FOTO: Lelaku Ruwatan Bersihkan Sukerta

Adhi Wicaksono, CNN Indonesia | Sabtu, 07/09/2019 17:11 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Ruwatan sukerta menyambut Tahun Baru Islam merupakan ritual pembersihan diri yang sudah dikenal masyarakat Jawa jauh sebelum masuknya agama samawi di Indonesia.

Sebagai bagian dari rangkaian memeriahkan Tahun Baru Islam 1441 Hijriyah, ruwatan massal kembali digelar di pelataran Museum Pusaka TMII, Jakarta, Sabtu (7/9/2019). Ruwatan massal ini diikuti oleh 62 sukerto (peserta) se-Jabodetabek.
Ruwatan sukerta merupakan ritual kuno pembersihan diri yang sudah dikenal masyarakat Jawa jauh sebelum masuknya agama-agama samawi di Indonesia.
Dalam prosesi ini, anak-anak hingga yang lanjut usia mengenakan busana serba putih berbalut kain dan ikat kepala dari kain mori polos.
Di pendapa, pakeliran (layar) wayang kulit dibentangkan lengkap dengan susunan gamelan dan para penabuh gamelan beserta pesinden. Pintu masuknya berhias janur kuning, tandan pisang, dan daun beringin
Berbeda dengan wayang kulit biasa yang digelar untuk hiburan, wayang ruwatan yang lekat dengan mistisme Jawa lebih bersifat ritual sehingga tidak bisa dimainkan oleh sembarang dalang.
Dipimpin oleh Dalang Ki Slamet Hadi Santoso, dalang peruwat wajib menjalani laku spiritual sebelum pentas–-seperti puasa dan doa–-karena ia merupakan tokoh sentral dan bertanggung jawab atas prosesi ruwatan.
Ki Slamet memainkan lakon Murwakala, yakni cerita wayang khusus untuk proses peruwatan yang mengambil kisah Bathara Kala, raksasa yang jadi simbol pemangsa orang-orang sukerta dalam kisah pewayangan.
Satu per satu peserta ruwatan memasuki bilik untuk menjalani pembersihan, dalang yang memimpin membacakan doa dan menuangkan air kembang setaman ke atas kepala setiap orang yang diruwat.
Siraman air ini adalah prosesi membersihkan diri dari kotoran jiwa dan spirit jahat yang disebabkan dosa dan kesalahan masa lalu, dan dapat menjadi penghalang kesuksesan
Ada juga sukerta yang dibawa oleh seseorang sejak lahir, menurut kepercayaan Jawa.
Orang yang terlahir dengan sukerta, dalam kepercayaan Jawa, harus menjalani ruwatan untuk membebaskan diri dari kekuatan buruk yang mengelilingi dirinya.