Ya, film yang disutradarai dan ditulis Joko Anwar ini biasa saja.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan film ini mendapat label itu. Mulai dari eksekusi cerita, logika cerita, perpindahan antar adegan, pembentukan karakter dan koreografi masih belum terasa ajek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari titik inilah kemudian narasi kepahlawanan Gundala dimulai. Tepatnya saat Sancaka bekerja sebagai petugas keamanan di perusahaan percetakan dan tinggal di rumah petakan. Perlahan ia sadar memiliki kekuatan untuk bisa melawan berbagai kejahatan. Termasuk melawan Pengkor (Bront Palarae), seorang mafia kaya yang mengoordinir sekawanan penjahat untuk melakukan berbagai pekerjaan kotor.
Sayang cerita tidak dieksekusi dengan menarik. Aksi-aksi Gundala melawan kejahatan berlangsung datar dan tidak mengundang emosi.
Salah satu masalahnya adalah sumber motivasi Sancaka menjalani peran sebagai Gundala. Jika superhero acap kali dinarasikan punya satu trauma atau momen yang kemudian memantik rasa heroisme dalam diri, Sancaka tidak demikian. Ia tak punya motivasi kuat, dan bahkan bisa disebut kebetulan belaka jika kemudian memilih jalan memerangi para penjahat. Penonton pun kurang terangsang untuk merasa bahwa Gundala benar-benar pahlawan, patriot, dan jagoan.
'Gundala' menampilkan Sancaka saat masih bocah. (Dok. Bumilangit Studios/Legacy Pictures) |
Konflik yang ditampilkan adalah kesenjangan sosial antara kaum bawah dengan kaum atas. Selain direpresentasikan oleh orang kaya raya, golongan atas ini diwakili oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Untuk memahami cerita Gundala secara utuh, butuh berpikir lebih dan menonton dengan konsentrasi.
Kelemahan lainnya adalah beberapa cerita yang bolong atau plot hole dalam film berdurasi 123 menit tersebut. Namun tampaknya hal ini disengaja agar cerita Gundala bisa berkembang ke seri-seri berikutnya di Jagat Sinema BumiLangit.
Joko Anwar menulis dan menggarap 'Gundala' berdasarkan komik Hasmi. (Dok. Bumilangit Studios/Legacy Pictures) |
Pembentukan karakternya pun terasa agak dipaksakan, terutama barisan anak buah Pengkor. Joko seperti terlalu ambisius untuk membentuk karakter-karakter yang ternyata berakhir begitu saja.
Faktor yang membuat Gundala (lagi-lagi) semakin terasa biasa saja adalah koreografi. Banyak gerakan baku hantam yang kaku dan terasa dibuat-buat karena pemain menggerakkan anggota tubuh secara perlahan. Terasa sangat hafalan. Cecep Arif Rahman yang bertanggung jawab atas koreografi tersebut tampaknya belum berada di level Iko Uwais atau Yayan Ruhian, yang mampu membuat adegan terasa nyata.
Satu nilai plusnya adalah efek visual Gundala tergolong bagus untuk film Indonesia. Hanya ada sedikit adegan yang terasa sebagai polesan. Itu pun masih nyaman dilihat dan tak mengganggu mata. Film ini juga ditopang oleh akting yang bagus dari seluruh pemain utama. Terlebih Bront Palarae yang bisa dikatakan merebut perhatian penonton dari Abimana.
Meski dengan sederet catatan tersebut, Gundala sebagai pilot project Jagat Sinema Bumilangit cukup untuk menjadi gerbang. Cukup membuat penasaran bagaimana plot hole-plot hole akan dikembangkan di masa depan, dan cukup mengapungkan harapan bahwa film kedua Gundala akan dibuat lebih baik lagi.
[Gambas:Video CNN] (vws)
'Gundala' menampilkan Sancaka saat masih bocah. (Dok. Bumilangit Studios/Legacy Pictures)
Joko Anwar menulis dan menggarap 'Gundala' berdasarkan komik Hasmi. (Dok. Bumilangit Studios/Legacy Pictures)