'Memuja' Nike Ardilla hingga Rela Dianggap Sekte

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 19/03/2019 16:14 WIB
'Memuja' Nike Ardilla hingga Rela Dianggap Sekte Bagi penggemar Nike Ardilla, mengunjungi makam sang idola setiap tahun adalah kebahagiaan walaupun kerap dianggap sebuah sekte. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sosok Raden Rara Nike Ratnadilla Kusnadi alias Nike Ardilla tak pernah jauh dari hati Emma Amrin, seorang perempuan asal Sumatera Barat. Meski masyarakat Indonesia telah kehilangan Keke --demikian Nike biasa dipanggil-- selama 24 tahun, Emma terus menghidupkan semangat musisi yang ia idolakan itu. Setidaknya dalam kenangan.

Emma mengenal Nike sejak 1989 atau sejak sang artis merilis album bertajuk Seberkas Sinar di bawah naungan Ariesta Records. Adalah Deddy Dores musisi yang berperan besar pada perilisan album tersebut. 

"Usia saya sama dengan almarhumah Nike, saya memang fan berat. Dari album pertama saya sudah paham banget. Di mana dia manggung, saya berjuang untuk datang," kata Emma saat ditemui di rumahnya di kawasan Jatiwaringin, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.


Nike lahir di Bandung pada 27 Desember 1975. Sejak usia 5 tahun, bakat musiknya sudah terlihat lantaran kerap bernyanyi saat acara keluarga. Walau anak bungsu dari tiga bersaudara, ia sangat percaya diri. Sayang kesuksesan karier bermusik Nike berhenti ketika kecelakaan mobil yang merenggut nyawanya pada 19 Maret 1995.


Kesukaan Emma terhadap Nike sudah terlihat sejak CNNIndonesia.com datang ke rumahnya dan memasuki ruang tamu. Di sebelah sofa terdapat foto Nike berukuran 16R dengan bingkai kayu berwarna emas. Kemudian di sebelah televisi ada lemari kaca berisikan rilisan Nike, ada kaset dan ada juga cakram laser.

Selain itu Emma juga memiliki kaset dan cakram padat alias compact disc (CD) yang tersusun rapi dalam kotak penyimpanan barang. Semua itu ia kumpulkan sejak menggemari Nike pada 1989. Sayang ada beberapa kaset dan CD yang hilang menyisakan tempatnya saja.

Beruntung, kata Emma, ia sudah sempat beberapa kali melihat langsung penampilan Nike. Pada 1991, Nike sempat tampil di Padang, tanpa pikir panjang Emma langsung datang ke tempat penampilan. Bahkan ia memanjat panggung bersama temannya, menyaksikan Nike dengan duduk di bibir panggung.

Emma memang bukan penggemar biasa Nike, ia tergabung dalam Nike Ardilla Fans Club (NAFC), komunitas penggemar yang terbentuk sejak 1990 di Bandung. Anggota NAFC terus bertambah dan terdapat cabang NAFC di berbagai provinsi. NAFC masih aktif hingga saat ini. Emma pun menjabat sebagai ketua sejak 2017 lalu.

Emma sudah menjadi fans Nike Ardilla sejak 1989.Emma Amrin sudah menjadi fans Nike Ardilla sejak 1989. (CNN Indonesia/M Andika Putra)

"Sebelum menjadi ketua NAFC, saya menjadi ketua NAFC Jabodetabek selama 10 tahun. Jarang ada yang bersedia jadi ketua karena mungkin berat, ya saya mau karena enggak ada lagi. Saya dianggap berpengalaman," kata Emma sambil tertawa.

Emma menjelaskan setiap anggota resmi NAFC memiliki kartu anggota. Saat ini kurang lebih ada 1.000 anggota aktif. Mereka kerap berinteraksi di media sosial dan grup pesan singkat. Terkadang jumlah anggota yang aktif meningkat jadi 3.000 bila ada penjualan merchandise Nike.

Saat CNNIndonesia.com berbincang dengan Emma, di rumahnya sedang ada tiga anggota NAFC lain. Mereka datang membantu pendataan dan pembungkusan paket untuk orang-orang yang sudah mendaftar ziarah ke makam Nike pada 23-24 Maret mendatang.

Kurang lebih sudah ada 100 orang yang mendaftar, jumlah tersebut masih bisa bertambah sampai beberapa hari sebelum keberangkatan.

Koleksi CD Nike Ardilla milik Emma Amrin.Koleksi CD Nike Ardilla milik Emma Amrin. (CNN Indonesia/M Andika Putra)

"Kegiatan rutin NAFC pusat itu ziarah setiap bulan Maret. Kegiatan lain di bulan Desember ada acara untuk memperingati hari lahir Nike. Kalau NAFC provinsi itu kegiatan hampir setiap bulan, kumpul-kumpul saja sih," kata Emma.

NAFC tidak pernah putus ziarah sejak tahun 1996, tahun ini akan menjadi ziarah yang ke-24. Selain bertujuan mendoakan Nike, ziarah juga menjadi ajang kopi darat dengan berbagai anggota NAFC. Bagi mereka bertemu sesama penggemar Nike adalah hal yang membahagiakan.

"Anggota NAFC tidak wajib ikut ziarah, siapa saja boleh ikut. Ziarah ini seperti kepuasan batin bagi kami. Pernah juga ada yang menganggap kami begitu [sekte], tapi ya sudahlah, pendapat orang kan beda-beda," kata Emma.

Emma Amrin dan sesama anggota NAFC.Emma Amrin dan sesama anggota NAFC. (CNN Indonesia/M Andika Putra)

Emma melanjutkan, "Yang penting kami bilang ke anak-anak tidak menyalahi agama. Nike itu bukan untuk disembah tapi digemari, kami itu bangga dengan Nike yang memiliki jiwa sosial, padahal masih muda."

Selama menjadi anggota NAFC, Emma hanya pernah absen satu kali ziarah. Total ia sudah ziarah ke makam Nike sebanyak 22 kali, tahun ini akan menjadi yang ke-23.

Tak jarang ada yang menyebut Emma dan yang lainnya sebagai penggemar fanatik Nike. Ia sendiri tidak masalah dengan sebutan itu, karena sadar bahwa memang ia penggemar fanatik. Toh tak ada yang salah dengan panggilan itu.


"Nike itu selain cantik dan suara bagus, jiwa sosialnya tinggi. Di usia yang muda, ia sangat peduli dengan orang lain. Hubungan saya dengan keluarganya dekat, sering main kalau ke Bandung," kata Emma.

Keluarga Nike sendiri sangat terbuka dengan penggemar. Kakak Nike sekaligus pengurus Museum Nike Ardilla, Alan Yudi, mengaku sangat dekat dengan NAFC. Bahkan ia rela menemani bila ada penggemar yang ingin main ke museum.

"Sudah kami anggap saudara, jadi enggak ada istilah fan atau penggemar, semua kami anggap saudara aja," kata Alan saat ditemui di rumahnya, Bandung, beberapa waktu lalu.

[Gambas:Youtube] (adp/end)