Gimik Promosi Film 'La Llorona' Tuai Kecaman dari Dukun

CNN Indonesia | Senin, 22/04/2019 10:10 WIB
Gimik Promosi Film 'La Llorona' Tuai Kecaman dari Dukun Gimik promosi film 'The Curse La Llorona' menggunakan ritual tradisional Meksiko menuai protes dari para dukun dan menyebutnya sebagai tindakan tidak pantas. (Dok. Warner Bros Picture via www.thecurseoflallorona.net)
Jakarta, CNN Indonesia -- Promosi film The Curse of La Llorona dengan menggunakan ritual 'pembersihan jiwa' tradisional Meksiko sebelum menonton film menuai kritik dan kecaman.

Kecaman tersebut datang dari para dukun tradisional Meksiko dan cendekiawan. Mereka menyebut gimik pemasaran film yang masih tergabung dalam The Conjuring Universe ini melecehkan budaya lokal Meksiko.

Kegiatan tersebut terjadi di penayangan perdana 'La Llorona' di Meksiko, Kamis (18/4) malam waktu setempat.


Pihak penyelenggara mengundang para tabib yang dikenal dengan curanderos untuk melakukan 'pembersihan jiwa' bernama limpias kepada penonton sebelum menyaksikan film tersebut.

'The Curse of La Llorona' sendiri diangkat dari kisah rakyat Meksiko tentang makhluk jahat yang kerap menculik anak-anak sebagai tumbal.


Untuk menjauhkan diri dari La Llorona dan segala bala, masyarakat tradisional Meksiko biasa melakukan limpias yang juga ditampilkan dalam film ini.

Tindakan limpia jelang penayangan ini ternyata bukan yang pertama, pihak penyelenggara sebelumnya juga membawa tabib kelahiran Kuba yang berbasis di Los Angeles, Salvador Gata untuk melakukan pemberkatan ketika film ini akan dirilis di SXSW pada 15 Maret lalu.

Selain itu, sejumlah foto yang beredar di media sosial menunjukkan aktivitas para dukun ini melakukan 'pembersihan' di depan poster 'La Llorona' dan kemudian menghadiri pesta.

Foto-foto dan tawaran melakukan ritual demi pemasaran ini ternyata membuat seorang dukun limpias alias curandera Grace Sesma kesal. Ia pun mengunggah kekesalannya di media sosial, beserta sejumlah foto yang menunjukkan penawaran melakukan limpias yang datang kepadanya.


"Saya bekerja untuk film 'La Llorona' dan sedang mencari seorang curandero untuk melakukan limpias sebelum penayangan film saya," tulis publisis Nahir Wold dalam surel kepada Sesma yang diunggah dukun itu di media sosial.

"Beritahu saya bila Anda berminat untuk melakukannya," kata Wold.

Sesma mengatakan dirinya mengabaikan undangan tersebut hingga ia melihat foto-foto limpias dalam acara itu yang beredar di internet.


"Saya melihatnya cukup memalukan," kata Sesma dalam unggahannya. "Ini meningkatkan faktor klenik di praktik tradisional serta komodifikasi juga mengeksploitasi budaya kami hanya untuk menarik orang agar melihat film tersebut,"

Pandangan berbeda datang dari curandero yang menetap di Los Angeles, Miguel Franco. Dia mengatakan bahwa pihak studio Warner Bros tidak bermaksud membuat stigma ketika ia diundang studio tersebut dalam sejumlah acara.


"Bekerja saat jumpa media, menawarkan jasa saya ke orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk beberapa yang amat dikenal, pemengaruh [influencer], dan media telah mengizinkan saya berbagi bakat ini dengan orang yang biasanya tidak mencari saya," kata Franco yang juga menyebut acara tersebut amat positif.

Wold tidak segera membalas surel dan pesan ponsel yang dikirim oleh The Associated Press.

Senada dengan Wold, curandero internasional yang berdomisili di Albuquerque, Meksiko, Tonita Gonzales, menyebut bentuk promosi tersebut memicu marah dan pelecehan terhadap budaya Meksiko-Amerika.

"Limpia adalah pembersihan untuk menolong orang melihat hal suci dalam diri mereka," kata Gonzales. "Bagi kami untuk mempromosikan sebuah film, terutama saat Paskah, itu sangat menganggu,"

Menampilkan adegan limpia, 'The Curse of La Llorona' disebut Warner Bros telah menyewa coranderos sebagai konsultan untuk memastikan tampilan aksi tersebut dilakukan secara benar dan hati-hati. Namun studio menolak berkomentar lebih lanjut.

[Gambas:Youtube] (Associated Press/end)