Endro Priherdityo
Jurnalis CNN Indonesia kelahiran Jakarta, menyelesaikan studi di Institut Pertanian Bogor dan hobi mengomentari segala yang terjadi di sekitarnya.

14 Tahun Menanti Mariah Carey

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 07/11/2018 12:58 WIB
14 Tahun Menanti Mariah Carey Mariah Carey kembali memuaskan dahaga fan di Indonesia setelah 14 tahun. (Antara/Rajawali Indonesia)
Magelang, CNN Indonesia -- Selasa, 6 November 2018 malam jadi momen yang tak akan terlupa sepanjang hidup saya. Tepat malam itu, saya akhirnya bertemu idola saya sejak bocah, Mariah Carey, setelah 14 tahun menanti.

Saya adalah seorang penggemar Mimi--panggilan diva 48 tahun itu--sejak dini. Sebagai Lambily--sebutan untuk para fans Mimi--saya mendengar alunan indah suaranya sejak umur enam tahun melalui album kompilasi 1's (1998) yang kerap diputar kasetnya oleh kakak saya.

Saat itu, tentu saja saya belum memahami apa yang dinyanyikan Mimi, namun saya sudah menaruh hati pada melodi dan iramanya.


Melalui lagu Mimi juga lah saya banyak belajar kosakata bahasa Inggris. Saat SMP, saya lebih banyak memahami bahasa Inggris melalui lirik belasan lagu terkenal Mimi. Saya rela mencarinya di internet di warnet, lalu saya cetak, dan saya cari artinya di kamus Inggris-Indonesia karangan John M Echols-Hassan Shadily yang legendaris.

Sebelum mempelajari lirik lagu-lagu Mimi, tak ada alasan khusus saya menyukai lagunya. Saya hanya suka melodi dan cara penuturannya. Saya merasa terhubung dengan lagu Mimi tanpa tahu pasti apa yang diucapkannya. Mungkin betul kata orang, musik memang bahasa yang universal.

Tapi setelah saya tahu maknanya, saya makin terhubung dengan nyanyian Mimi. Dia menyuarakan cinta, harapan, pengorbanan, perjuangan, hingga sensualitas dengan cara yang berkelas, anggun nan bertutur. Saya makin cinta.

Sebagai seorang fan, saya jelas mengikuti kisah hidup Mariah. Saya mencari tahu lika-liku hidup dan kariernya, hingga gosip tak penting seperti suntik silikon yang dilakukannya. Namanya juga fan.

Kesempatan bertemu Mimi pertama kali terbuka pada 15 Februari 2004. Kala itu, dia diboyong Adrie Subono menggelar konser Charmbracelet World Tour. Tur itu merupakan bagian dari album Charmbracelet yang jadi upaya bangkit Mariah dari kegagalan film juga album Glitter (2001).

14 Tahun Menanti Mariah CareyHujan yang mengguyur wilayah Yogyakarta dan sekitarnya sempat membuat konser tertunda. (Antara/Rajawali Indonesia)
Kala itu, saya tak bisa menonton Mariah yang sukses menggoyang Jakarta Convention Center. Maklum, saya masih duduk di bangku SMP dan tak mengantongi restu orangtua. Namun, kegagalan melihat pujaan hati itu pula lah yang membuat saya terus bermimpi bertemu dengannya bertahun-tahun.

Hingga tadi malam.

Hujan mengguyur deras Yogyakarta dan kawasan Candi Borobudur sejak Selasa (6/11) pagi sempat membuat saya cemas. Pun hujan gerimis sempat turun pada pukul 19.00 waktu setempat, satu jam sebelum acara dimulai. Para fan, termasuk saya, yang ada di tempat festival di depan panggung sejak 18.30 pun pasrah berhujan-hujan. Apa pun dihadapi demi bertemu Mimi.

Pukul 19.59, usai lagu Indonesia Raya dikumandangkan, kami pun bersorak karena artinya konser akan dimulai. Namun, ternyata kru masih harus memastikan panggung aman dan nyaman untuk dipakai sang diva. Kami terpaksa menunggu hingga 20.25.

Saya sempat khawatir konser tak berjalan mulus lantaran Mimi bisa saja kadung ngambek. Saya khawatir ia yang terkenal dengan sifat 'diva' nya itu pundung karena mesti berhadapan dengan waktu konser yang molor ditambah banyak muncul serangga yang ramai terbang mengerubungi lampu-lampu panggung, juga lantai yang licin akibat hujan.

Ketika ia akhirnya muncul, Mimi tampil dengan gaun ungu selutut, dada tertutup, dan manik-manik berkilau. Rambut pirangnya yang tampak usai di-rebonding, bergoyang lemas mengikuti gerak minimalis Mimi. Ia membuka dengan lagu Honey, yang memang membuat badan bergoyang ringan.

Kekhawatiran saya tak terbukti.

Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya yang mulus. Ya Tuhan, dia cantik sekali tadi malam.

Tak usah ditanya betapa riuh teriakan kami, para fan gila yang menunggu Mimi mulai dari berjam-jam hingga bertahun-tahun, seperti saya.

14 Tahun Menanti Mariah CareyTotal, ada 16 lagu yang dibawakan Mimi di konser pada Selasa malam di Candi Borobudur. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Sepanjang konser, kami bernyanyi lagu-lagu Mimi bersama si empunya lagu. Saya sadar, Mimi tak lagi muda, tak lagi memiliki suara sedahsyat saat suaranya menemani saya di masa kecil. Ia pun banyak menggubah lagunya hingga turun beberapa tingkatan nada.

Beberapa kali, Mimi juga tampil lip-sync, terutama untuk bagian lagu sulit seperti Fantasy. Namun sebagian besar ia bernyanyi live, ditemani minus one sebagai back-up.

Saya juga melihat karakter Mimi yang disebut 'diva' itu secara langsung. Itu terlihat dari upaya percakapannya dengan penonton. Ia kerap bertanya apakah kami menikmati sajiannya. Pertanyaan macam apa itu? Jelas kami sangat menikmatinya!

Mimi juga sesekali bertingkah kocak, seperti ketika di peralihan lagu Honey dan Shake It Off, dia mengatakan ingin berdandan.

"Saya harus melakukan sesuatu sebelum lanjut ke lagu berikutnya. Saya harus touch-up," kata dia. Dan benar saja. Satu tim datang mulai dari pembawa kaca, perias, dan penata rambut.

Atau, ketika ia ingin maju mendekati penonton tapi tak yakin akan pilihannya.

"Kami bersemangat bertemu kalian. Kami tak tahu kalau bakal hujan dan lantainya jadi basah, dan segalanya ini terjadi," katanya sembari berjalan perlahan tak ingin terpeleset. Ia juga tak sungkan menunjuk-nunjuk lantai licin dengan gaya tangan lentik nan centilnya itu.

Atau, ketika dia tiba-tiba jalan ke arah piano, "Tunggu sebentar," lalu dia mengambil handuk yang sudah disiapkan. "Sedikit skin care," katanya sambil mengusap keringat dengan gaya cantik nan centil. "Lanjut-lanjut-lanjut," katanya lalu berjalan kembali dengan centil ke tengah panggung.

[Gambas:Video CNN]

Kami para fan hanya tertawa melihat tingkah diva yang tampak secara alami keluar dari sosok Mimi. Ia memang tak banyak berinteraksi intim seperti curhat di atas panggung. Saya pun tak keberatan, selama bisa bertemu dan bernyanyi bersamanya.

Total ada 16 lagu yang dibawakan Mariah Carey. Dia membawakan sejumlah lagu lawas seperti Love Takes Time, Make It Happen, Fantasy, Always Be My Baby, Emotions, One Sweet Day, Heartbreaker, dan My All.

Selain itu, beberapa lagu dari era milenium, seperti It's Like That, Shake It Off, Don't Forget About Us, dan We Belong Together. Serta ada lagu dari album terbarunya Caution, yaitu The Distance. Sebagai kejutan, ia membawakan lagu I Don't Wanna Cry dari album pertamanya 1990 silam.

Lagu Hero, seperti yang sudah ditebak, jadi penutup. Sempat keluar panggung sebentar, Mimi kembali lagi.

"Saya jelas tak bisa menutup tanpa ini kepada kalian," katanya.

Lagu Hero bak siraman rohani bagi penggemar Mariah Carey. Kami hanya bisa bernyanyi terhanyut dalam lagu yang isinya inspiratif itu. Saya harus mengakui bernyanyi dari hati bersama Mimi untuk Hero.

Sebanyak 16 lagu, selama satu jam 15 menit, di tengah udara pengap keramaian penonton dan suasana habis hujan, saya amat menikmati pertunjukan Mimi meski baju basah, keringat bercucuran, hingga suara yang menghilang akibat berteriak.

Saya bahkan tak terlalu peduli apakah kualitas sound cukup baik atau tidak, selama Mimi masih mengeluarkan vokalnya dan tak ada kerusakan yang parah. Buat saya konser itu tetap memukau, semua karena Mimi.

Sebagai fan, saya bisa bilang Mariah Carey sukses menghibur penggemarnya di Candi Borobudur di Selasa malam. Ia profesional, namun tetap terasa akrab. Dan yang pasti, ia membuat penantian 14 tahun saya terbayar lunas hingga saya sulit menulis ulasan secara objektif. (stu)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS