Minder dan Tangis Nike Ardilla di Balik Panggung

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 19/03/2019 18:36 WIB
Minder dan Tangis Nike Ardilla di Balik Panggung Di balik suara yang merdu dan banyak pengalaman manggung, Nike Ardilla pernah menangis karena rasa minder di awal kariernya. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Judi Kristianto menggali ingatannya pada 31 tahun lalu tentang Nike Ardilla ketika CNNIndonesia.com datang ke kantornya, JK Records, di Jakarta Barat, beberapa waktu lalu. Meski tak lagi muda, ingatan akan Nike tampak baru kemarin berlalu.

"Waktu itu dia [Nike Ardilla] 12 tahun," kata Judi kala ditanya kapan pertama kali bertemu Nike Ardilla. "Dia ikut Surya Pop Star tahun 1988. Saya yang kasih honor ke bapaknya,"

"Masih kecil dia itu. Saya yang menenangkan dia agar tak usah menangis," lanjut Judi. "Dibayar berapa? Saya lupa. Yang jelas di bawah artis lainnya, tapi lumayan lah,"


Judi pertama kali bertemu Nike Ardilla kala mojang asal Bandung itu diboyong ke Jakarta oleh wartawan senior Denny Sabri bersama ayahnya. Denny yang kerap menjadi agen bakat berniat mengenalkan gadis itu ke Judi untuk diorbitkan.


Saat pertama kali bertemu Nike pada Juli 1988, Judi mengaku merasakan aura bintang dalam anak itu. Entah bisikan dari mana, instingnya berkata anak yang datang dengan malu-malu itu akan menjadi bintang besar.

Dan memang Nike adalah bintang besar di eranya, hingga kematian mendadak lewat kecelakaan datang 24 tahun lalu.

Nike semula hanyalah anak perempuan yang bercita-cita menjadi penyanyi dari Bandung. Diberikan anugerah bakat vokal yang khas, Nike pun mendapat dukungan semesta hingga ditemukan Denny Sabri dalam sebuah festival menyanyi di Karang Setra, Bandung, pada 1986.

Sebelum bertemu Denny, Nike kerap tampil menyanyi di depan orang banyak di berbagai festival. Sehingga, tampil di atas panggung sudah bukan hal yang baru lagi. Hingga kemudian, Judi mengajak Nike untuk bergabung dalam tur Surya Pop Star pada 1988 di sejumlah kota di Jawa Timur.

Tur yang dibiayai oleh salah satu perusahaan rokok asal Jawa Timur pada Agustus 1988 tersebut menjadi salah satu sarana Judi melihat kemampuan Nike lebih dalam sebagai seorang penyanyi, sebelum benar-benar membawa anak itu ke studio rekaman.

Judi Kristianto, pendiri JK Records, label pertama Nike ArdillaJudi Kristianto, pendiri JK Records, label pertama Nike Ardilla. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

"Nike tidak rewel [sepanjang tur]. Ada ayahnya (yang mendampingi)," kata Judi.

Judi menyebut Nike sukses manggung lebih dari 10 kota. Akan tetapi, ketenangan yang ia tunjukkan bukan berarti ia tak benar-benar lepas dari tekanan. Nike ternyata menangis saat menjalani tur karena sempat minder berbagi panggung dengan sejumlah artis besar lainnya.

Selain Nike, tur itu diikuti oleh sejumlah penyanyi dan seniman yang sudah tenar sebelumnya seperti Benyamin Sueb, Miing 'Bagito', dan Meriam Bellina.

"Ya kayak anak kecil, [takut] diolok-olok. Saya tepuk-tepuk dan bilang 'sudah, nanti jadi bintang besar, tenang saja'. Dia bilang 'iya om, iya om'. Dia nurut sama saya. Nurut banget," kata Judi.

"Bukan, bukan takut diolok penonton. Tapi [takut] diledek sama teman-temannya, sesama artis. Karena saya [dianggap] seperti menganakemaskan dia. Padahal mah enggak. Namanya juga anak kecil," lanjut Judi.


Judi mengakui Nike adalah binaannya yang paling muda dalam tur tersebut. Meriam Bellina, salah satu penyanyi yang menjadi andalan JK Records, saat itu berusia 23 tahun. Sedangkan seniman lainnya, sudah berusia dewasa seperti Gogon, Miing 'Bagito', dan Benyamin Sueb.

Meski minder dan menangis, Nike disebut Judi merupakan penyanyi yang profesional walaupun usianya masih amat belia. Usai dari tur tersebut, Judi pun benar mengajak Nike ke studio rekaman pada 1988.

Melalui rekaman debut tersebut, Judi mencoba menguji warna vokal Nike Ardilla. Namun Nike ternyata memiliki bakat vokal yang mampu melumat semua jenis genre musik.

Hasil uji coba tersebut kemudian dikumpulkan menjadi album 'Hanya Satu Nama', sekaligus jadi album debut Nike Ardilla yang saat itu masih menggunakan nama Nike Asrina.

[Gambas:Youtube]

Sayang, album tersebut batal dirilis. Judi menyebut hal itu karena kesepakatan antara dirinya dengan Denny Sabri mengingat suara Nike masih 'menyisakan' suara anak-anak.

Satu tahun kemudian, pada 1989, Nike merilis album Seberkas Sinar dengan label lain, Ariesta Records dan digarap oleh Deddy Dores yang berbuah ketenaran. Sedangkan album debut Nike, disimpan oleh Judi sampai kemudian baru rilis pada 2013.

Judi mengaku tak pernah merasa menyesal pernah menjadi bagian dari babak awal Nike Ardilla menjadi legenda musik Indonesia, meskipun ketenaran si mojang Bandung tak muncul saat berada di bawahnya.

"Saya ketemu saat [Nike Ardilla] sudah jadi bintang besar. [Nike] masih cium tangan kok. Dia berati tahu [Judi] lah," kata Judi.

"Nike itu anaknya sopan, mungkin dari didikan orangtuanya juga baik. Di samping itu, dia juga punya wajah yang cantik dan mampu merengkuh hati kita. Anaknya juga baik, sopan santunnya baik, menghargai orang tua," lanjutnya, di penghujung perbincangan mengenang Nike Ardilla. (end)