap biksu. Bahkan, sampul albumnya saja sudah politis.


Sepuluh lagu di album Rage Against The Machine tak familiar di telinga pecinta musik rock kala itu. Ketukan drum Brad Wilk, betotan bas Tim Commerford, suara gitar Tom Morello, dan muntahan rima Zack de la Rocha menjadikan album yang dirilis oleh Epic Records itu sangat unik dan revolusioner.

Ketika kali pertama mendengar album Rage Against The Machine, saya berpikir ada seorang DJ yang berperan dalam pembuatan album. Dengar saja lagu "Bullet In The Head", permulaan "Know Your Enemy", atau solo gitar Morello di lagu "Wake Up". Semuanya terdengar seperti suara yang berasal dari sebuah turntable. Namun, kemudian saya membaca tulisan 'no samples, keyboards or synthesizers used in the making of this record'. Luar biasa!

Lirik di lagu-lagu album ini layaknya sajak politik. Zack de la Rocha mengungkapkan kemarahan terhadap ketidakadilan di Amerika Serikat, mulai dari kekerasan pihak polisi terhadap orang kulit hitam, sistem pendidikan, hingga pemerintahan Amerika Serikat yang dianggapnya banyak berbohong. Sebagai orang berdarah Meksiko yang tumbuh di California dia juga kerap menelurkan lirik-lirik bernada rasial.

Dengar saja lagu "Killing In The Name" yang berisikan tentang isu rasial dan kekerasaan polisi di AS. Ya, di lagu paling ikonik dari RATM itu, Zack 16 kali mengatakan "F*ck you, I won't do what you tell me" dan ditutup dengan teriakan "Motherf**ker!" di bagian akhir. Di "Killing in the Name", RATM juga menyamakan polisi dengan Ku Klux Klan, salah satu kelompok rasis ekstrem AS.


"Saya sangat terkejut," ujar Richardson mengingat kembali kali pertama mendengar lagu "Killing in the Name". "Saya pikir lagu ini sudah menjadi anthem, dari dulu hingga sekarang, setiap orang masih merasakan hal yang sama," ucap Richardson dikutip dari Diffuser.

Dalam lagu "Wake Up", band yang terbentuk pada 1991 itu menuduh pemerintah sebagai otak di balik pembunuhan aktivitas kulit hitam Malcolm X dan pejuang hak-hak kulit hitam Martin Luther King Jr. Sementara dalam lagu "Know Your Enemy" terdapat lirik "What? The land of the free? Whoever told you that is your enemy!" yang diteriakkan untuk mengkritik pemerintah.

Perpaduan sempurna keempat sosok dalam band membuat album pertama RATM adalah sebuah revolusi di dunia musik. Tidak ada band rock sebelum RATM yang terdengar seperti RATM. RATM tidak masuk kategori band tertentu. Mereka jelas tidak cocok masuk satu genre musik tertentu yang sebelumnya sudah ada.

Orang-orang boleh saja menyamankan RATM dengan Urban Dance Squad atau Faith No More. Tapi tetap saja, tak ada band sebelum RATM yang sukses memadukan hip-hop, punk, metal, funk, dan rock secara sempurna.

RATM benar-benar melakukannya tanpa cela dan konsisten. RATM jelas tidak cocok disamakan dengan band-band lain sebelum mereka, atau mungkin hingga saat ini (bisa diperdebatkan).

Kehadiran RATM lewat album pertama juga menjadi inspirasi sejumlah band setelah mereka. Sebut saja Limp Bizkit, Kid Rock, atau POD. Tapi, tidak ada yang mampu mengimbangi kehebatan RATM. Tapi, tidak ada yang mampu mengimbangi kehebatan RATM. Limp Bizkit mungkin lebih tenar, tapi mereka tidak memiliki kualitas musik seperti RATM. Sebab, RATM sudah menentukan standar untuk genre rap rock yang hingga kini tidak mampu diikuti band-band lainnya.

Sayang, RATM harus 'bubar' pada 2000 setelah menelurkan tiga album lainnya: Evil Empire, The Battle of Los Angeles, dan Renegades. Meski sempat reuni sepanjang 2007 hingga 2011, namun RATM tidak pernah benar-benar bersatu dan membuat album baru. Tom Morello dalam beberapa wawancara mengatakan dia masih berharap RATM bisa bersatu kembali dan menyalahkan "empat sosok yang belum dewasa" sebagai penyebab bubarnya band.

Sebagai pecinta RATM, tentu saya berharap mereka kembali bersatu, membuat album, dan melakukan tur dunia. Saya ingin berada tepat di depan panggung saat Zack mengatakan: "Good evening, we are Rage Against The Machine from Los Angeles, California." (asr)


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA