Menengok 'Cerita Kenangan' Nh Dini

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 04/12/2018 20:29 WIB
Menengok 'Cerita Kenangan' Nh Dini Novelis Nh Dini. (Foto: Dok. DA Peransi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia seni diselimuti duka. Kabar duka datang dari novelis Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin alias Nh Dini yang meninggal dunia karena kecelakaan sore ini.

Karya-karya Nh Dini tetap abadi meski sastrawan asal Semarang itu telah pergi. Karya-karyanya identik dengan kisah perselingkuhan dan sosial.

Dalam novel La Barka (1975) misalnya. Seorang perempuan bernama Rina tengah menjalani proses perceraian dengan suaminya. Kala itu ia sedang mengunjungi kawannya Monique di La Barka, rumah peristirahatan di Perancis Selatan.


Rina tidak sendirian, ia membawa putri kecilnya. Pun begitu dengan kawannya, Christine, yang membawa anak seorang mahasiswa bernama Robert. Rina dan Robert menjalin asmara di La Barka.


Pun begitu dengan Hilda dalam cerita pendek Istri Konsul yang merupakan istri seorang konsul Perancis. Sehari-hari ia mengisi waktu luang dengan menghisap candu.

Suatu hari Hilda kedatangan seorang pemuda berbadan tegap. Pemuda itu adalah Bruno, anak suaminya dari perkawinan terdahulu. Kini Bruno yang menjadi pengisi waktu luang Hilda.

Tokoh yang berselingkuh selanjutnya adalah Sri dalam novel klasik Pada Sebuah Kapal (1972). Ia bersuamikan seorang diplomat Perancis berkarakter kasar. Hubungan mereka kurang bergairah setelah dikaruniai seorang putri .

Kekasaran suaminya mengantarkan Sri pada kelembutan dan kehangatan dari Michel, seorang kapten kapal yang dikenal saat berlayar dari Saigon ke Marseille bersama putrinya. Seperti kebetulan, rumah tangga Michel dan Nicole juga sedang bermasalah.

'Berita' Perselingkuhan dan Sosial dari Tangan Nh Dini'La Barka', salah satu karya klasik Nh Dini. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)

Sang pengarang, Dini, mengakui bahwa selingkuh adalah perbuatan tercela. Pun tidak membela karakter buatan dalam novel atau cerpen yang dihasilkan dari tangannya. Ia hanya ingin menjelaskan perempuan melakukan keputusan bukan bertolak dari ruang kosong.

Inspirasi tentang perselingkuhan yang dibuat Dini terungkap dalam Cerita Kenangan. Sebuah serial autobiografi yang memiliki elemen novel, tanpa mencantumkan tanggal, bulan, dan tahun kecuali diperlukan. Terkadang beberapa nama disamarkan.

Dini menguliti rumah tangganya dalam Cerita Kenangan. Ia tak segan menyebut suaminya, Yves, sebagai orang Prancis yang kasar dan pelit. Ia berlagak baik ke Dini hanya saat menjamu kolega.

Selain meremehkan pekerjaan Dini sebagai penulis, Yves hanya memberikan uang belanja bulanan sebesar 50 franc (mata uang Prancis pada saat itu), sepertiga uang saku Lintang, anaknya, yang saat itu siswi SMP. Bahkan Dini tidak diizinkan menengok ibunya yang sakit.

Di tengah dehidrasi itulah Dini berkenalan dengan Maurice. Seorang kapten kapal yang dikenalnya dalam perjalanan laut selama dua pekan dari Marseille ke Saigon berdua Lintang di masa prasekolah. Maurice juga sedang bermasalah dengan rumah tangganya. Cerita ini termuat di Dari Parangakik ke Kampuchea (2003).


Tak semua karya Dini mengumbar tentang perselingkuhan. Tema lain yang kerap diceritakan dalam karyanya adalah sosial kemanusiaan. Seperti novel Orang-orang Tran (1983).

Novel tersebut diterbitkan ulang dengan judul Tanah Baru, Tanah Air Kedua (1997). Mengisahkan kehidupan transmigran asal Jawa di tanah Kalimantan. Mereka harus bertahan hidup dengan mengakali tanah yang keras, bercocok tanam tumbuhan yang pas dan siap siaga dari serangan binatang buas.

Novel selanjutnya adalah Tirai Menurun (1993). Pembaca diajak ke belakang panggung pementasan wayang orang Kridopangarso untuk melihat keseharian pemain. Tenggelam dalam keprihatinan pemain kesenian tradisonal akibat sepi penonton.

'Berita' Perselingkuhan dan Sosial dari Tangan Nh DiniNh Dini kala menerima Lifetime Achievement Awards pada 2017 silam. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)

Ragam tema lebih banyak dalam kumpulan cerpen. Mulai dari tentang bayi yang sakaw akibat dulu ibunya tetap madat saat hamil, tentang masyarakat yang tak tahu bagaimana menggunakan kakus yang sehat, hingga tentang keuletan perempuan desa mengelola warung pecel di kota.

Meski sudah dicap sebagai seorang sastrawan, Dini tetap rendah hati dengan mengaku hanya sebagai seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya. Ia pun digelari pengarang sastra feminis.

Ia beberapa kali menerima penghargaan seperti penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand, kemudian belum lama ini ia menerima Penghargaan Sepanjang Masa atau Lifetime Achievement Award dalam malam pembukaan Ubud Writers and Readers Festival 2017. (adp/rea)