Analisis

'Green Book', Pilihan Aman The Academy dalam Oscar 2019

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 26/02/2019 10:00 WIB
'Green Book', Pilihan Aman The Academy dalam Oscar 2019 Kemenangan film 'Green Book' menggambarkan kebijakan politis dari the Academy yang ingin main aman dalam Oscar 2019 kali ini. (dok. Universal Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pihak The Academy akhirnya memutuskan memberikan kategori puncak Oscar 2019, Best Picture, kepada 'Green Book' pada malam penganugerahan yang dilaksanakan di Dolby Theatre, Los Angeles, Minggu (24/2) malam waktu setempat.

Kemenangan 'Green Book' ini pun mengundang banyak reaksi, mulai dari yang mendukung hingga kritikus dan sineas yang nyinyir film garapan Peter Farrelly itu berhasil membawa kategori paling prestise tersebut.

Bagi yang merasa terkejut akan kemenangan 'Green Book', mungkin karena sudah menduga kategori puncak akan dibawa pulang oleh 'Roma' garapan Alfonso Cuaron.


Tak salah bagi banyak orang yang menduga 'Roma' akan menyabet Best Picture pada Academy Awards ke-91.

Film yang bersifat personal dari sutradara dan penulisnya, Cuaron, serta dieksekusi dengan penuh cita rasa seni yang idealis bin tak populis, menjadi alasan banyak pihak menduga film ini bakal menang. Seperti banyak film Best Picture Oscar kebanyakan.


Namun memang 'Roma' pantas menang. Film ini lebih dari sekadar film dengan sinematografi apik. Cuaron kepada CNNIndonesia.com Desember lalu mengakui sendiri dirinya terinspirasi membuat film ini dari pekerja domestik yang sempat merawatnya saat masih anak-anak.

Melalui sang pekerja domestik yang bernama Libo itu, Cuaron melihat banyak masalah menyelimuti dunia profesi yang membantu jutaan keluarga di dunia setiap harinya itu.

"Ada banyak diskusi terkait ras, perlakuan terhadap pekerja rumah tangga, hubungan dengan pemerintah, dan dengan kelompok penekan. Jadi ini menjadi sebuah perbincangan besar," kata Cuaron, kala itu.

Alfonso Cuaron (kiri) memeluk Yalitza Aparicio, bintang 'Roma' (kanan), saat film itu memenangkan Best Director.Alfonso Cuaron (kiri) memeluk Yalitza Aparicio, bintang 'Roma' (kanan), saat sineas Meksiko itu memenangkan Best Director. (REUTERS/Mike Blake)

Belum lagi, berbagai ajang penghargaan selama musim 'award' terus menerus memuja 'Roma' dan Alfonso Cuaron. Tak terhitung banyaknya penghargaan yang didapat dari film Netflix ini, sesuatu yang bila berhasil menang akan menjadi sejarah baru bagi Academy Awards dan layanan streaming tersebut.

Sedangkan 'Green Book', yang banyak pihak dianggap sebagai saingan terberat 'Roma', mengisahkan perjalanan dua insan dari latar belakang yang berbeda. Meski berlatar pada era hukum Jim Crow yang rasial, 'Green Book' kisahnya lebih sederhana, dan unsur artistik secara visual pun 'tak secanggih' karya Cuaron.

Bila bukan secara cerita atau pun artistik, apa yang membuat 'Green Book' kemudian dianggap lebih unggul dibanding Roma dan enam film lainnya seperti Black Panther, BLACKkKLANSMAN, A Star Is Born, The Favourite, Vice, apalagi Bohemian Rhapsody?


Pemilihan pemenang Oscar yang berdasarkan jajak pendapat dari ribuan anggota The Academy membuat ada banyak faktor yang secara rasional bisa menjadi alasan kemenangan dari 'Green Book'.

Faktor yang bisa dianggap sebagai alasan pertama adalah gengsi dari para anggota The Academy yang masih mengunggulkan film bioskop alih-alih film yang dibuat untuk televisi apalagi layanan streaming seperti Netflix.

Namun pihak The Academy tak bisa menampik bahwa derasnya film-film yang memiliki daya saing secara kualitas dari jaringan tersebut.

Mahershala Ali sebagai Don Shirley di 'Green Book'.Mahershala Ali sebagai Don Shirley di 'Green Book'. (dok. Universal Pictures)

Hal ini pun dibuktikan dari kemenangan Roma dalam sejumlah kategori Oscar 2019 seperti Best Director, Cinematography, dan Best Foreign Language Film. Akan tetapi, itu tak cukup kuat untuk Best Picture.

Sineas 'sepuh' dalam the Academy, Steven Spielberg pernah berkomentar soal ini.

"Sekali Anda berkomitmen pada format televisi, Anda adalah film televisi. Anda tentu saja, jika ini pertunjukan yang bagus, pantas mendapatkan Emmy, tapi bukan Oscar," katanya kala diwawancara dengan ITV News tahun lalu.


"Saya tidak percaya film yang hanya diberi kualifikasi tayang di sejumlah bioskop kurang dari sepekan harus memenuhi syarat untuk nominasi Academy Awards," lanjutnya.

Sedangkan nomine lainnya yang berstatus film bioskop diduga belum cukup kuat meyakinkan hati para anggota The Academy untuk memilih mereka sebagai Best Picture.

Masing-masing nomine punya batu sandungannya: Black Panther, sebagus apa pun film tersebut tetaplah sebuah film komersial yang diangkat dari komik laris; Bohemian Rhapsody mungkin populer, namun banyak kontroversi yang ada di sekelilingnya; BLACKkKLANSMAN dan Vice dirasa masih belum menyentuh aspek sosial yang luas dan dekat dengan publik; sedangkan 'A Star Is Born' memang kadung dicap kuat secara musikal.

[Gambas:Instagram]

Dengan berbagai anggapan tersebut, 'Green Book' tampaknya dipandang anggota The Academy sebagai pilihan paling aman untuk Best Picture. Tentu hal ini terlepas dari kontroversi seperti klaim keluarga Shirley yang keberatan dengan fakta dalam film hingga kicauan lama penulisnya, Nick Vallelonga yang rasis.

Film 'Green Book' dianggap memiliki jawaban atas segala tekanan yang diterima pihak The Academy untuk memilih film Best Picture yang berkualitas secara konten dan artistik, mewakili keberagaman, serta dikenal oleh publik.

Sejak dirilis perdana pada 11 September 2018, 'Green Book' menuai pujian positif dari para kritikus. Film ini juga mengombinasikan kulit hitam dan kulit putih dalam satu 'frame' serta mencitrakan mampu bersahabat erat bak kepompong.

Mahershala Ali (kiri) dan Viggo Mortensen (kanan), bintang 'Green Book'.Mahershala Ali (kiri) dan Viggo Mortensen (kanan), bintang 'Green Book'. (REUTERS/Mike Blake)

Selain itu, 'Green Book' dianggap memiliki nilai keterwakilan minoritas seperti kelompok LGBT dalam karakter Don Shirley dan Muslim dari sosok Mahershala Ali, serta angka box office yang terbilang "lumayan". 

Film berbujet US$23 juta tersebut tercatat mendulang box office US$144 juta. Dengan capaian ini, maka 'janji' The Academy untuk 'menghormati' film populer setidaknya bisa diwakili.

Jangan lupa, 'Green Book' pun ditayangkan di bioskop dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga memungkinkan dikenal dan bisa diakses publik lebih luas dari saingan terberatnya, 'Roma'. Ditambah, 'Green Book' berbahasa Inggris, bukan Spanyol seperti 'Roma'. Belum pernah ada pemenang Best Picture berbahasa selain Inggris.

Apalagi, 'Green Book' memiliki kisah yang membuat para anggota the Academy, terutama yang senior, merasa nostalgia.

[Gambas:Youtube]

Kisah 'Green Book' 11-12 dengan In the Heat of the Night (1967) dan Driving Miss Daisy (1989). Keduanya sama-sama membawa kulit hitam-putih dalam satu 'frame' dan bersahabat, sama-sama melakukan perjalanan atau menjalankan misi, dan dua film lawas itu pun meraih Best Picture Oscar.

Sehingga dengan segala situasi dan 'keberuntungan' yang dimiliki 'Green Book', akan lebih mudah bagi anggota The Academy menyematkan Best Picture Oscar 2019 pada film ini. Masa bodoh bakal menuai pro atau kontra, toh selama ini pemenang utama selalu jadi kontroversi.

[Gambas:Youtube] (end)