Drama Korea Jadi Andalan Viu di Indonesia

tim, CNN Indonesia | Kamis, 29/08/2019 16:05 WIB
Drama Korea Jadi Andalan Viu di Indonesia Drama Korea 'Hotel del Luna', salah satu yang ditayangkan di Viu. (dok. tvN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Demam Korea yang melanda Indonesia menjadi 'bahan bakar' platform konten asal Amerika Serikat, Viu untuk hidup di Indonesia. Konten drama dari Negeri Gingseng diakui Viu jadi andalan untuk menarik penonton Indonesia.

Platform ini tergolong dikenal di antara penggemar drama Korea di Indonesia, macam Netflix bagi penyuka konten hiburan ala Hollywood. Bedanya, Viu lebih banyak menyiarkan drama dibanding memproduksi konten orisinalnya sendiri.

"Konten-konten di Viu merupakan konten Asia. Korea salah satu yang paling baik dan kami sangat senang dengan hal itu," kata Arun Prakash, Chief Operating Officer Vuclip saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Rabu (28/8).


Sejak pertama kali diluncurkan di Indonesia pada Mei 2016, Viu sudah melirik kegandrungan masyarakat Indonesia akan konten Korean Wave alias Hallyu. Hallyu sendiri, baik dari segi drama, film, maupun musik, sudah masuk ke Indonesia sejak sekitar 2009.

Kini drama-drama Korea pun menjadi senjata Viu. 

Sebut saja episode terbaru dari drama Korea terkenal, Hotel del Luna, Justice, Class of Lies, I Wanna Hear Your Song, Welcome 2 Life, sudah tayang di platform ini hanya delapan jam setelah tayang perdana di negara asalnya.

Plus, tayangan itu termasuk subtitle atau takarir berbahasa Indonesia sehingga pengguna tak perlu pusing mencerna obrolan dalam drama yang berbahasa Korea atau bertulis Hangul.

Prakash menyebut konten-konten lokal menjadi pembeda platform itu dibanding media streaming lainnya. Maka setia terhadap drama Korea pun dipilih setelah mengetahui dan mengerti permintaan pengguna platform tersebut khususnya di Indonesia.

"Kami mencari tahu dan mengerti terlebih dahulu keinginan konsumen baru membuat atau membeli lisensi tontonan yang diinginkan ke platform kami. Hal itu yang akan kami teruskan," kata Prakash.
Drama Korea Jadi 'Nyawa' Viu di IndonesiaArun Prakash, Chief Operating Officer Vuclip. (dok. VIU)
Namun bukan berarti Viu di Indonesia sama dengan yang ada di negara lain. Prakash menyebut platformnya menyesuaikan dengan keinginan di setiap negara.

Viu sendiri tercatat kini ada di 17 negara yang sebagian besar ada di Asia, dengan lebih dari 36 juta pengguna aktif bulanan dalam semester pertama 2019.

Prakash mencontohkan kondisi Afrika Selatan yang bertolak belakang dengan Indonesia. Di Afrika, drama Korea sangat minim sebab pengguna di sana lebih menginginkan tontonan lokal atau orisinal Afrika.

"Karena ketika hanya membawa konten Hollywood, itu hanya menarik satu hingga tiga persen populasi. Tapi ketika kami bawa konten lokal seperti Asia dan lainnya, itu menarik perhatian banyak pihak," ucap Prakash.

Bila ingin mempertahankan dan meningkatkan pelanggan, Prakash mengakui pihaknya mesti mengenal sifat mereka. Bagi Viu, jumlah pengguna aktif tiap bulan lebih penting dibanding total unduhan aplikasi tersebut.

Namun bukan hanya drama Korea yang Prakash dan tim sediakan di lapak mereka, sejumlah konten drama dan film asal Asia lainnya seperti Thailand dan China juga ada.

Beberapa dari konten tersebut bahkan disediakan secara gratis tanpa harus menjadi pelanggan terlebih dahulu.

Menurut Prakash, pengguna di Indonesia lebih senang yang gratis. Jelas berbeda dengan di Amerika Serikat yang masyarakat mau langsung bayar untuk berlangganan.
Drama Korea Jadi 'Nyawa' Viu di IndonesiaIlustrasi kegandrungan menyaksikan drama Korea. (CNN Indonesia/Aulia Bintang Pratama)
"Sementara di Indonesia kami percaya banyak pengguna yang ingin gratis, beberapa ingin premium hanya dalam waktu tertentu dan sedikit yang berlangganan dalam waktu lama," kata Prakash.

"Sehingga kami melihatnya secara keseluruhan ketimbang secara ekonomi," kata Prakash.

Sehingga, Prakash berharap sejumlah konten gratis tersebut bisa memancing pengguna baru yang aktif dan lebih penting lagi bisa menimbulkan keuntungan bagi bisnis konten streaming yang mereka jalankan.

"Kami bukan TVOD (transaction video on demand), kami subscription video on demand dan advertising video on demand. Kami tidak melihat keuntungan dari per judul. Kami melihat pengembalian investasinya secara keseluruhan platform." kata Prakash. (chri/end)