Lantunan 'Harta Berharga' Iringi Kepergian Arswendo

Setyo Aji Harjanto, CNN Indonesia | Sabtu, 20/07/2019 14:52 WIB
Lantunan 'Harta Berharga' Iringi Kepergian Arswendo Sejumlah kerabat dan anggota keluarga berdoa di dekat jenazah Sastrawan Arswendo Atmowiloto. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/pras)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suasana khidmat bercampur haru memenuhi Misa Requiem budayawan Arswendo Atmowiloto di Gereja Katolik Santo Matius Penginjil, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Minggu (20/7). Sayup lantunan gitar mulai terdengar; nadanya familiar.

Begitu masuk bagian verse, lagu yang dimainkan pemusik gereja itu berjudul "Harta Berharga". Lagu itu merupakan soundtrack dari sinetron dan film karya mendiang Arswendo Atmowiloto, yang tutup usia pada Jumat (19/7), Keluarga Cemara.

"Selamat pagi, Emak, Selamat pagi, Abah, Mentari hari ini, Berseri indah," demikian paduan suara gereja melantunkan lagu itu, Sabtu (20/7).


Terlihat beberapa pelayat di misa itu ikut bernyanyi. Ada yang memejamkan mata, bahkan ikut terisak menangis, melepas kepergian sang budayawan yang pergi di usia 70 tahun itu.

Usai lagu 'Keluarga Cemara' dimainkan, para pelayat pun dipersilakan mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Satu persatu dari mereka menyalami keluarga, sambil mengucap salam terakhir kepada Arswendo.

Salah satu adegan dalam film Keluarga Cemara yang tayang di bioskop pada 2018.Salah satu adegan dalam film Keluarga Cemara yang tayang di bioskop pada 2018. (Dok. Visinema Pictures via youtube)
Tak heran jika lagu ini begitu melekat pada Arswendo. 'Keluarga Cemara' adalah salah satu sekian banyak karyanya yang cukup membekas di hati masyarakat.

Cerpen 'Keluarga Cemara' mulai ditulis Arswendo saat menjadi pemimpin redaksi majalah HAI. Cerpen yang terus diterbitkan di majalah itu kemudian berkembang menjadi novel atau antologi berseri.

Buku pertama dari kisah Keluarga Cemara dirilis pada 1981 dan hanya berisi 15 cerpen soal keluarga Abah dan Emak. Keluarga Cemara memiliki cerita tentang sebuah keluarga yang semula kaya raya namun mendadak bangkrut dan mesti hidup di desa dengan rumah warisan nan sederhana.

Keluarga ini beranggotakan Abah, Emak, dan tiga anak perempuan: Euis, Cemara, dan Agil.

Aktor Senior Slamet Rahardjo pun mengakui karya sahabatnya itu sangat bermanfaat untuk banyak orang di Indonesia. Keluarga Cemara, kata dia, jadi teladan bagi bermacam-macam keluarga di Indonesia.

"Dia (Arswendo) sedang menikmati bahwa Keluarga Cemara itu banyak bermanfaat bagi banyak orang. Dia sangat bahagia juga dan dia keliatan mukanya senang bahwa 'Keluarga Cemara' itu jadi teladan bagi bermacam-macam keluarga," kata Slamet di sela-sela Misa.

Budayawan FX Mudji Sutrisno pun mengucapkan terimakasih kepada Arswendo yang telah menciptakan Keluarga Cemara. Bahkan, saat menjenguk Arswendo, almarhum sempat memberinya buku Keluarga Cemara.

'Keluarga Cemara' Iringi Kepergian Arswendo, Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
"Dia memang membuat keluarga ini dahsyat sekali ya," kata Mudji.

Pemeran Abah dalam sinetron Keluarga Cemara, Adi Kurdi, mengatakan pesan Arswendo dalam karyanya Keluarga Cemara sangat luar biasa. Apalagi, filosofi penggalan lirik "Mutiara paling indah" itu memiliki pesan yang sangat dalam bagi Adi.

"Mutiara itu luka yang diderita tiram, tapi karena diolah terus akhirnya jadi mutiara. Begitu juga luka dalam sebuah perkawinan, kalau diolah terus itu akan menjadi mutiara untuk anak cucu itu luar biasa," kata Adi.

(arh)